Lovelycimutz's Blog

Kasus Susu Berbakteri

Posted on: Mei 13, 2011

BAB I

TEORI PERLINDUNGAN KONSUMEN

Perlindungan konsumen adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak konsumen. UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah :

  • hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa.
  • hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
  • hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
  • hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan perlindungan adalah :

  • Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), pasal 21 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 33.
  • Undang Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. 3821).
  • Undang Undang No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Usaha Tidak Sehat.
  • Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian Sengketa.
  • Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen.
  • Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag Prop/Kab/Kota.
  • Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 795 /DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen.

BAB II

KASUS SUSU BERBAKTERI

  • Bakteri Enterobacter Sakazakii

Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform (kokoid), dan tidak membentuk spora. Bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sampai tahun 1980 Enterobacter sakazakii dikenal dengan nama Enterobacter cloacae berpigmen kuning.

Pada tahun 1980, bakteri ini dikukuhkan dalam genus Enterobacter sebagai suatu spesies baru yang diberi nama Enterobacter sakazakii untuk menghargai seorang bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii. Reklasifikasi ini dilakukan berdasarkan studi DNA hibridisasi yang menunjukkan kemiripan 41% dengan Citrobacter freundii dan 51% dengan Enterobacter cloacae.

Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia, sehingga disinyalir bahwa tanah, air, sayuran, tikus dan lalat merupakan sumber infeksi.

Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi Enterobacter sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk.

Enterobacter sakazakii pertama kali ditemukan pada  1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis.  Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia, risiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada.

Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi Enterobacter sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100.000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian  menjadi 9,4 per 100.000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (< 1.5 kg) . Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi  kontaminasi di sebuah negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan 20 kultur positif  Enterobacter sakazakii.

Enterobacter sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari keluarga enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae.  Pada 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan,  dengan hibridasi DNA menunjukkan Enterobacter sakazakii 53-54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus, yaitu Enterobacter dan Citrobacter.

Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi  dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strain kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan, diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi, tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.

  • Proses Pencemaran dan Antisipasi Bakteri

Proses pencemaran terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.

Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (preprocessing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu.

Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri.  Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu.

Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup. Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri.

Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju. Antisipasi dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa Negara tersebut sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.

Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi.

Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya. Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajian yang baik dan benar.

Di antaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan hang time atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian.

Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut akan meningkatkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut. Hal lain yang penting adalah memperhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum.

Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan. Terlepas benar tidaknya akurasi temuan tersebut sebaiknya pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa.

Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu khawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA tetapi tidak terjadi kasus luar biasa Karena mungkin sebagian besar adalah kuman non-patogen atau yang tidak berbahaya. Tetapi apapun juga, jangan sampai terjadi banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan mengantisipasi keadaan.

  • Awal Mula Munculnya Kasus Susu Berbakteri

Sri Estuningsih (Estu) awalnya berburu bakteri dalam susu formula untuk penelitian doktoral saat menempuh pendidikan bidang Mikrobiologi dan Patologi di Justus Liebig Universitat, Gieben, Jerman. Penelitian yang awalnya mencari penyebab diare pada bayi, dengan fokus pada Salmonella, Shigella dan E. Coli sebagai bakteri penyebab diare, justru menemukan Enterobacter Sakazakii. Enam tahun setelah penelitian dilaksanakan, Estu justru menghadapi tuntutan hukum. Adalah David Tobing, Pengacara Publik yang berturut-turut memenangkan tuntutan di level Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Konstitusi (MK).

Isi tuntutan tersebut adalah agar Institut Pertanian Bogor (IPB), Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Bpom) mengumumkan merek susu yang terpapar Enterobacter Sakazakii sesuai penelitian Estu yang dilaksanakan mulai tahun 2003 itu. Pasalnya, penelitian yang mulai dilakukan pada 2003 itu bukanlah penelitian survaillance, artinya peneliti tidak mendaftar seluruh merek susu yang beredar di pasaran, melainkan semata mencari bakteri yang terdapat pada susu.

Apabila merek susu diungkap, hal itu tentunya tidak adil dan diskriminatif karena sampel tidak mewakili seluruh jenis susu dan makanan bayi yang beredar dipasaran. Padahal Enterobacter Sakazakii adalah jenis bakteri yang dapat dijumpai di mana-mana, termasuk dalam usus manusia yang tidak sakit.

Penelitian yang awalnya dilakukan di Jerman tersebut sebenarnya menyoroti cemaran Salmonella, Shigella dan E. Coli berkaitan dengan diare pada bayi. Bukannya menemukan ketiga bakteri tersebut, Estu justru menemukan cemaran Enterobacter Sakazakii sebanyak 13,5%, atau ditemukan dalam 10 dari 74 sampel. Pada 2004 bakteri itu masih ditemukan dalam 3 sampel dari 46 sampel yang diteliti. Penelitian yang sama pada 2006 justru menemukan kecenderungan yang lebih tinggi Enterobacter Sakazakii ditemukan dalam 22,73% sampel susu formula dan 40% sampel makanan bayi.

Dari hasil karakterisasi bahaya yang dilakukan dalam penelitian pada 2006, ditemukan bahwa Enterobacter Sakazakii dapat menyebabkan enteritis, sepsis dan meningitis. Karena dianggap berbahaya, pada 2006 hasil penelitian tersebut dilaporkan ke BPOM. Penemuan itu menjadi pertimbangan bagi IPB untuk mengajukan ke BPOM agar Indonesia mengikuti aturan Codex Alimentarius Commission untuk membatasi kadar cemaran Enterobacter Sakazakii dalam susu formula, makanan bayi, serta barang konsumsi lain.

Selain itu pada saat itu pihak IPB berharap agar BPOM dapat melakukan penelitian yang lebih memadai, misalnya dengan metode survaillance agar dapat menyertakan keseluruhan merek susu formula dan makanan bayi yang beredar di pasaran.

Pada tahun 2009 BPOM mengadopsi Codex yang mengatur cemaran Enterobacter Sakazakii. BPOM juga melakukan survaillance terhadap seluruh merek susu dan makanan bayi yang beredar di pasaran. Survaillance terus berlanjut hingga saat ini, tetapi BPOM sudah tidak menemukan satu pun merek susu yang mengandung cemaran Enterobacter Sakazakii, pasca adopsi Codex itu.

BPOM adalah lembaga pengawas. Oleh karena itu Codex harus diadaptasi kemudian BPOM melakukan pengawasan terhadap susu yang beredar di pasaran mulai 2009.

Berdasarkan fungsi pengawasan itulah BPOM mengumumkan hasil penelitiannya terhadap berbagai susu yang ada di pasaran. Sejak 2009 hingga kini BPOM telah meneliti 117 jenis susu di pasaran Indonesia yang kesemuanya aman dari Enterobacter Sakazakii. Harry Suhardiyanto, Rektor IPB mengatakan untuk mengumumkan jenis susu yang aman dan tidak aman demi memenuhi kepentingan publik merupakan kewenangan BPOM, apalagi BPOM telah melakukan penelitian paling baru dari segi waktu serta mencakup seluruh jenis susu formula dan makanan bayi yang ada.

Apabila IPB terpaksa mengumumkan merek susu dengan cemaran Enterobacter Sakazakii berdasar hasil penelitian Estu, hal tersebut akan menyalahi prinsip keadilan dalam penelitian karena sampel yang digunakan belum mencakup seluruh sampel yang beredar di pasaran. Padahal sampel yang tidak diteliti belum tentu terbebas dari cemaran. Hal ini tentu tidak adil dan mendiskriminasi pihak tertentu karena tidak seluruh sampel yang ada diteliti.

Sementara itu,  kewajiban mempublikasikan isi penelitian sudah dilakukan IPB dan Estu melalui berbagai Jurnal Internasional. Hasil penelitian tersebut juga telah dipaparkan dalam pertemuan internasional tentang Enterobacter Sakazakii yang diselenggarakan oleh WHO dan FAO di Roma, Italia pada 2006.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan pihaknya tidak dapat memaksa IPB untuk mengumumkan merek susu karena IPB adalah lembaga independen yang tidak memiliki kewajiban melaporkan hasil penelitiannya.

Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional juga menghargai sikap IPB untuk tidak menyebutkan merek susu yang menjadi sampel penelitian karena telah diatur dalam kode etik internasional bahwa merek produk yang menjadi objek penelitian tidak disebutkan.

Selain itu dia juga menyatakan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan pada penyelenggara pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dilindungi oleh hukum sebagaimana tercantum dalam Pasal 24 UU No 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional.

  • Tanggapan Mentri Kesehatan Mengenai Kasus Susu Berbakteri

Penolakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengumumkan merek susu formula yang mengandung bakteri Entrobacter Sakazakii, berbuntut panjang. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Muslim, melaporkan persoalan ini ke Bareskrim Mabes Polri. Terlapornya adalah, Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kustantinah, dan Rektor Institut Pertanian Bogor, Herry Suhardiyanto.

Sesuai dengan keterangan pers, laporan bernomor : LP/77/II/2011/ Bareskrim berdasarkan Pasal 52 Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Sesuai dengan UU itu, badan publik yang dengan sengaja tidak mengumumkan informasi publik, yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak terancam pidana berupa penjara satu tahun atau denda Rp 5.000.000.

Ketua LSM Sahabat Muslim, Muhammad HS, meminta polisi bergerak dengan cepat dalam menangani kasus yang mendapat perhatian luas dari masyarakat tersebut. Agar tidak menimbulkan keresehan masyarakat yang meluas, khususnya pada kalangan orangtua.

Selain itu, dia melanjutkan dengan kewenangan untuk kepentingan penyidikan, polisi juga harus menyita dokumen hasil penelitian yang dilakukan IPB dan mengambil alih kewajiban mengumumkan produk susu yang tercemar, sesuai perintah UU Keterbukaan Informasi Publik.

Selain itu, polisi diminta mengungkap motif penundaan pengumuman produk susu formula yang tercemar bakteri kepada publik. Polisi juga dapat mengembangkan kasus ini, terkait beredarnya produk makanan yang merusak kesehatan dan dengan sengaja tidak ditarik dari peredaran. Guna mengantisipasi kemungkinan adanya masyarakat yang mengalami kondisi gangguan kesehatan yang diduga bersumber dari mengkonsumsi susu formula tercemar bakteri,  LSM Sahabat Muslim membuka posko pengaduan masyarakat korban susu formula tercemar bakteri, di kawasan Jalan Harapan Indah, Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Menurut Menteri Kesehatan, IPB sebagai universitas independen tidak wajib melaporkan hasil penelitiannya kepada Kementerian Kesehatan. IPB juga telah menolak mengumumkan dengan alasan belum menerima surat keputusan Mahkamah Agung secara resmi. Menkes menambahkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan penelitian berkala yang menjamin produk susu formula di pasaran bebas bakteri tersebut dan aman konsumsi.

Ditanyai kembali mengenai persoalan ini, Menteri Kesehatan, di sela-sela peringatan Hari Kanker di FX, Jakarta,  hanya berpendapat yang penting sekarang kalau bayi usia 0-6 bulan dikasih ASI, kalau nggak bisa memberi ASI, pake susu formula tidak masalah. Asalkan airnya direbus matang.

  • Daftar Merk Susu yang Bebas Bakteri Sakazakii

Daftar merek susu hasil riset BPOM yang bebas bakteri sakazakii :

Tahun 2009

  1. Frisian Flag Tahap I (MD.810409118005, exp Oktober 2010)
  2. Susu Lactona 1 (MD.810412070003, exp Mei 2010)
  3.  Lactogen 1 (ML.810411051018, exp Januari 2010)
  4. Lactogen 1 (MD 810413370001, exp Juni 2010)
  5. Susu Lactogen 1 (MD.819413370001, exp Mei 2010)
  6. SGM Tahap 1 (MD.810412270001, exp Januari 2011)
  7. Vitalac BL (MD.809010195008, exp Desember 2010)
  8. Susu SGM 1 (MD.810412270001, exp November 2010)
  9. SGM 1 (MD.810412270001, exp Juni 2010)
  10. Vitalac 1 (MD.810412259001, exp Desember 2010)
  11. SGM Tahap 1 (MD 810412270001, exp Februari 2010)

Tahun 2010

  1. Anmum Infacare (ML.510406002076, exp Desember 2011)
  2. Frissian Flag 1 (MD.810409118005, exp Juli 2011)
  3. Frissian Flag Tahap 2 (MD.810309117005, exp Desember 2011)
  4. Frissian Flag 123 Madu (MD.807009128005, exp Agustus 2011)
  5. Frissian Flag Tahap 1 (MD.810409118005, exp Februari 2012)
  6. Frissian Flag Tahap 2 (MD.810309117005, exp Maret 2012)
  7. Frissian Flag Tahap 1 (MD.8100409118005, exp Mei 2012)
  8. Frissian Flag (MD.810409118005, exp Juli 2012)
  9. Frissian Flag 2 (MD.810309117005, exp Desember 2011)
  10. Frisian Flag Tahap I (MD.810409118005,exp 2011)
  11. Frisian Flag Tahap I (MD.810409118005, exp Oktober 2010)
  12. Fresian Flag Coklat (MD.805309148005)
  13. Frisian Glag Madu (MD.805309152005)
  14. Sun baby Tomat Wortel (MD 810110042188, exp Desember 2011)
  15. Bubur Bayi Sun Sari Buah 6 Bulan (MD 810110042188,exp 12 Maret 2012)
  16. SUN Beras Merah (MD 810110030188, exp Mei 2012)
  17. Indomilk Coklat Instant (MD.805309086015, ekp Mei 2012)
  18. Indomilk Full Cream (MD.805309085015, exp Mei 2012)
  19. Indomilk Susu Bubuk Full Cream (MD.805309087015)
  20. Morinaga BMT Platinum 0-6 Bulan (MD 510410016989, exp 28 Desember 2011)
  21. Chilmil (MD.810310020989, exp 4 Maret 2011)
  22. BMT Motinaga (MD.810410019989, exp Mei 2011)
  23. Morinaga BMT Platinum (MD.510410016989, exp Desember 2011)
  24. Enfamil (ML.810411076019, exp Maret 2011)
  25. Enfamil (ML.810411076019, exp Maret 2011)
  26. Lactona (MD.810412070003, exp November 2011)
  27. Lactogen 2 (MD 810313376001,  exp Maret 2011)
  28. Lactogen 2 (MD 810313376001, exp Maret 2011)
  29. Dancow 1+ Rasa Madu (MD 807013337001, exp Mei 2011)
  30. Dancow Nutrigold 1+ (MD 807013372001, exp Juli 2011)
  31. Lactogen Gold 1 (MD 810413370001, exp  Juli 2011)
  32. Dancow Full Cream Milk Powder (MD 805313199001, exp November 2011)
  33. Lactogen Gold 2 (MD 810313369001, exp Juli 2011)
  34. Lactogen Susu Formula Lanjutan (MD 810313369001, exp April 2011)
  35. NAN Nestle HA 1 (ML 510412013040, exp Maret 2010)
  36. AL 110 Nestle (ML 50702004079, exp  Maret 2012)
  37. Lactogen 2 (MD 810313369001, exp April 2011)
  38. Lactogen 2 (MD 810313369001, exp Feb 2011)
  39. Lactogen 1 (MD 810413370001, exp April 2011)
  40. Lactogen Gold 2 (MD 810313369001, exp Mei 2011)
  41. Lactogen 2 (MD 810313369001 exp Juni 2011)
  42. Lactogen Susu Formula 2 Lanjutan (MD 810313369001, exp Juni 2012)
  43. Lactogen Gold 1 (MD 810413370001, exp Mei 2011)
  44. Nestle Lactogen 1 (MD 810413370001, exp Januari 2011)
  45. Nestle Lactogen 1 (MD 810413370001)
  46. Cerelac Nestle (ML 810101001341, exp  Maret 2011)
  47. Cerelac Beras Merah (ML 8101011017145, exp Mei 2011)
  48. Bimbi Susu Formula Bayi (MD 810413009417, exp Maret 2012)
  49. Bimbi Susu Formula Bayi (MD 810413009417, exp Juni 2011)
  50. Nutrilon Hypo-allergenic (ML 510402009035, exp November 2011)
  51. Anlene Actifit Vanilla (MD 808509391040)
  52. Bebelac susu formula (MD 810409335040, exp April 2011)
  53. Nutrilon I (MD 810409288040, exp April  2011)
  54. SGM 1 (MD 810412270001, exp Januari 2012)
  55. Vitalac 1 (MD 810412259001, exp Juni 2011)
  56. Vitalac (MD 814012259001)
  57. SGM 1 (MD 810412270001, exp Oktober 2011)
  58. SGM Prenutrisi (MD 810412270001, exp Desember 2011)
  59. SGM Prenutrisi 0-6 Bulan (MD 810412270001, exp April 2012)
  60. SGM (MD 810412270001, exp Mei 2012)
  61. SGM Prenutrisi 2 Lanjutan (MD 810312271001)
  62. Vitalac Susu Formula Bayi (MD 810412259001, exp Maret 2012)
  63. SGM BBLR (MD 81021094008, exp Februari 2012)
  64. Vitalac (MD 810412259001)
  65. SGM (MD 809012327001, exp Maret 2012)
  66. SGM Prenutrisi 1 (MD 810412270001)
  67. SGM 1 (MD 810412270001, exp Desember 2011)
  68. SGM Presinutri (MD 810412270001, exp Oktober 2011)
  69. SGM 2 (MD 810312271001, exp 1 November 2012)
  70. SGM 1 (MD 810412270001, exp 1 Januari 2012)
  71. SGM Presinutri 3 (MD 810312271001, exp April 2012)
  72. SGM 4 Rasa Madu (MD 807012263001, exp April 2012)
  73. SGM 3 Eksplor Rasa Vanilla (MD 807012266001, exp Mei 2012)
  74. SGM Prenutrisi 1 (MD 810412270001, exp Juni 2012)
  75. SGM LLM (MD 809012327001, exp Mei 2012)
  76. SGM BBLR (MD 810412328001, exp Maret 2012)
  77. SGM 2 (MD 810312271001, exp Desember 2011)
  78. Vitalac 2 (MD 810312260001, exp Desember 2011)
  79. SGM Presinutri 1 (MD 810412270001, exp Januari 2011)
  80. SGM Presinutri (MD 810412270001, exp Februari  2011)
  81. SGM Presinutri (MD 810412270001, exp Maret 2011)
  82. Vitalac 1 (MD 810412259001, exp Agustus 2011)
  83. SGM Presinutri 1 (MD 810412270001, exp Desember 2011)
  84. SGM LLM (MD 809012327001, exp Januari 2012)
  85. Nutricia Bebelac 1 (MD 255610214112)
  86. SGM BBLR (MD 810210194008, exp September 2011)
  87. SGM 2 (MD 810312271001, exp Desember 2011)
  88. Vitalac Bebas Lactosa (MD 809010195008, exp Februari 2012)
  89. Vitalac (MD 810310190008, exp Mei 2011)
  90. SGM BBLR (MD 810210194008, exp Januari 2012)
  91. SGM BBLR (MD 810210194008, exp Januari 2012)
  92. S-26 Tahap 1 (MD 8810417018124)
  93. S-26 Gold (ML 510417001245)
  94. S-26 Tahap 1 (ML 810417013124, exp Juni 2011)
  95. Lactona (MD 810412070003, exp Oktober 2011)
  96. S-26 Tahap 1 (ML 810417018124, exp Juni 2011)
  97. S-26 Gold Tahap 1 (ML 510417001245, exp Januari 2012)
  98. S-26 (ML 810417018124, exp Februari 2011)

Tahun 2011 (sampai Februari)

  1. Bimbi Lola Rendah Laktose (MD 810413009417)
  2. Neosure (ML 510415007019)
  3. Enfamil A+ (ML 810411066019)
  4. Pre NAN (ML 510202002079)
  5. NAN 1 (ML 510402003079)
  6. Morinaga BMT (MD 810410019989)
  7. Lactogen Gold (MD 810413370001)
  8. Nutricia Nutrilon Royal (MD 810409408040)
  9. Nutricia Nutrilon (MD 810409288040)
  10. Bebelac 1 (MD 810409335040)
  11. SGM BBLR (MD 810412328001)
  12. Vitalac Step 1 (MD 810412259001)
  13. SGM LLM (MD 809012327001)
  14. Susu Formula Bayi Bimbi 1 (MD 8091213010417, exp Desember 2012)
  15. Susu Bimbi Lola (MD 809213010417, exp Februari 2011)
  16. Susu Formula Bayi SGM Prenutrisi (MD 810412270001, exp Desember 2012.
  17. S-26 (ML 810417018124)
  • Desakan Untuk mengumumkan Merk Susu Formula yang Terkontaminasi Bakteri

Institut Pertanian Bogor, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta Menteri Kesehatan didesak untuk segera mengumumkan nama-nama merek susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii. Hal ini sesuai dengan putusan Mahkamah Agung (MA) yang mewajibkan ketiganya membuka secara transparan nama-nama itu melalui media cetak dan elektronik.

Desakan tersebut disampaikan oleh pengacara konsumen publik. Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Kenapa ini penting sebab putusan ini seakan-akan menyatakan bahwa informasi terhadap hasil penelitian itu adalah hak masyarakat.

Kasus itu bermula ketika para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan adanya kontaminasi Enterobacter sakazakii sebesar 22,73 persen dari 22 sampel susu formula yang beredar tahun 2003 hingga 2006. Namun, IPB tidak bersedia menyebutkan merek susu yang dimaksud.

Terkait hal itu, David yang juga konsumen susu (untuk dua anaknya) menggugat IPB, Badan POM, dan Menteri Kesehatan dengan alasan melakukan perbuatan melawan hukum karena telah menyebabkan keresahan dan kekhawatiran masyarakat terkait penelitian tersebut. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memenangkan David.

Putusan tersebut dikuatkan MA melalui putusan kasasinya. Majelis kasasi yang diketuai Harifin A Tumpa dengan hakim anggota I Made Tara dan Muchsin mewajibkan IPB, Badan POM, dan Menteri Kesehatan mempublikasikan nama-nama susu formula yang tercemar tersebut.

Majelis kasasi sepakat dengan penggugat bahwa IPB, Badan POM, dan Menteri Kesehatan telah melakukan pelanggaran hukum. Alasannya, dengan tidak diumumkannya merek susu yang tercemar bakteri mengakibatkan keresahan masyarakat.

Menurut Mahkamah Agung, suatu penelitian yang mengandung kepentingan masyarakat banyak haruslah dipublikasikan agar masyarakat lebih waspada. Tidak mengumumkan hasil penelitian itu merupakan pelanggaran tindakan yang tidak hati-hati dalam fungsi pelayanan publik.

Persoalan belum selesai David mengatakan, apabila ketiga instansi tersebut tetap bersikeras tidak mengumumkan hasil penelitian tersebut, pihaknya bakal melakukan langkah hukum yang lain. Ia akan mengajukan upaya paksa ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kalau sudah mentok, saya bisa saja lapor polisi karena mereka menyembunyikan informasi. Diperolehnya informasi tentang merek susu tercemar Enterobacter sakazakii pun tidak membuat persoalan selesai. Apabila susu yang dikonsumsi kedua anaknya tergolong susu yang tercemar bakteri, ia akan menggugat perusahaan susu yang dimaksud. Demikian pula masyarakat yang kemungkinan besar akan berbondong-bondong memeriksakan kesehatan anaknya. Setidaknya untuk memeriksakan kesehatan itu kan perlu uang.

Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006 telah terkontaminasi Enterobacter sakazakii.

Berdasar pengujian pada bayi mencit (tikus percobaan), kontaminasi oleh E. Sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan panas dapat menyebabkan enteritis (peradangan saluran pencernaan), sepsis (infeksi peredaran darah) dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak).

Dr Sri Estuningsih, juru bicara tim peneliti dalam keterangan yang dipublikasikan Kantor Humas IPB, Selasa menyebutkan bahwa sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari produk lokal.

Tim tersebut terdiri dari staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, yakni drh Hernomoadi Huminto MVS, Dr drh I Wayan T. Wibawan, dan Dr Rochman Naim.

Menurut Sri Estuningsih, penelitian itu dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama, isolasi dan identifikasi Enterobacter sakazakii dalam 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi. Selanjutnya pada tahap kedua, menguji 12 isolat Enterobacter sakazakii dari hasil isolasi dan kemampuannya menghasilkan enteroksin (racun) melalui uji sitolisis (penghancuran sel).

Dari 12 isolat yang diujikan terdapat enam isolat yang menghasilkan enteroksin. Uji selanjutnya adalah menguji isolat tersebut pada kemampuan toksin setelah dipanaskan. Terdapat lima dari enam isolat tersebut yang masih memiliki kemampuan sitolisis setelah dipanaskan.

Selanjutnya, ditentukan satu kandidat dari isolat tersebut dan menguji enterotoksin serta bakteri vegetatifnya pada bayi mencit (tikus percobaan) berusia enam hari. Bayi mencit diinfeksi melalui rute oral (cekok mulut) menggunakan sonde lambung khusus dan steril.

Setelah tiga hari, kemudian dilakukan pengambilan sampel organ mencit tersebut. Hasil pengujian enteroksin murni dan enteroksin yang dipanaskan dan bakteri mengakibatkan enteritis, sepsis dan meningitis. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan metode hispatologi menggunakan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Dari hasil pengamatan histopatologis yang diperoleh masih dibutuhkan penelitian senada yang lebih mendalam untuk mendukung hasil penelitian tersebut.

Ia menyatakan, amat penting dipahami bahwa susu formula bayi bukanlah produk steril, sehingga dalam penggunaannya serta penyimpanannya perlu perhatian khusus untuk menghindari kejadian infeksi karena mengonsumsi produk tersebut.

Sri Estuningsih secara pribadi telah melihat langsung fasilitas salah satu perusahaan makanan dan susu formula dengan omzet terbesar di Indonesia.

Sebagian besar fasilitas tersebut telah memenuhi standar operasional prosedur perusahaan susu formula bayi, dan saat ini masih terus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi tersebut.

  • Menkes Pastikan Susu Formula Aman dikonsumsi

Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, menegaskan kembali bahwa susu formula yang saat ini beredar di pasaran aman untuk dikonsumsi. Hingga saat ini Kementerian yang dipimpinnya tidak menerima adanya pengaduan dari masyarakat yang mengeluhkan buruknya mutu susu yang beredar.

Semua susu formula yang beredar aman dikonsumsi. Tidak ada laporan yang masuk soal adanya susu formula berbakteri. Kementerian Kesehatan tidak mengetahui hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyebutkan bahwa sejumlah susu formula di pasaran mengandung bakteri Enterobacter sakazakii. Data yang lebih lengkap ada di IPB. Tapi Kementerian Kesehatan dan Balai Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pusat sudah menjamin aman untuk dikonsumsi.

Disinggung adanya sejumlah merek yang dijadikan objek penelitian IPB, Menkes juga mengaku tidak mengetahui. Karena selama penelitian yang dilakukan April hingga Juni 2006 lalu itu, pihaknya tidak menerima laporan soal hal itu.

Namun, Menkes mengimbau kepada semua masyarakat yang memiliki anak balita untuk tidak diberi susu formula merk apapun. Karena, usia setengah tahun lebih baik diberi air susu ibu (ASI). Untuk ketahanan bayi, ASI sangat perlu diberikan sejak dini.

  • Susu Formula Seharusnya Memakai Resep Dokter

Sesuai dengan ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) susu berlabel formula itu sebenarnya susu yang dibeli sesuai petunjuk/resep dokter serta tidak bisa dijual bebas.

Di Indonesia ada susu formula untuk bayi baru lahir sampai orang yang mau meninggal dunia serta dijual bebas tanpa resep dokter.  Aturan lain yang tercantum dalam Peraturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981 tentang Pemasaran Pengganti ASI. Di antaranya disebutkan, fasilitas kesehatan tidak boleh digunakan untuk promosi susu formula atau produk sejenis memajang produk pengganti ASI, serta tidak boleh menerima donasi atau membeli susu formula dengan harga diskon.

Sebenarnya, Indonesia pun memiliki aturan soal pemasaran susu formula ini dalam Surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor 237 tahun 1997 tentang Pemasaran Pengganti Air Susu Ibu. Namun, pelaksanaan dan pengawasan aturan ini di lapangan kurang maksimal.

Disamping itu,  tidak adanya sanksi yang tegas dan jelas soal hal ini membuat produsen susu semakin gencar saja memasarkan produk susunya. Produk susu formula semakin banyak beredar bebas di masyarakat.

Sebenarnya setelah berusia 2 tahun, anak tidak membutuhkan susu. Seluruh kecukupan kalori dan nutrisinya diharapkan terpenuhi dari beragam bahan makanan sehat alami yang diberikan kepadanya. Untuk batita 1-2 tahun, cukup berikan 200 mililiter susu formula (sekitar 50 gram susu bubuk) pada jeda waktu antara makan siang dan makan malam. Anda bisa memberikannya setelah si kecil menghabiskan kudapan sore atau di antara waktu makan siang/malam dan mengudap.

Orangtua jangan menyerahkan tanggung jawab tumbuh-kembang anak  pada susu sapi dengan menempatkan susu sebagai makanan utama penunjang pertumbuhan batita. Perlakukan susu sama derajatnya dengan makanan bergizi lainnya. Jangan mudah terprovokasi dengan mengikuti anjuran produsen susu agar memberikan susu formula minimum dua gelas per hari pada anak balita (seperti anjuran dalam label kemasan).

Ketimbang ribut-ribut soal merek susu apa yang terkontaminasi bakteri, masyarakat disarankan menyebarkan informasi soal ASI eksklusif 2 tahun. Selain lebih sehat ASI juga dapat memenuhi seluruh kebutuhan bayi dan keunggulannya tidak bisa digantikan dengan susu lain.

Saat berada di dalam kandungan, bayi mendapat asupan melalui plasenta sehingga dapat dikatakan lambung berpuasa selama bayi di kandungan. Begitu lahir, kapasitas lambung bayi hanya sebesar kelereng. Bayi belum membutuhkan banyak ASI dan umumnya produksi air susu ibu baru melahirkan masih sedikit.

Setelah sepuluh hari, kapasitas lambung mulai bertambah menjadi sebesar bola pingpong. Terkadang dibutuhkan beberapa hari baru produksi ASI lancar dan memadai jumlahnya. Jika ibu terus menyusui sekalipun air susu belum keluar, itu ikut merangsang produksi air susu.

  • Salah Satu Korban Susu Berbakteri

Si penggugat itu bernama David Tobing. Ayah dua anak ini mendaftarkan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 17 Maret 2008. Dia mendesak hakim  memerintahkan Depkes dan IPB, membuka data nama merk susu formula yang mengandung entrobacter sakazakii. Bakteri jenis ini berbahaya bagi bayi. Hingga kasasi di Mahkamah Agung, David Tobing menang terus.

Kamis, 10 Februari 2011, Menteri Kesehatan menggelar konferensi pers. Sehari sebelumnya santer beredar kabar bahwa Departemen Kesehatan akan mengumumkan nama-nama susu formula yang mengandung bakteri yang berbahaya itu. Dan publik tentu saja menunggu.

Konferensi  pers itu berlangsung dikantor Kementerian Komunikasi dan Informasi. Selain Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, hadir dalam acara ini  Tifatul Sembiring, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Biro Hukum Institut Pertanian Bogor.

Dalam konferensi pers itu, Menteri Endang mengecam keras pembagian gratis susu-susu formula kepada sejumlah klinik bersalin.  Jangan minum susu formula kalau bayi belum enam bulan. Karena bayi usia itu berisiko.

Lalu soal daftar susu formula yang berbahaya itu Ibu Menteri tak mau mengumumkannya. Meski MA sudah memutuskan kasus ini tanggal 26 April 2010, Endang memastikan belum menerima pemberitahuan resmi dari PN Jakarta Pusat. Ia mengaku sudah mengetahui keputusan itu dari laman Mahkamah Agung.

Pihak Institut Pertanian Bogor juga enggan membuka daftar itu. Sama juga alasannya. Sampai dengan 10 Februari 2011, IPB sebagai tergugat satu belum menerima pemberitahuan keputusan itu.

Dalam kesempatan yang sama, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BOPM) memastikan semua susu formula yang beredar bebas dari bakteri berbahaya. Bebas dari Enterobacter sakazakii. Badan itu menjamin bahwa susu formula yang beredar sudah sesuai standar internasional, Codex. Jaminan itu berdasarkan uji sampel berkala terhadap sejumlah merk susu formula yang beredar. BPOM melakukan uji sampel soal kemungkinan kontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii sejak 2008, sebagai respons hasil temuan tim peneliti IPB. Sejumlah  96 susu formula diuji. Hasilnya nihil. Uji sampel itu kembali dilakukan terhadap 11 merek susu formula pada 2009, 99 merek susu formula pada 2010, dan 18 merek susu pada awal 2011. Hasilnya pun  sama.

Semua penjelasan itu tidak membuat  David Tobing surut langkah. Konferensi pers itu. Ia mengaku kecewa dengan pernyataan Badan POM bahwa berdasarkan uji sample sejak 2008, tidak ada susu yang tercemar.  Dia menegaskan bahwa gugatan yang diajukan berdasarkan penelitian IPB tahun 2003 sampai 2006.

Alasan Endang Rahayu urung mengumumkan nama-nama susu formula itu sebab salinan putusan belum diterima, menurut David, sungguh tidak masuk akal. Kalau sekedar mengunakan alasan administrasi, sungguh tidak diperlukan konferensi pers sebesar itu. Alasan administrasi itu sesungguhnya bisa dikesampingkan, sebab ini menyangkut kepentingan publik. Apalagi katanya, keputusan itu sudah diunggah ke laman MA.

David mengaku tidak akan surut langkah. Dia berjanji akan terus mengejar  nama-nama merk susu formula berbakteri itu. Soal kepentingan publik itulah yang disebutkan para hakim di Mahkamah Agung dalam amar putusannya.  Para hakim yang dipimpin Harifin A Tumpa itu menegaskan bahwa penelitian yang menyangkut kepentingan masyarakat haruslah dipublikasikan. Agar masyarakat lebih waspada.

Jika tidak akan mengakibatkan keresahan dalam masyarakat, karena dapat merugikan konsumen. Hasil penelitian yang menyimpulkan ada bakteri Enterobacter dipublikasikan di laman IPB tanggal 12 Februari 2008.

  • Tanggapan Anggota DPR mengenai Kasus Susu Berbakteri

Anggota komisi IX DPR RI, Rieke Diah Pitaloka memandang kasus ini bukan hanya persoalan IPB sepihak yang enggan mengumumkan, namun ada peran pemerintah yang ditiadakan. Baginya, kasus susu berbakteri merupakan masalah kerakyatan yang dibiarkan.

Ini persoalan bahwa pemerintah tidak hadir di setiap keresahan-keresahan yang dihadapi oleh rakyat. Soal susu saja tidak ada perhatian, apalagi persoalan politik yang besar. Sebagai anggota dewan yang ikut membidangi kesehatan, Rieke menyebutkan, ada tiga persoalan yang dihadapkan pemerintah terkait susu berbakteri tersebut. Ada ketidakhadiran pemerintah  dalam melayani kesehatan warganya, masyarakat yang tidak percaya kepada institusi resmi,  dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan Badan POM yang enggan mengumumkan, dan kedaulatan pangan.

Rieke mangatakan, tanggung jawab utama bukan hanya pada IPB, tetapi kesalahan juga ada pada pemerintah. Sebagai pihak yang ikut digugat Mahkamah Agung, Kementerian Kesehatan dan BPOM, didesak untuk lebih bertanggungjawab atas kasus ini. Ini bukan hanya tanggung jawab pihak IPB saja, tetapi tanggung jawab institusi resmi negara, Kementerian Kesehatan, dan BPOM. Jika pemerintah tidak segera bersikap tegas untuk mengumumkan, masyarakat akan menempuh jalannya sendiri. Kalau pemerintah selalu seperti ini, menurutnya, masyarakat akan mengambil langkahnya sendiri.

  • Tanggapan Lembaga Asosiasi Terhadap Masalah Susu Berbakteri

Ditengah maraknya berita mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari berbagai produk susu formula dan makanan instan untuk bayi dan balita (yang hasil penelitiannya sebenar sudah dirampungkan oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dilaporkan kepada BPOM sejak tahun 2006), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya sumber nutrisi yang terlengkap dan terbaik untuk bayi dan balita.

Ketua AIMI Mia Sutanto dalam siaran persnya mengatakan, bukti yang menguatkan pernyataan tersebut semakin tak terbantahkan. Nutrisi dan kalori yang terkandung di dalam ASI sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, jadi tak perlu tambahan susu formula apapun.

ASI mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air garam dan gula yang semuanya sudah secara khusus dikomposisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi. ASI mengandung sel-sel hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit. Tentu sel-sel hidup ini tidak ada dalam produk susu formula.

Oleh karena itu bicara mengenai keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula sudah pasti sangat banyak, selain dari segi kandungan dan kecukupan nutrisi, kemudian faktor imunitas atau perlindungan tubuh, juga dari segi kedekatan ibu dan anak (bonding) yang tak akan tertandingi oleh apapun.

AIMI akan secara konsisten terus menyerukan kepada seluruh ibu-ibu di Indonesia untuk kembali memberikan ASI kepada bayinya. Jangan mempertaruhkan masa depan bayi-bayi Indonesia dengan tidak memberikan ASI, yang sudah terbukti merupakan makanan yang paling bagus, paling lengkap dan paling higienis untuk dikonsumsi oleh bayi.

Memberikan ASI sebagai satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi, memang membutuhkan persiapan khusus sejak masa kehamilan. Namun semua proses persiapan untuk memberikan ASI bisa dilakukan dengan mudah karena bekal utamanya hanyalah pengetahuan yang memadai dan pikiran positif dan niat si ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya serta dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar.

Sesuai dengan rekomendasi WHO/UNICEF dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), untuk bayi harus diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama dan kemudian dilanjutkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI) yang berkualitas. ASI diteruskan hingga 2 tahun atau lebih sesuai dengan keinginan ibu dan bayi.

Selanjutnya, karena ASI bisa memenuhi kebutuhan kalori sebesar 100% untuk bayi yang berusia 0-6 bulan, 70% untuk usia bayi 6-12 bulan dan 30% untuk usia anak diatas 12 bulan, maka pemberian susu tambahan setelah masa ASI Eksklusif juga tidak diperlukan. Saat ini masih banyak ibu yang berpendapat bahwa setelah masa ASI Eksklusif pemberian susu formula untuk bayi diatas 6 bulan atau diatas 1 tahun menjadi kebutuhan wajib, padahal selama anak masih mendapatkan ASI hal tersebut tidak diperlukan. Apabila karena sesuatu hal orangtua memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya, ada 3 hal yang perlu diingat susu formula bukanlah produk yang steril, tidak ada satupun susu formula yang komposisi dan kualitasnya mendekati ASI, dan pemberian susu formula bukannya tanpa resiko.

AIMI juga sangat menyayangkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari bahwa temuan IPB ini merupakan salah satu bentuk perang produk. Sangat tidak pada tempatnya Menteri Kesehatan yang seharusnya menyikapi temuan ini dengan arif dan mencermatinya secara positif, malah mengeluarkan pernyataan prematur yang cenderung bersifat defensif dan memihak pada produsen susu formula dengan mendiskriditkan temuan tersebut.

Seharusnya dalam kapasitasnya sebagai Menteri Kesehatan, tujuan utamanya adalah melindungi kepentingan masyarakat (bukan kepentingan pengusaha) dengan segera menindaklanjuti temuan tersebut dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah timbulnya keresahan serta terjadinya kerugian yang lebih besar pada masyarakat.

  • Bahaya Susu berbakteri

Bakteri ini sejatinya bisa dijumpai di mana-mana. Pada lingkungan, makanan, juga dalam usus manusia normal dan beberapa hewan. Bakteri ini memiliki banyak strain. Ada yang berbahaya, ada juga yang tidak. Yang paling rentan terkena bakteri ini adalah, Bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Bayi  yang lahir dengan berat badan rendah, lahir prematur, dan  mungkin dengan risiko lain.

Jika terinfeksi, bayi bisa menderita diare, itu jika bakteri mengenai saluran pencernaan. Bakteri ini bisa menyusup dalam empat tahapan pembuatan susu. Dari bahan mentah, proses pasteurisasi, saat kaleng dibuka, dan proses penyiapan. Entah karena botol dan sebagainya mungkin tercemar.

Laporan mengenai infeksi Enterobacter sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang memiliki risiko tertinggi terinfeksi Enterobacter sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Enterobacter sp. merupakan patogen nosokomial yang menjadi penyebab berbagai macam infeksi termasuk bakteremia, infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih, infeksi dalam perut, radang jantung, radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi mata.

Angka kematian akibat infeksi Enterobacter sakazakii mencapai 40-80%. Sebanyak 50% pasien yang dilaporkan menderita infeksi Enterobacter sakazakii meninggal dalam waktu satu minggu setelah diagnosa. Hingga kini belum ada penentuan dosis infeksi Enterobacter sakazakii, namun sebesar 3 cfu/100 gram dapat digunakan sebagai perkiraan awal dosis infeksi.

Meskipun sangat jarang, infeksi karena bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing.

Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau risiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena Enterobacter sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan.

Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko untuk mengalami infeksi ini.

Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang)  pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain Enterobacter sakazakii untuk bertahan hidup pada suhu 58 derajat celsius dalam pemanasan rehidrasi susu formula.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, sejak tahun 1961-2003 di seluruh dunia ditemukan 48 bayi yang terkena. Meski berbahaya, bakteri ini gampang dilumpuhkan. Mati dalam air panas 70 derajat Celcius. Jika diaduk dalam air mendidih, dalam 15 detik bakteri mati. Meski mudah, Menkes mengimbau, bayi enam bulan jangan minum susu formula. Sebab bayi usia itu sangat bersiko.

  • Pencegahan Timbulnya Bakteri pada Susu

Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih menegaskan, bakteri Entero­bacter Sakazakii (ES) dalam susu formula bayi sebetulnya tidak semuanya berisiko bagi kese­hatan tubuh.

Masyarakat tidak perlu resah, karena sebetulnya tidak semua orang memiliki risiko dari ter­papar bakteri Enterobacter sakazakii. Menkes memastikan, bakteri Enterobacter sakazakii bakal mati sendirinya jika bubuk susu dicampur air panas bersuhu minimal 70 derajat cel­sius. Selain itu, bakteri Enterobacter sakazakii juga tidak bakal membahayakan bagi setiap bayi. Apalagi, pada anak-anak dan orang dewasa. Bakteri Enterobacter sakazakii, menurut Menkes, hanya bisa berdampak fatal pada bayi yang lahir prematur dan bayi di bawah usia 28 bulan ke bawah dengan berat badan rendah.

Hingga kini, kata Menkes be­lum ada penelitian khusus ber­kaitan dengan sejumlah kasus diare, demam tinggi, atau radang otak pada bayi yang terkorelasi dengan kon­sumsi susu tercemar. Sekretaris Jenderal Kemenkes Ratna Rosita Hendardji juga menyatakan, Kemenkes atau BPOM tidak memiliki relevansi secara ilmiah  meng­umum­kan merek susu terkontaminasi hasil penelitian IPB.  Pasalnya, temuan susu ter­cemar bakteri Enterobacter sakazakii yang dila­kukan peneliti IPB, Sri Estu­ningsih, terjadi pada rentang wak­tu yang cukup jauh yaitu se­pan­jang tahun 2003-2006.

Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa negara tersebut sebenarnya Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), United States Food and Drug Administration (USFDA)  dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.

Adapun susu formula cair yang siap saji dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup.  Dengan demikian, di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di Indonesia, produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya.

Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi risiko infeksi tersebut adalah cara penyajian yang baik dan benar. Di antaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setiap kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan hang time atau waktu antara kontak susu dan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningktkan risiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut.

Hal lain yang penting adalah memerhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi, dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan  pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.

Terlepas benar-tidaknya akurasi temuan tersebut, sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA, tetapi tidak terjadi kasus luar biasa.

Hal ini karena mungkin sebagian besar adalah kuman non pathogen atau yang tidak berbahaya. Tetapi apa pun juga, jangan sampai terjadi banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan mengantisipasi keadaan.

  • Menkes Jamin Susu Formula di Pasaran Bebas Bakteri Enterobacter Sakazakii

Menteri Kesehatan memastikan susu formula yang beredar di masyarakat aman dikonsumsi. Dikatakan Menkes, pihaknya tidak mengetahui hasil penelitian IPB yang menyebut sejumlah susu formula yang beredar di pasaran mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii. Jadi yang punya datanya adalah IPB, sedangkan Kementerian Kesehatan dan BB POM sudah menjamin susu formula yang beredar di pasaran saat ini aman dikonsumsi.

Menkes sendiri mengaku tidak tahu merk-merk susu yang menjadi objek penelitian IPB dalam kurun waktu April hingga Juni 2006 itu. Pasalnya IPB tidak melaporkan penelitian tersebut ke Kemenkes.

Meski ada jaminan aman, Menkes minta agar susu formula tidak diberikan pada bayi berusia di bawah enam bulan. Untuk bayi di bawah usia enam bulan, berikan ASI saja.

Dikatakan Menkes bakteri Enterobacter Sakazakii terbagi menjadi dua jenis. Ada yang berbahaya, dan tidak berbahaya. Dua jenis bakteri itu pasti mati kalau dipanaskan dengan suhu 70 derajat celcius. Bakteri itu akan mati dalam waktu 15 detik.

Untuk diketahui, Menkes mengumumkan susu berbakteri ini setelah sembilan bulan Mahkamah Agung (MA) memproses dan memenangkan gugatan David Tobing konsumen susu formula mewakili 2 anaknya kepada Menteri Kesehatan RI, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan BPOM untuk segera mengumumkan sejumlah merek susu formula produksi tahun 2003-2006 yang mengandung Enterobacter Sakazii.

Sebelumnya, SRI ESTUNINGSIH peneliti IPB, menemukan susu tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa 22,73% susu formula (dari 22 sample), 40% makanan bayi (dari 15 sampel), yang dipasarkan pada April-Juni 2006 telah terkontaminasi Enterobacter Sakazaki. Namun, ESTU merahasiakan nama-nama susu tercemar tersebut.

BAB III

KESIMPULAN

Enterobacter Sakazakii pertama kali ditemukan pada  1958. Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi Enterobacter Sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk.

Proses pencemaran terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya.

Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Antisipasi dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa Negara tersebut sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.

Sri Estuningsih (Estu) awalnya berburu bakteri dalam susu formula untuk penelitian doktoral saat menempuh pendidikan bidang Mikrobiologi dan Patologi di Justus Liebig Universitat, Gieben, Jerman. Penelitian yang awalnya mencari penyebab diare pada bayi, dengan fokus pada Salmonella, Shigella dan E. Coli sebagai bakteri penyebab diare, justru menemukan Enterobacter Sakazakii.

Estu justru menemukan cemaran Enterobacter Sakazakii sebanyak 13,5%, atau ditemukan dalam 10 dari 74 sampel. Pada 2004 bakteri itu masih ditemukan dalam 3 sampel dari 46 sampel yang diteliti.

Harry Suhardiyanto, Rektor IPB mengatakan untuk mengumumkan jenis susu yang aman dan tidak aman demi memenuhi kepentingan publik merupakan kewenangan BPOM, apalagi BPOM telah melakukan penelitian paling baru dari segi waktu serta mencakup seluruh jenis susu formula dan makanan bayi yang ada.

Penolakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengumumkan merek susu formula yang mengandung bakteri Entrobacter Sakazakii, berbuntut panjang. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sahabat Muslim, melaporkan persoalan ini ke Bareskrim Mabes Polri. Terlapornya adalah, Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kustantinah, dan Rektor Institut Pertanian Bogor, Herry Suhardiyanto.

Guna mengantisipasi kemungkinan adanya masyarakat yang mengalami kondisi gangguan kesehatan yang diduga bersumber dari mengkonsumsi susu formula tercemar bakteri,  LSM Sahabat Muslim membuka posko pengaduan masyarakat korban susu formula tercemar bakteri, di kawasan Jalan Harapan Indah, Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Daftar sebagian merek susu hasil riset BPOM yang bebas bakteri sakazakii :

Tahun 2009

  • Frisian Flag Tahap I (MD.810409118005, exp Oktober 2010)
  • Susu Lactona 1 (MD.810412070003, exp Mei 2010)
  • Susu Lactogen 1 (MD.819413370001, exp Mei 2010)

Tahun 2010

  • Anmum Infacare (ML.510406002076, exp Desember 2011)
  • Frissian Flag 1 (MD.810409118005, exp Juli 2011)
  • Frissian Flag Tahap 2 (MD.810309117005, exp Desember 2011)

Tahun 2011 (sampai Februari)

  • Bimbi Lola Rendah Laktose (MD 810413009417)
  • Neosure (ML 510415007019)
  • Enfamil A+ (ML 810411066019)

Institut Pertanian Bogor, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta Menteri Kesehatan didesak untuk segera mengumumkan nama-nama merek susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii. Hal ini sesuai dengan putusan Mahkamah Agung (MA) yang mewajibkan ketiganya membuka secara transparan nama-nama itu melalui media cetak dan elektronik.

Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006 telah terkontaminasi Enterobacter sakazakii.

Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, menegaskan kembali bahwa susu formula yang saat ini beredar di pasaran aman untuk dikonsumsi. Menkes mengimbau kepada semua masyarakat yang memiliki anak balita untuk tidak diberi susu formula merk apapun. Usia bayi setengah tahun lebih baik diberi air susu ibu (ASI). Untuk ketahanan bayi, ASI sangat perlu diberikan sejak dini.

Sesuai dengan ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) susu berlabel formula itu sebenarnya susu yang dibeli sesuai petunjuk/resep dokter serta tidak bisa dijual bebas.

Kamis, 10 Februari 2011, Menteri Kesehatan menggelar konferensi pers. Sehari sebelumnya beredar kabar bahwa Departemen Kesehatan akan mengumumkan nama-nama susu formula yang mengandung bakteri yang berbahaya itu. Dalam konferensi pers itu, Menteri Endang mengecam keras pembagian gratis susu-susu formula kepada sejumlah klinik bersalin.  Jangan minum susu formula kalau bayi belum enam bulan. Karena bayi usia itu berisiko.

Lalu soal daftar susu formula yang berbahaya itu Ibu Menteri tak mau mengumumkannya. Meski MA sudah memutuskan kasus ini tanggal 26 April 2010, Endang memastikan belum menerima pemberitahuan resmi dari PN Jakarta Pusat. Ia mengaku sudah mengetahui keputusan itu dari laman Mahkamah Agung.

Ditengah maraknya berita mengenai bakteri Enterobacter Sakazakii yang mencemari berbagai produk susu formula dan makanan instan untuk bayi dan balita (yang hasil penelitiannya sebenar sudah dirampungkan oleh para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dilaporkan kepada BPOM sejak tahun 2006), Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya sumber nutrisi yang terlengkap dan terbaik untuk bayi dan balita.

Laporan mengenai infeksi Enterobacter sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang memiliki risiko tertinggi terinfeksi Enterobacter sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Masyarakat tidak perlu resah, karena sebetulnya tidak semua orang memiliki risiko dari ter­papar bakteri Enterobacter sakazakii. Menkes memastikan, bakteri Enterobacter sakazakii bakal mati sendirinya jika bubuk susu dicampur air panas bersuhu minimal 70 derajat cel­sius. Selain itu, bakteri Enterobacter sakazakii juga tidak bakal membahayakan bagi setiap bayi. Apalagi, pada anak-anak dan orang dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://nasional.vivanews.com/news/read/204465-soal-susu-berbakteri-mulai-ke-polisi
  2. http://nasional.vivanews.com/news/read/204190-ini-merek-susu-yang-bebas-bakteri-sakazakii
  3. http://nasional.vivanews.com/news/read/204183-menkes-pastikan-susu-formula-aman-dikonsumsi
  4. http://jatim.vivanews.com/news/read/204181–susu-formula-seharusnya-pakai-resep-dokter-
  5. http://fokus.vivanews.com/news/read/204042-merk-susu-berbakteri-masih-teka-teki
  6. http://www.komhukum.com/kriminal-feed-1388
  7. http://id.wikipedia.org/wiki/Enterobacter_sakazakii
  8. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1779977-proses-pencemaran-dan-antisipasi-bakteri/#ixzz1L4TcxU1H
  9. http://health.kompas.com/read/2011/02/10/08414748/Apa.Sih.Enterobacter.Sakazakii.Itu.
  10. http://aimi-asi.org/2008/02/aimi-kembali-ke-asi/
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Berita Gunadarma

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: