Lovelycimutz's Blog

Pasar Modal

Posted on: April 17, 2011

 Pada dasarnya, pasar modal mirip dengan pasar-pasar lain. Untuk setiap pembeli yang berhasil, selalu harus ada penjual yang berhasil. Jika orang yang ingin membeli jumlahnya lebih banyak daripada yang ingin menjual, harganya akan menjadi lebih tinggi.  Bila tidak seorang pun yang membeli dan banyak yang mau menjual, harga akan jatuh. Yang membedakan pasar modal dengan pasar-pasar yang lain adalah komoditi yang diperdagangkan. Pasar modal dapat dikatakan pasar abstrak, di mana yang diperjualbelikan adalah dana-dana jangka panjang, yaitu dana yang keterikatannya dalam investasi lebih dari satu tahun.

Definisi pasar modal yaitu tempat untuk mentransaksikan modal jangka panjang, di mana permintaan diwakili oleh perusahaan penerbit surat berharga dan penawaran diwakili oleh para investor. Meskipun demikian kata tempat di sini tidak mewakili lokasi sebagaimana layaknya pasar konvensional sebab transaksi tidak selalu dilakukan di lokasi tertentu yang permanen. Bahkan dengan perkembangan e-bussiness, transaksi di pasar modal juga bisa dilakukan di dunia maya, melalui internet trading. Demikian pula yang dimaksud modal disini bukan dalam artian fisik uang, melainkan uang yang sudah direpresentasikan dalam bentuk surat berharga, yaitu saham dan obligasi serta turunannya.

Pasar modal memiliki peranan penting dalam kegiatan ekonomi. Dibanyak negara, terutama di negara-negara yang menganut sistem ekonomi pasar, pasar modal telah menjadi salah satu sumber kemajuan ekonomi sebab pasar modal dapat menjadi sumber dana alternatif bagi perusahaan. Padahal perusahaan-perusahaan ini merupakan salah satu agen produksi yang secara nasional akan membentuk gross domestic product (GDP). Jadi, dengan berkembangnya pasar modal, akan menunjang peningkatan GDP atau mendorong kemajuan ekonomi suatu negara.

Jika kita mengamati perkembangan pasar modal di negara maju, ternyata pasar modal mempunyai peranan yang sangat penting, baik dari sisi permintaan modal dari perusahaan yang biasa disebut emiten, maupun sisi penawaran oleh pemilik modal yaitu masyarakat yang biasa disebut investor. Sepertinya keduanya sama-sama mendapatkan keuntungan sehingga pasar modal dapat terus berkembang. Bahkan pasar modal dijadikan tolak ukur kemoderenan. Artinya, suatu bangsa atau negara baru berhak menyandang predikat modern kalau pasar modalnya maju.

Salah satu kelebihan pasar modal adalah kemampuannya dalam menyediakan modal jangka panjang dan tanpa batas. Dengan demikian untuk membiayai investasi dengan proyek jangka panjang dan memerlukan modal besar, sudah selayaknya para pengusaha menggunakan dana-dana dari pasar modal. Sedangkan untuk membiayai investasi jangka pendek, seperti kebutuhan modal kerja dapat digunakan dana-dana dari perbankan.

Pasar modal juga memiliki banyak manfaat yang selama ini belum diperhatikan, antara lain :

-          Menjadikan manajemen profesional

Bagi emiten dengan memasuki pasar modal akan mendorong pemanfaatan manajemen yang profesional karena perusahaan yang sudah go public akan terus menjadi sorotan masyarakat. Tentu saja untuk mendapatkan sorotan positif, perusahaan harus berprestasi baik. Untuk bisa berprestasi perusahaan harus dikelola oleh tenaga-tenaga yang profesional. Kalau semua sudah go public, berarti semua perusahaan akan profesional. Hal demikian bukan beratri perusahaan yang dimiliki keluarga tidak dimungkinkan dikelola dengan manajemen profesional. Perusahaan keluarga bisa saja dikelola dengan manajemen profesional, dengan menempatkan para tenaga profesional di sisi manajemen. Namun dalam tradisi perusahaan keluarga, selalu ada resitensi dari anggota keluarga sehingga penempatan orang luar di sisi manajemen perusahaan keluarga justru sering menimbulkan konflik. Sebaliknya jika perusahaan sudah go public, konflik pada penempatan posisi pimpinan perusahaan dapat dihindarkan, sebab semuanya kana ditentukan oleh apa yang disebut RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

-          Solusi sukses

Kebanyakan perusahaan keluarga didirikan oleh seseorang yang bertindak sebagai enterpreneur. Pemula ini begitu berani bertualang dan berani menghadapi berbagai macam resiko sehingga sering kita jumpai usaha selalu jatuh bangun dalam meladeni persaingan keras dalam bidang industri. Pemula bekerja sendiri dengan modal yang kecil pula. Rata-rata usaha itu mulai dapat berkembang, dalam arti bisa menghasilkan keuntungan yang lumayan, ketika enterpreneur itu sudah berusia 50 atau 60 tahunan. Biasanya pada saat itu sang enterpreneur mulai tidak berani bermain-main lagi dengan resiko, dia lebih cenderung bersikap konservatif dan segala tindakannya diarahkan pada pengamanan hartanya.

Ada beberapa kemungkinan yang dilakukan enterpreneur pada masa uzur ini, antara lain :

  1. Mewariskan usaha pada anaknya
  2. Menyerahkan pada orang dalam perusahaan
  3. Memperkecil omzet
  4. Menjual perusahaan pada orang lain
  5. Go public

-          Alternatif investasi

Jika dilihat komposisi investasi masyarakat terutama di Indonesia, maka sebagian besar tertanam di dunia perbankan. Investasi di bank memang sudah baik, namun untuk lebih produktif dan menyebar resiko maka diperlukan investasi di tempat lain, salah satunya di pasar modal dengan membeli saham atau obligasi. Dewasa ini, suku bungan yang diberikan bank tidak terlalu tinggi, bahkan sering kali penabung malah merugi setelah pendapatan dari suku bunga itu dikurangi inflasi, pajak dan biaya bank lainnya. Oleh karena itu investasi di pasar modal bisa menjadi altenatif mengembangkan kekayaan masyarakat. Bagi investor, menginvestasikan dananya di pasar modal juga mendapatkan keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh bank, yaitu berupa pembayaran deviden, yang bukan tidak mungkin bisa melampaui jumlah bunga yang dibayarkan oleh bank atas nilai investasi yang sama meskipun keuntungan ini juga diiringi resiko yang tidak kecil.

-          Alternatif sumber dana

Sama dengan posisi investasi masyarakat, posisi pendanaan perusahaan di Indonesia sebagian besar masih bertumpu pada perbankan. Pendanaan dengan menggunakan pasar modal dapat digolongkan sebagai sumber pendanaan modern. Sesudah pasar modal memang berkembang sumber-sumber pembiayaan yang lain, seperti venture capital, factoring dan yang lainnya. Akan tetapi sumber-sumber pembiayaan yang disebut belakangan belum disambut seperti pasar modal, dalam arti pemanfaatannya belum seluas pasar modal. Ini menyebabkan sumber-sumber pembiayaan kurang besar perannya dalam perekonomian suatu negara. Satu keunggulan penting yang dimiliki pasar modal dibanding bank adalah untuk mendapatkan dana, sebuah perusahaan tidak perlu menyediakan agunan sebagaimana dituntut oleh bank. Hanya dengan menunjukan prospek yang baik, maka surat berharga perusahaan akan laku terjual dipasaran.

-          Indikator ekonomi makro

Pasar modal juga dijadikan indikator ekonomi makro suatu negara. Naik turunnya indeks suatu bursa dapat dibaca sebagai cermin dinamika ekonomi negara tersebut. Itulah sebabnya, dalam publikasi indikator kunci suatu negara sering kita jumpai data tentang indeks harga saham. Bila orang menilai keadaan perekonomian suatu negara, maka dia akan juga melihat perkembangan indeks harga saham disamping angka inflasi, neraca transaksi berjalan, pertumbuhan PDB dan data-data ekonomi makro lainnya. Memang menilai kondisi pasar modal tidak bisa dilepaskan dari penilaian keseluruhan. Secara teori, kondisi pasar modal sangat dipengaruhi oelh penampilan ekonomi secara agregate. Secara logika pun, hubungan antara pasar modal dengan ekonomi makro menunjukan korelasi positif.

Di Indonesia, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) merupakan indeks yang merangkum perkembangan harga-harga saham di BEI (Bursa Efek Indonesia). Apakah IHSG ini bisa dibaca sebagai gambaran ekonomi nasional Indonesia? Tentu saja bisa. Jadi kalau IHSG menunjukkan peningkatan, ini menjelaskan ekonomi Indonesia sedang dalam siklus membaik. Sebaliknya jika menurun, ini menjelaskan ekonomi Indonesia sedang mengalami kesulitan.

Perkembangan pasar modal Indonesia ternyata mengalami pasang surut, seirama dengan perjalanan negara dan bangsa Indonesia. Pada zaman penjajahan Belanda, pasar modal Indonesia pernah mengalami pasang. Kemudian seiring dengan berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia, pasar modal juga mengalami kemunduran. Selanjutnya saat Indonesia mengalami kemelut tahun 1960-an, pasar modal juga tidak bisa menunjukkan aktivitas yang baik. Catatan terakhir menunjukkan pasar modal di Indonesia mengalami masa pasang ketika pembangunan ekonomi yang dilakukan sejak Orde Baru mulai menunjukkan hasil pada akhir tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Pada tahun 1997, ekonomi Indonesia dilanda krisis moneter yang menyebabkan pasar modal juga terkena imbasnya.

Era Penjajahan

Dalam usaha mengembangkan perekonomian, pemerintah kolonial Belanda sekitar awal abad 19 membangun perkebunan secara besar-besaran di tanah jajahan Indonesia. Sebagai salah satu sumber dana yang digunakan untuk pembangunan itu adalah dari para penabung yang telah dikerahkan sebaik-baiknya. Para penabung terdiri atas orang-orang Belanda dan Eropa lainnya, yang penghasilannya jauh lebih tinggi sekitar 50 hingga 100 kali lipat penghasilan penduduk pribumi. Untuk keperluan penghimpunan dana tersebut, maka timbul pikiran untuk mendirikan pasar modal di Batavia (Jakarta). Setelah mengadakan persiapan, maka berdirilah Vereniging Voor de Effectenhandel (bursa efek), dan sekaligus memulai perdagangan efek pada tanggal 14 Desember 1912. Pada saat awal ada 13 anggota bursa yang aktif. Efek yang diperjualbelikan adalah saham dan obligasi perusahaan perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang dikeluarkan pemerintah, sertifikat saham perusahaan Amerika yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda dan efek perusahaan Belanda lainnya.

Era Orde Lama

Setahun setelah pemerintahan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia yaitu pada tahun 1950, obligasi RI diterbitkan oleh pemerintah. Peristiwa ini mulai menandai aktifnya kembali pasar modal Indonesia. Didahului dengan terbitnya UU Darurat No. 13, tanggal 1 September 1951, akhirnya tanggal 31 Juni 1952, bursa efek Indonesia dibuka kembali di Jakarta setelah terhenti selama kurang lebih 12 tahun. Penyelenggaraannya diserahkan kepada perserikatan perdagangan uang dan efek-efek (PPUE), yang terdiri atas 3 bank negara dan beberapa pialang efek lainnya dengan Bank Indonesia sebagai penasihat. Sejak itu bursa efek berkembang pesat, meskipun yang diperdagangkan adalah efek yang ditebitkan sebelum Perang Dunia II. Barangkali ini dapat dikatakan masa pasang bagi pasar modal Indonesia di zaman Orde Lama. Keadaan seperti itu hanya berlangsung sampai tahun 1958. Akibat politik konfrontasi yang dilancarkan oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap Belanda, maka hubungan ekonomi kedua negara ikut terganggu. Sengketa Irian jaya serta memuncaknya aksi pengambilalihan semua perusahaan Belanda di Indonesia, sesuai dengan UU Nasional No. 86 tahun 1958, kemudian disusul dengan instruksi dari Badan Nasionalisasi Perusahaan Belanda pada tahun 1960 tentang larangan bagi bursa efek Indonesia untuk memperdagangkan semua efek perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, termasuk semua efek yang bernominasi mata uang Belanda, makin memperparah perdagangan efek Indonesia.

Era Orde Baru

Langkah pertama yang diambil pemerintah Orde Baru adalah menahan dan membuat perekonomian Indonesia normal kembali. Kebijaksanaan ini mampu mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap nilai mata uang rupiah, ini merupakan kesempatan untuk menghimpun dana masyarakat. Dengan Surat keputusan Direksi BI No. 4/16 Kep. Dir. Tanggal 26 Juli 1968 di Bank Indonesia dibentuk Tim Persiapan Pasar Uang dan Modal (PUM). Tim ini bertugas mengumpulkan data dan memberikan usul kepada gubernur bank sentral untuk mengembangkan pasar modal di Indonesia. Karena tim persiapan PUM telah melaksanakan tugasnya dengan baik, maka tim dibubarkan sekaligus dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. Kep-02/MK/IV/1970 maka didirikan tim pasar uang dan modal yang diketuai gubernur bank sentral dengan tugas :

-          Membantu menteri keuangan mempersiapkan langkah-langkah ke arah pelaksanaan pengembangan PUM

-          Mengaktifkan kembali bursa efek

Pada zaman orde baru ini, perkembangan pasar modal dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu periode 1977-1987 dan periode 1988-1997. Perkembangan pasar modal tahun 1977-1987 relatif kurang memberikan hasil seperti yang diharapkan, meskipun pemerintah telah memberikan fasilitas kepada perusahaan yang memanfaatkan dana dari bursa efek. Fasilitas itu antara lain : fasilitas perpajakan (tax holiday) dan reevaluasi aktiva tetap. Tersendatnya perkembangan pasar modal selama periode itu disebabkan oleh beberapa masalah, antara lain mengenai prosedur emisi saham dan obligasi yang terlalu ketat, adanya batasan fluktuasi harga saham, campur tangan pemerintah dalam penetapan harga saham di pasar perdana, dan lain sebagainya.

Era Reformasi

Di era reformasi ada 4 peristiwa penting yang pantas dicatat sebagai sejarah pasar modal Indonesia, yaitu krisis moneter, indeks menembus angka 3 digit, merger dan bursa berganti nama. Pada pertengahan 1997, Indonesia tertular krisis moneter di Thailand, bahkan derita yang disandang Indonesia jauh lebih sakti dibanding Thailand, kondisi ini sangat berdampak besar bagi pasar modal Indonesia. Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dari Rp. 2000-an menjadi di atas Rp. 10000-an, membuat pasar modal Indonesia tidak menarik sebab banyak perusahaan yang sudah terdaftar di bursa menjadi merosot kinerjanya, bahkan negatif modalnya. Ini menyebabkan merosotnya harga-harga saham sehingga membuat investor merugi. IHSG sudah mencapai di atas 700-an, anjlok dan tinggal sedikit di atas 200-an.

Pasar modal dibedakan menjadi 2 yaitu pasar perdana dan pasar sekunder :

1.     Pasar Perdana ( Primary Market )

Pasar Perdana adalah penawaran saham pertama kali dari emiten kepada para pemodal selama waktu yang ditetapkan oleh pihak penerbit (issuer) sebelum saham tersebut belum diperdagangkan di pasar sekunder. Biasanya dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 6 hari kerja. Harga saham di pasar perdana ditetukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang go public berdasarkan analisis fundamental perusahaan yang bersangkutan. Dalam pasar perdana, perusahaan akan memperoleh dana yang diperlukan. Perusahaan dapat menggunakan dana hasil emisi untuk mengembangkan dan memperluas barang modal untuk memproduksi barang dan jasa. Selain itu dapat juga digunakan untuk melunasi hutang dan memperbaiki struktur pemodalan usaha. Harga saham pasar perdana tetap, pihak yang berwenang adalah penjamin emisi dan pialang, tidak dikenakan komisi dengan pemesanan yang dilakukan melalui agen penjualan.

2.     Pasar Sekunder ( Secondary Market )

Pasar sekunder adalah tempat terjadinya transaksi jual beli saham di antara investor setelah melewati masa penawaran saham di pasar perdana, dalam waktu selambat-lambatnya 90 hari setelah ijin emisi diberikan maka efek tersebut harus dicatatkan di bursa. Dengan adanya pasar sekunder para investor dapat membeli dan menjual efek setiap saat. Sedangkan manfaat bagi perusahaan, pasar sekunder berguna sebagai tempat untuk menghimpun investor lembaga dan perseorangan. Harga saham pasar sekunder berfluktuasi sesuai dengan ekspetasi pasar, pihak yang berwenang adalah pialang, adanya beban komisi untuk penjualan dan pembelian, pemesanannya dilakukan melalui anggota bursa, jangka waktunya tidak terbatas. Tempat terjadinya pasar sekunder di dua tempat, yaitu :

  • Bursa reguler

Bursa reguler adalah bursa efek resmi seperti Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan Bursa Efek Surabaya (BES)

  • Bursa paralel

Bursa paralel atau over the counter adalah suatu sistem perdagangan efek yang terorganisir di luar bursa efek resmi, dengan bentuk pasar sekunder yang diatur dan diselenggarakan oleh Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek-efek (PPUE), diawasi dan dibina oleh Bapepam. Over the counter karena pertemuan antara penjual dan pembeli tidak dilakukan di suatu tempat tertentu tetapi tersebar diantara kantor para broker atau dealer.

Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham, yaitu :

  • Dividen

Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai – artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

  • Capital Gain

Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.

Salah satu contoh produk pasar modal adalah obligasi. Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan.

Obligasi memiliki beberapa jenis yang berbeda, yaitu :

1.      Dilihat dari sisi penerbit

  • Corporate Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
  • Government Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
  • Municipal Bond : obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).

2.      Dilihat dari sistem pembayaran bunga

  • Zero Coupon Bonds : obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo.
  • Coupon Bonds : obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
  • Fixed Coupon Bonds : obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.
  • Floating Coupon Bonds : obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.

3.      Dilihat dari hak penukaran

  • Convertible Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.
  • Exchangeable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
  • Callable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
  • Putable Bonds : obligasi yang memberikan hak kepada investor  yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

4.      Dilihat dari segi jaminan atau kolateralnya

  • Secured Bonds : obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah:

- Guaranteed Bonds : Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin denan penanggungan dari pihak ketiga.

- Mortgage Bonds : obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik atas properti atau asset tetap.

- Collateral Trust Bonds : obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.

  • Unsecured Bonds : obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.

5.      Dilihat dari segi nilai nominal

  • Konvensional Bonds : obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.
  • Retail Bonds : obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.

6.      Dilihat dari segi perhitungan imbal hasil

  • Konvensional Bonds : obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem kupon bunga.
  • Syariah Bonds : obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi syariah, yaitu :

- Obligasi Syariah Mudharabah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten.

- Obligasi Syariah Ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan

Karakteristik Obligasi :

  • Nilai Nominal (Face Value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.
  • Kupon (the Interest Rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi dinyatakan dalam annual prosentase.
  • Jatuh Tempo (Maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau Nilai Nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi Kupon / bunga nya.
  • Penerbit / Emiten (Issuer) Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi Obligasi Ritel. Mengukur resiko / kemungkinan dari penerbit obigasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (disebut default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PEFINDO atau Kasnic Indonesia.

Pelaku pasar modal adalah seluruh unsur, bisa individu atau organisasi yang melakukan kegiatan di bidang pasar modal sehingga pasar modal bisa melakukan kegiatan seperti yang kita lihat sehari-hari. Menurut bidang tugasnya, pelaku pasar modal dikelompokkan menjadi :

  1. Pengawas

Untuk tugas pengawasan secara resmi dilakukan oleh BAPEPAM LK (Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan). Bapepam LK adalah lembaga pemerintah di bawah Departemen Keuangan. Bertugas membuat peraturan-peraturan sebagai pedoman bagi seluruh pelaku pasar modal. Selanjutnya, Bapepam LK mengawasi pelaksanaan peraturan yang telah dibuat tersebut dan bila terjadi pelanggaran, Bapepam LK akan memberikan sanksi. Bapepam dan Lembaga Keuangan terdiri dari 1 Ketua Badan dan membawahi 1 Sekretariat dan 12 Biro Teknis, dimana lingkup pembinaan dan pengawasan meliputi aspek pasar modal, dana pensiun, perasuransian, perbankan dan usaha jasa pembiayaan serta modal ventura.

Biro teknis Bapepam-LK terdiri atas:

  • Biro Perundang-Undangan dan Bantuan Hukum
  • Biro Riset dan Teknologi Informasi
  • Biro Pemeriksaan dan Penyidikan
  • Biro Pengelolaan Investasi
  • Biro Transaksi dan Lembaga Efek
  • Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa
  • Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil
  • Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan
  • Biro Perbankan, Pembiayaan, dan Penjaminan
  • Biro Perasuransian
  • Biro Dana Pensiun
  • Biro Kepatuhan Internal
  1. Penyelenggara Bursa

Yang mempunyai tugas menyelenggarakan bursa adalah bursa efek. Di Indonesia sekarang ini hanya ada 1 bursa yaitu Bursa Efek Indonesia. Tugas utama bursa adalah menyediakan fasilitas perdagangan agar proses transaksi bisa berjalan dengan fair dan efisien. Untuk bisa menjalankan tugas ini, BEI terus memperbaiki teknologi yang dimilikinya.

  1. Pelaku Utama

Pelaku inti transaksi di pasar modal adalah investor dan emiten. Secara lengkap para pelaku utama terdiri atas : emiten, investor, underwriter, pialang, manajer investasi dan penasihat investasi.

Emiten

Emiten adalah perusahaan swasta atau BUMN yang mencari modal dari bursa efek dengan cara menerbitkan efek (saham, obligasi atau waran).

Peran emiten adalah :

-          Menerbitkan efek yang kemudian dijual kepada investor guna mendapatkan modal.

-          Untuk bisa menerbitkan efek yang laku dijual, emiten harus memiliki prestasi yang  baik dan tidak cacat hukum.

-          Emiten merupakan sumber pertama informasi efeknya. Kebenaran informasi melalui emiten merupakan tanggung jawab emiten yang bersangkutan.

Investor

Investor adalah individu yang membelanjakan uangnya di pasar modal. Peranan investor antara lain :

-          Investor merupakan sumber aktivitas bursa efek. Sebab dengan adanya uang yang dibelanjakan investor do pasar modal, pialang dapat mendapatkan order jual / beli.

-          Dalam melakukan investasi, investor dapat meminta informasi dari pihak berkepentingan, seperti emiten dan penjami emisi.

-          Meskipun investor bisa mendapatkan informasi dari berbagai pihak, namun keputusan investasi tetap berada di tangan investor.

-          Investor mempunyai tanggaung jawab terhadap resiko yang terjadi.

Penjamin Emisi

Penjamin emisi adalah perusahaan swasta atau BUMN yang menjadi penanggung jawab atas terjualnya efek emiten kepada investor. Peranan penjamin emisi, yaitu :

-          Menjamin terjualnya efek yang diterbitkan emiten.

-          Besarnya jaminan tergantung pada perjanjian emiten dengan penjamin emisi.

-          Besarnya tanggung jawab penjamin emisi tergantung pada peranannya dalam proses penawaran umum.

Pialang

Pialang/broker adalah perusahaan swasta / BUMN yang aktivitas utamanya melakukan penjualan atau pembelian efek di pasar sekunder. Peranan pialang, yaitu :

-          Menjadi anggota bursa sehingga mempunyai hak melakukan transaksi di bursa tersebut.

-          Melakukan transaksi efek untuk keperluan perusahaan sendiri atau investor.

-          Melakukan riset atau memberikan nasihat kepada investor.

-          Melakukan pemasaran untuk mencari investor sehingga bisa meningkatkan investor saham.

Manajer Investasi

Manajer investasi adalah perusahaan yang kegiatannya menyelenggarakan pengelolaan portifolio efek. Perusahaan inilah yang menerbitkan sertifikat reksadana. Peranan MI, yaitu :

-          MI bisa mewujudkan skala ekonomi dalam berinvestasi.

-          MI mempunyai peranan mengaktifkan perdagangan di bursa efek.

-          MI bisa meningkatkan jumlah pemodal dengan ketersediaan tenaga pemasaran.

Penasihat Investasi

Penasihat investasi adalah perusahaan yang kegiatan usahanya memberikan nasihat, membuat analisis dan membuat laporan mengenai efek kepada pihak lain. Adapun peranan PI adalah mempermudah dalam pengambilan keputusan untuk membentuk portofolio, misalnya berapa persen dana yang diinvestasikan pada saham.

Lembaga penunjang pasar modal yang membantu penerbitan efek, antara lain :

  1. a.      Biro Administrasi Efek

Perusahaan yang berdasarkan kontrak tertentu dengan emiten menyediakan jasa pelaksanaan pembukuan, transfer dan pencatatan dan pemabayaran deviden.

  1. b.     Tempat Penitipan Harta (TPH)

Perusahaan yang memberikan jasa menyelenggarakan penyimpanan harta yang dititipkan oleh pihak lain.

  1. c.      Wali Amanat

Perusahaan yang dipercaya untuk mewakili kepentingan seluruh investor obligasi atau sekuritas kredit.

Kegiatan wali amanat meliputi :

  • Menilai kekayaan emiten.
  • Menganalisis kemampuan emiten.
  • Melakukan pengawasan dan perkembangan emiten.
  • Memberi nasehat kepada para investor dalam hal yang berkaitan dengan emiten.
  • Memonitor pembayaran bunga dan pokok obligasi.
  • Bertindak sebagai agen pembayaran.
  1. d.     Penanggung

Perusahaan yang menanggung kembali pembayaran jumlah pokok dan bunga emisi obligasi dalam hal emiten cidera janji.

  1. e.      Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP)

Perusahaan yang tugas utamanya mencatat transaksi yang dilakukan perusahaan pialang.

  1. f.        Lembaga Penyelesaian dan Penyimpanan

Perusahaan yang mempunyai tanggung jawab menyelesaikan transaksi yang dicatat oleh LKP.

  1. g.      Akuntan Publik

Pihak yang memiliki kewenangan melakukan pemeriksaan atas keuangan emiten guna memberikan pendapat atas laporan keuangan yang dipublikasikan oleh emiten

  1. h.     Konsultan Hukum

Pihak yang memberikan dan menandatangani pendapat hukum mengenai emisi efek yang dilakukan emiten.

  1. i.        Notaris

Pihak yang berwenang membuat akta otentik mengenai perjanjian dan pernyataan yang dibuat oleh pelaku pasar modal.

Jasa notaris diperlukan dalam hal :

  • Membuat berita acara RUPS dan menyusun keputusan RUPS.
  • Meneliti keabsahan hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan RUPS.
  • Keabsahan dari para pemegang saham atau kuasanya dalam menghadiri RUPS.
  • Menjaga dipenuhinya ketentuan quorum yang dipersyaratkan dalam anggaran dasar.
  • Meneliti perubahan anggaran dasar.
  1. j.        Penilai

Pihak yang menerbitkan dan menandatangani laporan penilaian atas aktiva.

DAFTAR PUSTAKA

Widoatmodjo, Sawidji, 2009, Pasar Modal Indonesia, (Jakarta, Ghalia Indonesia)

http://pasarmodal.blog.gunadarma.ac.id

www.wikipedia.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Berita Gunadarma

  • ERROR: Tried to load source page, but remote server reported "404 Not Found".
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: