Lovelycimutz's Blog

Pendapatan Nasional

Posted on: November 29, 2010

Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam suatu periode biasanya dalam satu tahun. Salah satu indikator telah terjadinya alokasi yang efisien secara makro adalah nilai output nasional yang dihasilkan oleh sebuah perekonomian suatu negara dalam periode tertentu. Besarnya output nasional dapat menunjukkan beberapa hal penting dalam sebuah perekonomian, yaitu :

  • Besarnya output nasional merupakan gambaran awal tentang seberapa efisien sumber daya yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang ada dalam perekonomian.
  • Besarnya output nasional merupakan sebuah alat ukur produktivitas dan tingkat kemakmuran suatu negara.
  • Besarnya output nasional merupakan gambaran tentang masalah-masalah struktural yang dihadapi perekonomian.

Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya (Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product / GNP) yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut harga pasar pada suatu negara.

Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional :

  • Produk Domestik Bruto (GDP)

Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor. Pendapatan nasional merupakan salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi suatu negara.

  • Produk Nasional Bruto (GNP)

Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.

  • Produk Nasional Neto (NNP)

Produk Nasional Neto (Net National Product) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering pula disebut replacement). Replacement penggantian barang modal / penyusutan bagi peralatan produski yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.

  • Pendapatan Nasional Neto (NNI)

Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah.

  • Pendapatan Perseorangan (PI)

Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh : pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan) dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).

  • Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)

Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu :

  • Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
  • Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).
  • Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor (X − M)

Selain bertujuan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan untuk mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode, perhitungan pendapatan nasional juga memiliki manfaat-manfaat lain, diantaranya untuk mengetahui dan menelaah struktur perekonomian nasional. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa. Contohnya, berdasarkan pehitungan pendapatan nasional dapat diketahui bahwa Indonesia termasuk negara pertanian atau agraris, Jepang merupakan negara industri, Singapura termasuk negara yang unggul di sektor jasa, dan sebagainya.

Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdaganan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi :

  • Permintaan dan penawaran agregat

Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat harga tertentu.

Konsumsi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pendapatan nasional. Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan output nasional (pendapatan nasional) dan menambah pengangguran.

  • Konsumsi dan tabungan

Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.

  • Investasi

Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat.

Terdapat tiga cara yang dapat digunakan untuk menghitung pendapatan nasional, yaitu :

  • Metode Pengeluaran

Metode ini banyak digunakan di negara-negara maju. Cara pehitungannya adalah dengan membagi sektor perekonomian menjadi beberapa sektor produksi.

  • Metode Pendapatan

Metode ini diperoleh dari pendapatan para pekerja, pendapatan dari usaha perseorangan, pendapatan dari sewa, bunga neto dan keuntungan perusahaan.

  • Metode Produksi

Metode ini diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah yang dibuat oleh sebuah perusahaan di berbagai jenis usaha.

Selain bertujuan untuk mengukur kesejahteraan suatu negara dan untuk mendapatkan data-data tentang pendapatan suatu negara, perhitungan pendapatan nasional suatu negara juga memiliki banyak tujuan antara lain untuk meneliti struktur perkonomian suatu negara.

Perhitungan Pendapatan Nasional

Ada 3 macam pendapatan perhitungan nasional :

  • Pendekatan hasil produksi (product approach)
  • Pendekatan pendapatan (income approach)
  • Pendekatan pengeluaran (expenditure approach() atau pendekatan penggunaan (end-use approach)

Cara perhitungan 1: mengumpulkan data tentang hasil akhir barang-barang dan jasa-jasa untuk suatu periode tertentu dari semua unit-unit produksi yang menghasilkan barang dan jasa tersebut.

Misalkan jumlah produk ke-1 ditandai Q1, produk ke-2,Q2 dst sampai produk ke n ditandai Qn, sedangkan untuk harga produk ke-1 ditandai P1, produk ke-2 P2 dst untuk produk ke n ditandai Pn, maka bentuk persamaan matematiknya :

NI=P1Q1 + P2Q2 +…+PnQn

Atau

NI=sigma P1 Q1

Cara perhitungan 2: Pengumpulan data pendapatan yang diperoleh oleh rumah tangga keluarga.

Cara perhitungan 3:Menjumlahkan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh keempat sektor dalam perekonomian (sektor konsumen, perusahaan, pemerintah dan sektor perdagangan luar negeri)

Pendapatan Nasional : dari harga biaya faktor ke harga pasar.

Kesamaan antara pendapatan nasional dengan produk nasional akan terjadi bila nilai pendapatan nasional dinyatakan atas dasar harga pasar, bukan atas dasar biaya faktor produksi. Perlu dicari penghubung antara pendapatan nasional atas biaya faktor produksi dengan pendapatan nasional atas dasar harga pasar.Berupa: transfer perusahaan, pajak tidak langsung, subsidi dan penyusutan.

Transfer Perusahaan

Meliputi: Semua pengeluaran perusahaan kepada sektor swasta dimana perusahaan tidak memperoleh balas jasa.

Contoh: bantuan perusahaan kepada lembaga-lembaga social/korban bencana alam, penghapusan piutang perusahaan.

Pajak Tidak Langsung

Penggolongan pajak (langsung dan tidak langsung) ditentukan oleh pengenaan beban pajak.

  • Pajak langsung (Wajib pajak menyerahkan / membayar pajak kepada pemerintah secara langsung)

Contoh : PBB

 

  • Pajak tidak langsung (Pembayaran pajak dapat dialihkan kepada pihak lain)

Contoh : pajak penjualan, cukai

Subsidi Perusahaan

Sebagai pengurang terhadap angka pendapatan nasional at factor cost untuk memperoleh angka pendapatan at market price. Penyusutan terhadap bangunan-bangunan, mesin-mesin dan perlengkapannya, kerusakan aktiva tetap perusahaan yang tidak terduga dalam perkiraan pendapatan nasional.

Beberapa Pengertian Mengenai Pendapatan Nasional

A.     Produk Domestik lawan Produk Nasional

GDP (Gros Domestic Product) atau Produk Domestik Bruto (PDB)

GNP (Gross National Product) atau Product Nasional Bruto (PNB)

NDP (Net Domestic Product)atau Produk Domestik Netto (PDN)

NNP (Net National Product) atau Produk Nasional Netto (PNN)

Produk Domestik Bruto (PDB)

Yaitu semua barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan dalam suatu Negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun)

Produk Nasional Bruto (PNB)

Yaitu semua barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh warga Negara dalam batas wilayah negaranya dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun)

PDB + pendapatan netto terhadap LN dari factor produksi = Produk Nasional Bruto

Pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi :

Nilai imbalan terhadap penggunaan sumber-sumber daya WNI di Negara lain dikurangi dengan nilai imbalan terhadap penggunaan sumber-sumber daya WNA di Negara kita.

Dari Bruto ke Netto

NDP=GDP-D

NNP=GNP-D

In=Ie-D =>In:Investasi netto

Ib:Investasi bruto

Nilai Atas Dasar Harga yang Berlaku dan Nilai Atas Dasar Harga Konstan

Vnk=Vhb x IH tahun dasar /  IH tahun yang bersangkutan

Keterangan:

Vhk: nilai variable ekonomi atas dasar harga konstan

Vhb:nilai variable ekonomi atas dasar harga yang berlaku

IH:Indeks Harga

Rumus tersebut berlaku untuk semua variable-variabel ekonomi yang menyangkut kegiatan-kegiatan atau transaksi-transaksi ekonomi, seperti: produk nasional, pengeluaran konsumsi, pengeluaran investasi, pengeluaran pemerintah, pajak, ekspor, impor dsb.

EKONOMI TERTUTUP SEDERHANA VARIABEL EKONOMIS DAN ANALISIS PENDAPATAN NASIONALNYA

Perekonomian tertutup Sederhana

Yaitu perekonomian yang tidak mengenal hubungan ekonomi dengan Negara lain.

Tidak akan timbul transaksi-transaksi ekonomi luar negeri (seperti transaksi ekspor, impor investasi luar negeri dsb).

Istilah sederhana menunjukkan bahwa perekonomian tsb tidak mengenal adanya transaksi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah.

Jadi, perekonomian tertutup sederhana:

Perekonomian tanpa hubungan ekonomi dengan Negara lain dan tanpa adanya transaksi ekonomi pemerintah, baik yang berupa pungutan pajak, pembayaran transfer pemerintah maupun pengeluaran konsumsi pemerintah.

Dalam perekonomian ini pengeluaran masyarakat keseluruhan tiap tahun/tiap satuan waktu terdiri dari pengeluaran konsumsi RT dan pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran untuk investasi.

Fungsi Konsumsi

Konsumsi yang dimaksud disini adalah pengeluaran konsumsi pemerintah (Government Expenditure / G)

Asumsi yang dipakai :

Besar kecilnya konsumsi hanya tergatung pada besar kecilnya pendapatan nasional.

Bentuk fungsi konsumsi yang berbentuk garis lurus mempunyai persamaan

C=a+cY

Keterangan :

A: besar konsumsi pada pendapatan nasional sebesar nol

C: besar marginal propensity to Consume “MPC”

Y: perbandingan antara besarnya perubahan konsumsi dengan besarnya perubahan pendapatan nasional.

C: MPC:Deltac/delta Y

MPC umumnya bernilai “lebih kecil” daripada satu, tetapi “lebih besar” daripada setengah dan bertanda “positif” “artinya bertambahnya pendapatan mengakibatkan bertambahnya konsumsi.

Fungsi Konsumsi APC dan MPC

Metode yang biasa dipakai untuk menemukan persamaan fungsi konsumsi suatu masyarakat yaitu metode ekonomitri. Jika diketahui besarnya konsumsi pd dua tingkat pendapatan nasional yang berbeda dengan fungsi konsumsi berbentuk persamaan garis lurus, dengan formula :

C = (APCn – MPC) Yn + MPC . Y

Dimana :

APCn adalah besarnya “average propensity to consume”  pada tingkat pendapatan nasional sebesar  “n”. APC merupakan perbandingan antara besarnya konsumsi pada suatu tingkat pendapatan nasional dengan besarnya tingkat pendapatan nasional itu sendiri. Jika APC pada pendapatan n sama dengan besarnya konsumsi pada pendapatan sebesar n dibagi dengan pendapatan sebesar n, Yn.

APCn =   Cn

Yn

Pembuktian rumus :

 

Yn – APCn.Yn

MPC.Yn

APCn.Yn

C

0      45

n              Y/tahun

Dari gambar di atas diketahui

a = Yn – MPC.Yn – (Yn – APCn. Yn)

= Yn – MPC.Yn – Yn + APCn. Yn

= APCn. Yn – MPC. Yn

a =   (APCn – MPC). Yn

Dari fungsi konsumsi :

C = a + cY atau       C = a + MPC.Y

Di mana      a = (APCn – MPC). Yn maka perumusan kembali dari fungsi konsumsi

C = (APCn – MPC). Yn + MPC.Y

Contoh Soal!

Diketahui  :

Pada tingkat pendapatan nasional pertahun sebesar Rp. 100 M, besarnya konsumsi Rp. 95 M pertahun. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar Rp. 120 M pertahun, besarnya konsumsi pertahun Rp. 110 M

Ditanyakan :

Tentukan fungsi konsumsinya!

BEP tercapai pada tingkat pendapatan nasional sebesar berapa?

Jawab :

APC 100 =  Cn  =  95  =  0.95

Yn     100

APC 120 =  Cn  =  110  =  0.92

Yn      120

Besarnya MPC =  Delta C  =  (C120 – C100)  =  (100 – 95)    =  15  =  0.75

Delta Y  =  (Y120 – Y100)     (120 – 100)       20

Dari rumus di atas :

C  =  (APCn – MPC). Yn + MPC. Y

=  (0.95 – 0.75). 100 + 0.75 Y

=  0.20 x 100 + 0.75 Y

C  =  20 + 0.75 Y

Tingkat pendapatan BEP terjadi jika besarnya pendapatan sama dengan besarnya pengeluaran konsumsi.

Y  =  C          Y – C = 0

Y – (20 + 0.75 Y) = 0

Y – 20 0.75 Y       = 0

Y -0.75 Y – 20      = 0

0.25 Y – 20           = 0

0.25 Y                   = 20

Y                           = 80

*Tingkat BEP Rp. 80 M pertahun.

Fungsi Saving

Saving atau tabungan merupakan bagian dari pendapatan nasional pertahun yang tidak dikonsumsi.

S = Y – C

Kalau dihubungan dengan rumus fungsi konsumsi, maka :

S = Y – C

C = a + Cy

S = Y – (a + Cy)

S = Y – a – Cy

S = Y – Cy – a

S = Y (1 – C) – a

Contoh Soal!

Diket : Fungsi konsumsi suatu masyarakat mempunyai persamaan  C = 20 + 0,75 Y

Ditanya : Hitunglah fungsi saving dari masyarakat tersebut!

Jawab :

S = Y (1-C) – a

S = Y (1-0.75) – 20

S = Y (0.25) – 20

S = 0.25 Y – 20

Marginal Propensity to Save (MPS) dan Average Propensity to Save (APS)

MPS = perbandingan antara bertambahnya saving dengan bertambahnya pendapatan nasional yang mengakibatkan bertambahnya saving tersebut.

S = MPS = Delta S

Delta Y

APS = perbandingan antara besarnya saving pada suatu tingkat pendapatan nasional besarnya pendapatan nasional bersangkutan.

APSn    =    Sn

Yn

Hubungan antara MPC dengan MPS, APC dengan APS

Hubungan antara MPC dengan MPS dapat dinyatakan sbb :

MPC + MPS = 1

Atau :

MPC = 1 – MPS

MPS = 1 – MPC

Pembuktian :

Y =   C +   S

Maka  Y =   C +   S

Jka ruas kanan dan ruas kiri masing-masing dibagi dengan Y

Y =     C +     S

Y               Y

1 =     C  +     S

Y        Y

1 = MPC + MPS

Hubungan antara APC dengan APS

APCn + APSn = 1

Atau :

APCn = 1 – APSn

APSn = 1 – APCn

Pembuktian :

Y = C +S

Yn = Cn + Sn

Jika ruas kanan dan ruas kiri masing-masing dibagi dengan Yn

Yn = Cn + Sn

Yn        Yn

1   = Cn + Sn

Yn    Yn

1 = APCn + APSn

Ekuitas Pendapatan Nasional untuk Perekonomian tertutup sederhana

Keadaan Ekuilibrium

Dari segi sumber atau asalnya pendapatan nasional terdiri dari konsumsi dan investasi. Atau C + I = Y

Dari sudut penggunannya pendapatan nasional sebagian digunakan untuk pengeluaran konsumsi, dan selebihnya ditabung, atau Y = C + S.

Apabila pendapatan dalam periode 0 digunakan dalam periode 1, pendapatan nasional periode 1 digunakan untuk periode 2, pendapatan periode 2 digunakan untuk periode 3 dst, maka hubungan konsumsi, investasi, saving dan pendapatan nasional adalah sbb :

Co + Io = Yo

Yo = C1 + S1

C1 + I1 = Y1

Y1 = C2 + S2

C2 +  I2 = Y2

Y2 = C3 + S3

C3 +  I3 = Y3

dst.

Pendapatan Nasional Ekuilibrium

Y1 tingkat pendapatan nasional dimana tidak ada kekuatan ekonomi yang mempunyai tendensi untuk mengubahnya.

Keadaan teresbut akan terjadi dengan syarat :

Yo = Y1 = Y2 = Y3 = Y4 dst.

Co = C1 = C2 = C3 = C4 dst.

So = S1 = S2 dst.

Kalau S1 = I1, maka Yo = Y1, kalau S2 = I2, maka Y1 = Y2 dst.

Kesimpulan :

Pendapatan nasional akan mencapai ekuilibrium dengan syaarat :

S = I

Cara menemukam formula untuk menghitung tingkat pendapatan nasional ekuilibrium

1. dengan menggunakan persamaan :

Y = C + I

C = a + cY

Maka   Y = a + cY + I

Y – cY   = a + I

(1 – c)Y = a + I

Y =    1    (a + I)

(1 – c)

2. dengan persamaan :

S = I

Y – C = I

Y – (a + cY) = I

Y – a – cY    = I

Y – cY         = a + I

(1 – c)Y        = a + I

Y        =    1      (a +I)

1 – c

Contoh soal :

Diketahui        : a) Fungsi konsumsi perth C = 0,75 Y + 20 m.rp

b) Besar investasi perth    I  = 40. m. rp

Ditanya           : a) Hitung besarnya pendapatan nasional ekuilibrium

b) Hitung besarnya konsumsi ekuilibrium

c) Hitung besarnya saving ekuilibrium

Jawab              : a) Y =    1        (20 + 40)

1 – 0,75

Y = 4 (60)

Y = 240

b) C = 0,75 Y + 20

C = 0,75 (240) + 20

C = 180 + 20

C = 200

c) S = Y – C

S = 240 – 200

S = 40

Angka Pengganda

Kalau besarnya investasi tidak sama dengan besarnya saving, maka akan terjadi ketidak seimbangan dalamm perekonomian, yang berarti baik pendapatan nasional, konsumsi maupun saving berada dalam keadaan “ekuilibrium”.

Hubungan antara perubahan investasi dan perubahan pendapatan nasional ekuilibrium yang disebabkan oleh perubahan investasi dibahas dalam konsep-konsep angka pengganda.

y1. Angka pengganda investasi/ investment multiplier)

Angka pengganda/ multiplier

y1. Bilangan dengan mana investasi harus kita kalikan, apabila kita ingin mengetahui besarnya perubahan pendapatan nasional ekuilibrium yang diakibatkan oleh perubahan investasi.

Kalau “K” menunjukkan besarnya angka pengganda, maka :

Y = K .    I

K =    Y

I

Disamping angka pengganda investasi, dikenal juga : angka pengganda pajak, angka pengganda pengeluaran konsumsi pemerintah, angka pengganda transfer pemerintah dsb.

Cara menemukan rumus angka pengganda investasi (   Y = K .     I       )

Jika tambahan investasi sebesar I, mengakibatkan pendapatan nasional berubah dari Y menjadi Y +    Y, maka :

Y +    Y =    1     ( a + I +    I )

1 – c

Y +   Y =     1     (a + I) +    1     .    I

1 – c                   1 – c

Jika ruas kanan dan ruas kiri dikurangi dengan Y yang besarnya = 1     (a + I)

1 – c

Maka hasilnya :

Y =     1     .    I

1 – c

Y = K =    1

I             1 – c

Kesimpulan :

Angka pengganda investasi :

K1 =   Y  =      1          atau =      1        =       1

I           1 – c                1 – MPC      1 – MPS

Contoh soal:

Diketahui :

a)    Fungsi konsumsi tahunan : C=0,75Y + 20 m.rp

b)    Pada periode 1 besarnya investasi per tahun 40 m.rp

c)     Pada periode 2 besarnya investasi per tahun 80 m.rp

Ditanya : Dengan menggunakan angka pengganda, hitung besarnya pendapatan nasional ekuilibrium pada periode ke-2?

Jawab :

        Besar angka pengganda investasi

K1 =   =   = 4

        Besar perubahan investasi

∆I = I2 – I1 = 80 – 40 = 40

        Pendapatan nasional  ekuilibrium periode 1

Y =    (a+I) =  (20 + 40) = 240

        Pendapatan nasional ekuilibrium periode 2

Y2 = Y1 + ∆Y = Y1 + K1∆I

= 240 + 4 (40)

= 400

Hubungan antara perbahan-perubahan dalam pendapatan nasional dengan perubahan-perubahan dalam konsumsi dan saving :

                                                                        Konsumsi

C1 = C0 + ∆C

∆C = MPC · ∆Y          → MPC =              =>      C1 = C0 + MPC · ∆Y

                                  Saving

S1 = S0 + ∆S

∆S = MPS · ∆Y     → MPS =

   S1 = S0 + MPS · ∆Y

Karena :  MPS + MPC = 1,   Maka :

S1 = S0 + ( 1 – MPC ) · ∆Y

Contoh soal :

Diketahui :

a)    Fungsi konsumsi C = 0,75 Y + 20 m.rp

b)    Pada periode sebelum 1981 besanya investasi/thn 40 m.rp

c)     Pada periode sesudah 1980 besanya investasi/thn 60 m.rp

Ditanya : Dengan menggunakan angka pengganda, hitung besarnya pendapatan nasional ekuilibrium baru dan saving ekuilibrium baru?

Jawab :

a)    Besarnya angka pengganda investasi

K1 =  =  = 4

∆I = I1 – I0 = 60 – 40 = 20 m.rp

b)               Pendapatan nasional ekuilibrium pada periode sebelum tahun 1981 (dianggap sebagai periode “0”)

Y0 =  ( a + I )

Y0 =  ( 20 + 40) = 240

Pendapatan nasional ekuilibrium pada periode sesudah thn 80 (sbg periode “1”)

Y1 = Y0 + kr ∆I = 240 + 4 (20) = 320

c)     Konsumi ekuilibrium yang baru

C0 = 0,75 Y + 20 = 0,75(240) + 20

= 200

C1 = C0 + MPC · ∆Y = 200 + 0,75 (320 – 240 )

= 200 + 0,75 (80)

= 200 + 60 = 260

d)    Saving ekuilibrium lama

S0 = -a + ( 1- c ) Y

= -20 + ( 1 – 0,75 ) 240

= -20 + (0,25) 240

= -20 + 60 = 40

Saving ekuilibrium baru = periode sesudah tahun 1980

S1 = S­­0 + MPS · ∆Y

= 40 + 1 ( 1 – 0,75 ) ( 320 – 240 )

= 40 + ( 0,25 ) ( 80 )

= 40 + 20 = 60

Produksi Nasional

Besar kecilnya jumlah barang dan jasa yang dapat dihasilkan oleh suatu perekonomian tergantung pada : besar kecilnya kapasitas produksi nasional.

Besar kecilnya kapasitas produksi nasional tergantung pada komposisi, kualitas, dan kuantitas factor-faktor produksi dalam perekonomian tersebut.

Macam – macam factor produksi

a.     Factor produksi alam/ SDA (natural resources)

b.     Factor produksi tenaga kerja/ SDM (human resources)

c.     Factor [roduksi capital/ SDmodal (capital resources)

Tingginya kapasitas produksi nasional yang dipergunakan disebut dengan “ tingkat employment”

                Penggunaan kapasitas produksi secara penuh : full employment

                Penggunaan kapasitas produksi hanya sebagian/ ada sebagian ari kapasitas produksi yang menganggur tidak terpakai : under employment

Over employment terjadi bila :

                Kapasitas produksi nasional sudah dalam penggunan penuh, tetapi permintaan barang – barang dan jasa-jasa secara total masih terus bertambah.

                Dalam keadaan seperti ini jumlah tidak lagi dapat bertambah, umumnya yang mengalami perubahan adalah pengalokasian kembali factor – factor produksi / reallocation of resource.

                Over employment bertndensi menimbulkan inflasi.

Inflationary Gap dan Deflationary Gap

Untuk mengetahui gambaran tentang sejauh mana tingkat employment yang terjadi menyimpang dari kapasitas produksi yang ada.

Semakin besar angka inflantionary gap ( celah inflasi ) berate semakin besar over employmentnya.

               Inflationary Gap

Yaitu besarnya perbedaan antara jumlah investasi yang terjadi dengan besarnya full employment saving ( saving pada tingkat employment ) , di mana besarnya investasi melebihi besarnya full employment saving.

Semakin besar angka deflationary gap ( telah deflasi ) berarti semakin jauh tingkat employment berada di bawah full employment, dengan kata lain tingkat pengangguran semakin besar.

               Deflationary Gap

Yaitu angka tang menunjukan besarnya perbedaan antara investasi yang terjadi dengan full employment saving, dimana besarnya investasi “ lebih kecil “ dibandingkan dengan full employment saving.

Contoh soal :

Diketahui :

Fungsi konsumsi pertahun : C = 0,75 Y + 20 m.rp

Besarnya investasi pertahun : I = 40 m.rp

 

Ditanyakan :

a.            Hitung besarnya inflantionary gap dan deflationary gap, jika diketahui perekonomian mempunyai kapasitas produksi 200 m.rp/tahun

b.            Hitung besarnya inflantionary / deflationary gap bila diketahui besarnya kapasitas peroduksi nasional 280 m.rp

Jawab :

a.            Perekonomian dengan kapasitas produksi 200 m.rp /th dengan fungsi konsumsi

C = 0,75 Y + 20 m.rp

Besarnya full employment saving :

S = Y – C = 200 – ( 0,75 * 200 + 20 )

= 200 – 170 = 30 m.rp/thn

Besarnya inflantionary gap

I · G = investasi – full employment saving

=  40 m.rp – 30 m.rp = 10 m.rp

b.            Perekonomian dengan kapasitas produksi 280 m.rp/thn , akan mempunyai full employment saving sebesar :

S = Y – C = 280 – (0,75 * 280 + 20 )

= 280 – 230

= 50 m.rp

Besarnya deflationary gap

D.G . = full employment saving – investasi

= 50 m.rp – 40 m.rp

= 10 m.rp

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Berita Gunadarma

  • ERROR: Tried to load source page, but remote server reported "404 Not Found".
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: