Lovelycimutz's Blog

Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja pada PT. Mandom Indonesia Tbk.

ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA PADA PT. MANDOM INDONESIA Tbk.
(2008-2010)

Lasma Martha
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

ABSTRAK
Modal kerja merupakan suatu aktiva lancar yang digunakan dalam operasi perusahaan yang memerlukan pengelolaan dengan baik oleh manajer perusahaan. Modal kerja berperan penting untuk menentukan besarnya tingkat keberhasilan kegiatan suatu perusahaaan. Modal kerja dapat berbentuk uang maupun barang. Perusahaan selalu menggunakan modal kerja untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari, seperti pembelian bahan baku, pembelian peralatan dan perlengkapan, membayar gaji pegawai dan upah buruh, dan lain-lain. Besarnya modal kerja harus dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya agar perusahaan dapat memperoleh hasil yang diharapkan. Pengendalian jumlah modal kerja secara efektif dan efisien dapat menambah jumlah laba perusahaan serta menjamin kelangsungan operasi perusahaan. Tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah untuk mengetahui apa saja sumber dan penggunaan modal kerja, besarnya jumlah kenaikan atau penurunan modal kerja serta penyebab kenaikan atau penurunan modal kerja pada PT Mandom Indonesia Tbk. Adapun metode yang digunakan oleh penulis adalah dengan analisis laporan neraca yang diperbandingkan dalam tiga periode. Dari hasil perhitungan neraca dapat diketahui bahwa pada tahun 2008-2009 perusahaan mengalami kenaikan modal kerja sebesar Rp. Rp. 49.648.886.826 dan pada tahun 2009-2010 perusahaan mengalami kenaikan modal kerja sebesar Rp. Rp.68.163.805.716.

Kata Kunci: Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Daftar Pustaka (2001-2010)

PENDAHULUAN

Perkembangan ekonomi yang sangat pesat menyebabkan terjadinya persaingan kuat dalam dunia usaha. Dalam menjalankan kegiatan usaha,  suatu perusahaan akan selalu membutuhkan modal kerja. Modal kerja berperan penting untuk menentukan besarnya tingkat keberhasilan suatu perusahaan. Modal kerja berperan penting untuk menentukan besarnya tingkat keberhasilan kegiatan suatu perusahaaan. Modal kerja dapat berbentuk uang maupun barang. Perusahaan selalu menggunakan modal kerja untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari, seperti pembelian bahan baku, pembelian peralatan dan perlengkapan, membayar gaji pegawai dan upah buruh, dan lain-lain. Besarnya modal kerja harus dialokasikan sesuai dengan kebutuhannya agar perusahaan dapat memperoleh hasil yang diharapkan. Pengendalian jumlah modal kerja secara efektif dan efisien dapat menambah jumlah laba perusahaan serta menjamin kelangsungan operasi perusahaan. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA PADA PT. MANDOM INDONESIA Tbk.”

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis sumber dan penggunaan dana dalam pengertian modal kerja disebut analisis sumber dan penggunaan modal kerja, merupakan analisis mengenai aliran dana yang memperbesar modal kerja dan memperkecil modal kerja. Modal kerja di perusahaan adalah pos-pos yang ada di aktiva lancar dan utang lancar. Terdapat konsep modal kerja kuantitatif yaitu modal kerja yang dihitung dari keseluruhan jumlah aktiva lancar. Konsep kedua adalah modal kerja kualitatif atau sering disebut modal kerja bersih, yaitu kelebihan aktiva lancar diatas utang lancar. Dalam analisis sumber dan penggunaan modal kerja, perubahan yang terjadi pada unsur-unsur aktiva lancar dan utang lancar disebut unsur-unsur current account tidak mempengaruhi perubahan naik turunnya modal kerja. Modal kerja akan berubah apabila unsur-unsur yang ada selain aktiva lancar dan utang lancar berubah. Unsur-unsur yang berubah tersebut, misalnya pada aktiva tetap, hutang jangka panjang dan modal sendiri. Analisa sumber dan penggunaan dana digunakan untuk mengetahui darimana dana didapatkan dan untuk apa dana itu dibelanjakan. Laporan yang menggambarkan darimana dana didapatkan dan untuk apa dana itu digunakan disebut dengan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana.  Pengertian Dana yang digunakan dalam analisis sumber dan penggunaan dana dalam artian sempit diartikan sebagai kas. Sedangkan dalam artian luas diartikan sebagai Modal Kerja. Dalam laporan sumber dan penggunaan modal kerja tidak tercantum di dalamnya sumber-sumber dari penggunaan dana yang berasal dari unsur-unsur modal kerja sendiri, karena perubahan-perubahan yang hanya menyangkut unsur-unsur aktiva lancar dan utang lancar saja kedua accounts tersebut disebut current account atau tidak akan mengakibatkan perubahan modal kerja (netto). Dengan Demikian maka jumlah modal kerja hanya akan berubah jika ada perubahan unsur-unsur non current account (Aktiva tetap, utang jangka panjang dan modal sendiri). Yang mempunyai efek memperbesar modal disebut sebagai sumber modal kerja. Sedangkan yang mempunyai efek mengurangi modal kerja disebut sebagai penggunaan modal kerja. Modal kerja merupakan dana yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan, terutama yang memiliki jangka waktu pendek. (Kasmir,2011,249)

Ada tiga konsep atau definisi modal kerja yang umumnya dipergunakan
yaitu : (Bambang Riyanto,2008:57)
1. Konsep Kuantitatif
Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam
unsur-unsur aktiva lancar dimana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali
berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva dimana dana yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek.
2. Konsep Kualitatif
Apabila pada konsep kuantitatif modal kerja itu hanya dikaitkan dengan besarnya jumlah aktiva lancar saja, maka pada konsep kualitatif ini modal kerja juga dikaitkan dengan besarnya jumlah utang lancar atau utang yang segera harus dibayar.
3. Konsep Fungsionil
Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan (income).

Modal Kerja dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : (Bambang Riyanto,2008:61).
1. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital), yaitu modal
kerja yang tetap harus ada dalam perusahaan untuk menjalankan fungsinya atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus-menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
2. Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital) yaitu modal kerja
yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan.

Modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan dapat dipenuhi dari dua
sumber : (Indriyo Gitosudarmo dan H.Basri,2002:42)
a. Sumber Intern (internal sources). Adalah modal kerja yang dihasilkan oleh perusahaan sendiri sendiri dari aktivitas operasional.
b. Sumber Ekstern (external sources). Adalah modal kerja yang berasal dari luar aktivitas perusahaan.

Manfaat utama modal kerja adalah menjaga tingkat likuiditas suatu perusahaan. Dengan modal kerja yang memadai, suatu perusahaan akan mampu membayar seluruh kewajiban jangka pendeknya, memiliki cadangan yang cukup untuk menghindari kekurangan persediaan, dan memberikan piutang kepada pelanggan sehingga hubungan dengan pelanggan dapat terus dipertahankan. (Handono Mardiyanto,2009,98)

METODE PENELITIAN

Konsep dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan Analisis Sumber dan penggunaan Modal kerja pada PT. Mandom Indonesia Tbk. (2008-2010).
Data dalam penelitian ini dikumpulkan  melalui menggunakan Data Sekunder yaitu data Primer yang telah diolah. Data sekunder disini adalah Laporan Keuangan PT. Mandom Indonesia yaitu berupa Laporan Neraca periode tahun 2008-2010.

PEMBAHASAN

Tabel 4.4

PT. Mandom Indonesia Tbk

Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Per 31 Desember 2008/2009

(Dalam Rupiah)

Tahun 2008-2009

Sumber

Penggunaan

(-) Aktiva Tetap (+) Aktiva Tetap
Piutang lain-lain 167.371.728 Aset pajak tangguhan 449.084.542
Biaya dibayar dimuka 827.990.395 Aset tetap 12.868.873.802
Beban tangguhan hak atas tanah 626.465.528 Perangkat lunak komputer 6.345.306.773
Uang jaminan 30.231.070
(+) Hutang Jangka Panjang
Kewajiban Imbalan Pasca Kerja 3.089.351.296
(+) Saldo Laba
Ditentukan penggunaannya 2.010.666.700
Tidak ditentukan penggunaannya 62.281.111.866
Laba belum direalisasi atas perubahan nilai wajar efek 339.425.500
TOTAL SUMBER 69.342.383.013 TOTAL PENGGUNAAN 19.693.496.187
(+) MODAL KERJA 49.648.886.826
TOTAL 69.342.383.013 69.342.383.013

Tabel 4.5

PT. Mandom Indonesia Tbk

Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Per 31 Desember 2009/2010

(Dalam Rupiah)

Tahun 2009-2010

Sumber

Penggunaan

(-) Aktiva Tetap (+) Aktiva Tetap
Piutang lain-lain 112.256.940 Biaya dibayar dimuka 177.699.387
Aset tetap 3.100.312.901 Aset pajak tangguhan 3.691.015.039
Beban tangguhan hak atas tanah 545.224.524 Perangkat lunak komputer 4.620.165.391
Uang jaminan 68.331.716
(+) Hutang Jangka Panjang
Kewajiban Imbalan Pasca Kerja 5.280.071.541
(+) Saldo Laba
Tidak ditentukan penggunaannya 67.103.765.343
Laba belum direalisasi atas perubahan nilai wajar efek 579.386.000
TOTAL SUMBER 76.721.017.249 TOTAL PENGGUNAAN 8.557.211.533
(+) MODAL KERJA 68.163.805.716
TOTAL 76.721.017.249 76.721.017.249

Setelah dilakukan penyusunan atau pembuatan laporan perubahan modal kerja pada akhir tahun 2009 terlihat adanya kenaikan aktiva lancar dan utang lancar. Untuk tahun 2008 jumlah modal kerja sebesar 435.810.755.216 lebih kecil dibandingkan jumlah modal kerja tahun 2009 sebesar 485.459.642.042 yang berarti terjadi kenaikan modal kerja sebesar 49.648.886.826. Pada tahun 2010 terlihat adanya kenaikan aktiva lancar dan utang lancar. Untuk tahun 2009 jumlah modal kerja sebesar 485.459.642.042 lebih kecil dibandingkan jumlah modal kerja tahun 2010 sebesar 553.623.447.758 yang berarti terjadi kenaikan modal kerja sebesar 68.163.805.716. Hal ini disebabkan karena adanya unsur modal kerja yang bertambah dan berkurang dalam dua periode yang dibandingkan.

PENUTUP

Kesimpulan
Hasil analisa sumber dan penggunaan modal kerja menunjukkan bahwa tahun 2008-2009 sumber modal kerja sebesar 69.342.383.013 dan penggunaan modal kerja sebesar 19.693.496.187 jadi mengalami kenaikan modal kerja sebesar 49.648.886.826. Tahun 2009-2010 sumber modal kerja sebesar 76.721.017.249 dan penggunaan modal kerja sebesar 8.557.211.533 jadi mengalami kenaikan modal kerja sebesar 68.163.805.716. Sumber modal kerja tahun 2008-2009 adalah piutang lain-lain, biaya dibayar dimuka, beban tangguhan hak atas tanah, kewajiban imbalan pasca kerja, saldo laba ditentukan penggunaannya, saldo laba tidak ditentukan penggunaannya, laba belum direalisasi atas perubahan nilai wajar efek. Sumber modal kerja tahun 2009-2010 adalah piutang lain-lain, aset tetap, beban tangguhan hak atas tanah, kewajiban imbalan pasca kerja, , saldo laba tidak ditentukan penggunaannya, laba belum direalisasi atas perubahan nilai wajar efek. Penggunaan modal kerja tahun 2008-2009 adalah aset pajak tangguhan, aset tetap, perangkat lunak komputer dan uang jaminan. Penggunaan modal kerja tahun 2009-2010 adalah biaya dibayar dimuka, aset pajak tangguhan, perangkat lunak komputer dan uang jaminan.

Saran
Perusahaan dapat melakukan pengendalian terhadap jumlah sumber modal kerja yang dimiliki agar sumber modal kerja perusahaan tetap dalam keadaan stabil yaitu berada di atas jumlah penggunaan modal kerja sehingga perusahaan tetap dapat melakukan investasi dalam rangka meningkatkan laba perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Handono Mardiyanto, 2009, Intisari Manajemen Keuangan, PT. Grasindo, Jakarta

Bambang Riyanto, 2008, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta

Husnan Suad, 2008, Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan. BPFE Yogyakarta

Indriyo Gitosudarmo dan H. Basri, 2002, Manajemen Keuangan edisi 4, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta

Martono dan D. Agus Harjito, 2001, Manajemen Keuangan, Ekonosia, Yogyakarta

Munawir, 2010. Analisa Laporan Keuangan. Liberty Yogyakarta

www.mandom.co.id

 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AUDIT DELAY PADA PERUSAHAAN LQ 45 YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Faktor-faktor yang diuji dalam penelitian ini yaitu ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor. Sampel penelitian ini adalah 23 perusahaan LQ 45 yang tercatat di BEI (Bursa Efek Indonesia) dari tahun 2008-2011 yang diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. Faktor-faktor tersebut kemudian diuji dengan menggunakan regresi linier berganda pada tingkat signifikansi 5 persen. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, dan opini auditor secara signifikan berpengaruh terhadap audit delay, sedangkan tingkat profitabilitas dan reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap audit delay pada perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Kata Kunci: Audit Delay, Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, Opini Auditor, Tingkat Profitabilitas, Reputasi Auditor.

PENDAHULUAN

Salah satu kriteria profesionalisme dari auditor adalah ketepatan waku penyampaian laporan auditnya. Ketepatan waktu perusahaan dalam mempublikasikan laporan keuangan kepada masyarakat umum dan kepada BAPEPAM juga tergantung dari ketepatan waktu auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Ketepatan waktu ini terkait dengan manfaat dari laporan keuangan itu sendiri.

Halim (2000) menyebutkan bahwa ketepatan waktu penyajian laporan keuangan dan laporan audit (timeliness) menjadi prasyarat utama bagi peningkatan harga saham perusahaan tersebut. Di sisi lain, auditing merupakan kegiatan yang membutuhkan waktu sehingga adakalanya pengumuman laba dan laporan keuangan tertunda.

Pemenuhan standar oleh auditor tidak hanya berdampak pada lamanya penyelesaian laporan audit, tetapi juga berdampak pada peningkatan kualitas hasil audit. Pelaksanaan audit yang semakin sesuai dengan standar membutuhkan waktu semakin lama. Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan. Perbedaan waktu ini dalam audit sering disebut dengan audit delay.

Ketertundaan laporan keuangan ini dapat berdampak negatif pada reaksi pasar. Makin lama masa tunda, maka relevansi laporan keuangan makin diragukan. Chambers dan Pennan (1984) dalam Subekti (2004) menunjukkan bahwa pengumuman laba yang terlambat menyebabkan abnormal returns negative, sedangkan pengumuman laba yang lebih cepat menunjukkan hasil sebaliknya. Hal ini terjadi karena investor pada umumnya menganggap keterlambatan pelaporan keuangan merupakan pertanda buruk bagi kondisi kesehatan perusahaan.

Berbagai penelitian mengenai audit delay telah dilakukan. Penelitian ini mengkonfirmasi kembali kesimpulan dari penelitian-penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yangmempengaruhi audit delay. Hasil penelitian Whittred (1980), membuktikan bahwa audit delay yang lebih panjang dialami oleh perusahaan yang menerima pendapat qualified opinion. Fenomena ini terjadi karena proses pemberian pendapat qualified tersebut melibatkan negosisasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior dan perluasan lingkup audit.

Hossain (1998) melakukan penelitian pada perusahaan-perusahaan publik di Pakistan dengan menggunakan sampel 103 perusahaan yang terdaftar di Karachi Stock Exchange pada tahun 1993. Variabel yang digunakan dalah ukuran perusahaan, debt equity ratio, perusahaan melaporkan laba / rugi, adanya cabang perusahaan untuk perusahaan multinasional, dan auditor. Dari hasil uji korelasi, antar variabel independen menunjukkan adanya korelasi yang tinggi antara variabel cabang dalam perusahaan multinasional dan auditor dibandingkan korelasi variabel-variabel perusahaan lainnya.

Subekti dan Widiyanti (2004), berhasil membuktikan bahwa audit delay yang panjang dialami oleh perusahaan yang tingkat profitabilitasnya tinggi, ukuran perusahaan besar, perusahaan non- financial mendapatkan opini selain wajar tanpa pengecualian dan diaudit oleh KAP besar (the big six).

Penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali beberapa faktor – faktor dalam penelitian terdahulu yang mempengaruhi audit delay seperti ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor, khususnya pada perusahaan LQ 45.

Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: Apakah terdapat pengaruh antara ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor terhadap audit delay?

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

Laporan Keuangan

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 Revisi 2009, laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Sedangkan tujuan dari adanya laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas, yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

Para pemakai laporan keuangan akan menggunakannya untuk meramalkan, membandingkan, dan menilai dampak keuangan yang timbul dari keputusan ekonomis yang diambilnya.

Audit Delay

Audit delay merupakan lamanya atau rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit (Halim,2000). Diungkap dalam penelitian Subekti dan Widiyanti (2004), perbedaan waktu yang sering dinamakan dengan audit delay adalah perbedaan antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan yang mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan oleh auditor.

Dyer dan Mc Hugh (dalam Hilmi dan Ali, 2008) menggunakan tiga criteria keterlambatan untuk melihat ketepatan waktu dalam penelitiannya, yakni:

1. Preliminary lag : interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai penerimaan laporan akhir preliminary oleh bursa.

2. Auditor’s report lag : interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal laporan auditor ditandatangani.

3. Total lag : interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal penerimaan laporan dipublikasikan oleh bursa.

Audit delay inilah yang dapat mempengaruhi ketepatan informasi yang dipublikasikan, sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat ketidakpastian keputusan yang berdasarkan informasi yang dipublikasikan (Kartika, 2009).

Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan bisa berpengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Keterlambatan informasi akan menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Informasi laba yang dihasilkan perusahaan dijadikan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan yang dimiliki oleh investor. Artinya, informasi yang dipublikasikan tersebut akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham.

Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dapat dinilai dari beberapa segi. Besar kecilnya ukuran suatu perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar aktiva suatu perusahaan maka akan semakin besar pula modal yang ditanam, semakin besar total penjualan suatu perusahaan maka akan semakin banyak juga perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula perusahaan dikenal oleh masyarakat (Hilmi dan Ali, 2008).

Menurut Dyer dan Mc. Hugh (1975) dalam Kartika (2009), perusahaan besar lebih konsisten untuk tepat waktu dibandingkan perusahaan kecil dalam menginformasikan laporan keuangannya. Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan maka semakin pendek audit delay dan sebaliknya.

Perusahaan besar diduga akan menyelesaikan proses auditnya lebih cepat dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor yaitu manajemen perusahaan yang berskala besar cenderung diberikan insentif untuk mengurangi audit delay dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas permodalan dari pemerintah. Pihak-pihak ini sangat berkepentingan terhadap informasi yang tercantum dalam laporan keuangan.

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :

H1 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap audit delay.

Laba/Rugi Operasi

Menurut Hassanudin (dalam Utami, 2006), laba menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Perusahaan tidak akan menunda penyampaian informasi yang berisi berita baik. Dengan demikian perusahaan yang meraih laba cenderung lebih tepat waktu dalam pelaporan keuangannya dibandingkan dengan perusahaan yang mengalami kerugian.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Ashton dan Elliot (dalam Subekti dan Widiyanti, 2004), bahwa ada beberapa alasan yang mendorong terjadinya kemunduran publikasi laporan keuangan, yaitu pelaporan laba atau rugi sebagai indikator berita baik atau berita buruk atas kinerja manajerial perusahaan dalam setahun. Menurut Ashton (dalam Prabandari dan Rustiana, 2007), perusahaan yang mengumumkan rugi untuk periode tersebut akan mengalami audit delay yang lebih panjang.

Menurut Carslaw (dalam Kartika, 2009), ada dua alasan mengapa perusahaan yang menderita kerugian cenderung mengalami audit delay yang lebih panjang. Pertama, ketika kerugian terjadi perusahaan ingin menunda berita buruk tersebut, sehingga perusahaan akan meminta auditor untuk menjadwal ulang penugasan audit. Kedua, auditor akan lebih berhati-hati selama proses audit jika percaya bahwa kerugian ini mungkin disebabkan karena kegagalan keuangan perusahaan atau kecurangan manajemen.

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut:

H2 : Laba/rugi operasi perusahaan berpengaruh terhadap audit delay.

Opini Auditor

Opini audit adalah pendapat akuntan independen atas laporan keuangan tahunan perusahaan yang telah diaudit. Auditor sebagai pihak yang independen didalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan akan memberikan opini atas laporan keuangan yang diauditnya. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) mengharuskan pembuatan laporan setiap kali kantor akuntan public dikaitkan dengan laporan keuangan.

Laporan audit merupakan media yang digunakan auditor dalam berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan yang diaudit olehnya. Pendapat auditor tersebut disajikan dalam suatu laporan tertulis yang umumnya berupa laporan audit baku yang terdiri dari tiga paragraf yaitu paragraf pengantar (introductory paragraph), paragraf lingkup (scope paragraph), dan paragraf pendapat (opinion paragraph). Laporan audit hanya dibuat jika audit benar-benar dilakukan. Bagian dari laporan audit yang merupakan informasi utama dari laporan audit adalah opini audit.

Carslaw dan Kaplan (1991) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara opini auditor dengan audit delay. Perusahaan yang tidak menerima jenis pendapat akuntan unqualified opinion akan menunjukkan audit delay lebih panjang dibanding dengan perusahaan yang menerima opini unqualified opinion.

Hal ini terjadi karena proses pemberian pendapat selain wajar tanpa pengecualian melibatkan negosiasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior atau staf teknis lainnya, dan perluasan lingkup audit (Elliot 1982 dala Halim 2000). Selain itu, perusahaan yang menerima opini selain unqualified opinion dianggap sebagai berita buruk sehingga penyampaian laporan keuangan akan diperlambat (Wirakusuma, 2004).

Berdasarkan uraian diatas,maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :

H3 : Opini auditor berpengaruh terhadap audit delay.

Tingkat Profitabilitas

Profitabilitas sering digunakan sebagai pengukur kinerja manajemen serta efisiensi penggunaan modal kerja sehingga dapat menghasilkan laba bagi perusahaan. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu (Hanafi dan Halim, 2003:85). Semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Tingkat profitabilitas diperkirakan mempengaruhi audit delay dan timeliness.

Menurut Givoly & Palmon (1982), ketepatan waktu dan keterlambatan pengumuman laba tahunan dipengaruhi oleh isi laporan keuangan. Jika pengumuman laba berisi berita baik maka pihak manajemen akan cenderung melaporkan tepat waktu dan jika pengumuman laba berisi berita buruk, maka pihak manajemen cenderung melaporkan tidak tepat waktu. Carslaw & Kaplan (1991) menyatakan bahwa perusahaan yang mengalami rugi cenderung memerlukan auditor untuk memulai proses pengauditan lebih lambat dari biasanya. Oleh karena hal tersebut, maka akan terjadi pula keterlambatan dalam menyampaikan kabar buruk kepada publik.

Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang lebih tinggi membutuhkan waktu dalam pengauditan laporan keuangan lebih cepat dikarenakan keharusan untuk menyampaikan kabar baik secepatnya kepada publik. Mereka juga memberikan alasan bahwa auditor yang menghadapi perusahaan yang mengalami kerugian memiliki respon yang cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan proses pengauditan.

Dari uraian diatas, tampak bahwa tingkat profitabilitas suatu perusahaan mempengaruhi rentang waktu penyelesaian audit dan pengumuman laporan keuangan tahunan.

Berdasarkan uraian diatas,maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :

H4 : Tingkat profitabilitas berpengaruh terhadap audit delay.

Reputasi Auditor

Dalam menyampaikan suatu laporan atau informasi akan kinerja perusahaan kepada publik yang akurat dan terpercaya, perusahaan diminta untuk menggunakan jasa KAP. Dan untuk meningkatkan kredibilitas dari laporan itu, perusahaan menggunakan jasa KAP yang mempunyai reputasi atau nama baik. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan KAP yang berafiliasi dengan KAP besar yang berlaku universal yang dikenal dengan Big Four Worldwide Accounting Firm atau Big Four (Hilmi dan Ali, 2008).

Hasil penelitian Ashton, et al., Schwartz dan Soo (dalam Utami, 2006), menemukan bahwa audit delay akan lebih pendek bagi perusahaan yang diaudit oleh KAP yang tergolong besar. Hasil tersebut juga diperkuat dengan hasil penelitian Ahmad dan Kamarudin (2003) yaitu bahwa audit delay pada KAP Big Four akan lebih pendek dibandingkan dengan audit delay pada KAP kecil.

Hal ini diasumsikan karena KAP besar memiliki karyawan dalam jumlah yang besar, dapat mengaudit lebih efisien dan efektif, memiliki jadwal yang fleksibel sehingga memungkinkannya untuk menyelesaikan audit tepat waktu, dan memiliki dorongan yang lebih kuat untuk menyelesaikan auditnya lebih cepat, guna menjaga reputasinya. Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang memakai jasa KAP besar cenderung tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya.

Berdasarkan uraian diatas,maka hipotesis yang dapat disusun adalah sebagai berikut :

H5: Reputasi auditor berpengaruh terhadap audit delay.

METODE PENELITIAN

Pemilihan Sampel dan Pengolahan Data

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008 sampai 2011. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 23 perusahaan untuk masing-masing periode. Jumlah data dalam penelitian ini adalah sebanyak 92 perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berbentuk laporan keuangan yang ada di Bursa Efek Indonesia dan laporan opini auditor independen. Semua data tersebut diperoleh dari halaman web (website) resmi Bursa Efek Indonesia http://www.idx.co.id.

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel independen terdiri dari lima variabel yaitu ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor. Untuk variabel dependen hanya satu yaitu audit delay.

1. Audit Delay

Audit delay diukur secara kuantitatif dalam jumlah hari, yaitu jangka waktu antara tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal yang tertera pada laporan auditor independen. Sebagai contoh, laporan keuangan perusahaan periode 2008 dengan tanggal tutup buku 31 Desember 2008 mempunyai laporan auditor dengan tanggal 21 Maret 2009. Dengan demikian audit delay pada perusahaan tersebut selama 80 hari.

2. Ukuran Perusahaan

Penelitian ini menggunakan total asset yang kemudian diproksi dengan menggunakan natural log (Ln) sebagai tolak ukur skala perusahaan.

3. Laba/Rugi Operasi

Variabel ini diukur dengan menggunakan dummy yaitu untuk perusahaan yang mengalami laba diberi kode dummy 1, sedangkan yang mengalami rugi diberi kode dummy 0.

4. Opini Auditor

Penelitian ini menggunakan dua klasifikasi pendapat auditor, yaitu wajar tanpa pengecualian (Unqualified OpinionI) dengan kode dummy 1 dan selain wajar tanpa pengecualian (Qualified Opinion) dengan kode dummy 0.

5. Tingkat Profitabilitas

Penelitian ini menggunakan ROA (Return On Asset) yaitu laba bersih dibagi dengan total aset. Perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi diduga akan menyelesaikan audit lebih cepat dibandingkan perusahaan dengan tingkat profitabilitas rendah.

6. Reputasi Auditor

Variabel ini diukur dengan menggunakan dummy yaitu untuk KAP yang berafiliasi dengan Big Four diberi kode dummy 1, sedangkan KAP yang tidak berafiliasi dengan Big Four diberi kode dummy 0.

Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

A. Analisis Statistik Deskriptif

Penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif, yaitu untuk mengukur variabel penelitian dengan mean (rata-rata), nilai minimum dan maksimum, dan standar deviasi setiap variabel penelitian. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan software SPSS 17.

B.  Uji Asumsi Klasik

1. Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan antarvariabel yang hendak dianalisis sesuai dengan garis linear atau tidak. Pada uji linearitas, pengambilan keputusan didasarkan dengan melihat nilai signifikan pada Deviation from Linearity. Apabila nilai signifikan > 0.05, maka hubungan antarvariabel adalah linear. Sebaliknya, apabila nilai signifikan < 0.05, maka hubungan antarvariabel tidak linear.

2. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Pengambilan keputusan didasarkan dengan melihat nilai signifikan. Apabila nilai signifikan > 0.05, maka distribusi data normal, sebaliknya apabila nilai signifikan < 0.05, maka distribusi data tidak normal.

3. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Dalam melakukan pengujian terhadap multikolinearitas, dapat menggunakan nilai tolerance dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance di atas 0.10 dan VIF di bawah 10, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas dari multikolinearitas.

4. Uji Auto Korelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Uji autokorelasi dapat menggunakan uji Durbin-Watson. Model regresi yang bebas dari autokorelasi adalah jika nilai Durbin-Watson, berada diantara nilai batas atas (dU) dengan 4-dU. Ketentuan yang digunakan dalam uji Durbin-Watson adalah sebagai berikut:

1)  dW < dL, berarti ada autokorelasi positif

2)  dL< dW < dU, tidak dapat disimpulkan

3)  dU < dW < 4-dU, berarti tidak terjadi autokorelasi.

4)  4-dU < dW < 4-dL, tidak dapat disimpulkan

5)  dW > 4-dL, berarti ada autokorelasi negatif

5. Uji Heterokedastisitas

Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi yang digunakan terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Apabila residual variance dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain berbeda, maka disebut heteroskedastisitas, sebaliknya jika variance dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas.

C. Uji Hipotesis

1. Uji Regresi Variabel Dummy

Tujuan dari uji regresi variabel dummy dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan linier antara variabel independen berskala nominal terhadap variabel dependen berskala interval. Pengujian dilakukan dengan menggunakan angka signifikansi dengan ketentuan apabila nilai signifikansi > 0.05, maka ada hubungan linier antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sebaliknya, apabila nilai signifikansi < 0.05 maka tidak ada hubungan linier antara variabel independen terhadap variabel dependen.

2. Uji Regresi Linier Berganda

Model regresi linier berganda yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y= α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4 X4 + β5 X5 + e

Keterangan :

Y = Audit Delay (AUDLY)

X1 = Ukuran Perusahaan (SIZE) X2 = Laba/Rugi Operasi (PROFIT) X3 = Profitabilitas (ROA)

X4 = Opini Auditor (OPINI) X5 = Reputasi Auditor (REP)

β = Koefisien Regresi X1, X2, X3, X4, X5

α = Konstanta

e = Koefisien variabel lain yang belum diteliti

3. Uji Parsial (Uji t)

Uji t digunakan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh dari variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent) secara individu (parsial).

Jika sign t < 0.05 maka suatu variabel bebas secara individu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Sebaliknya, jika sign t > 0.05 maka suatu variabel bebas secara individu tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.

4. Uji Simultan (Uji F)

Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh secara kesuluruhan (simultan) variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika tingkat signifikan F dari hasil pengujian lebih kecil dari 0.05, maka variabel independen secara serentak berpengaruh terhadap audit delay.

PEMBAHASAN

A. Analisis Statistik Deskriptif

Hasil analisis statistik deskriptif yang berisi nilai maksimum, minimum, mean, dan standar deviasi dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1

Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Descriptive Statistics

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

AUDLY

92

25

131

67.97

21.095

SIZE

92

15.36

20.13

17.1768

1.39361

ROA

92

-62.38

40.67

9.9568

13.96580

Valid N (listwise)

92

 Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Berdasarkan tabel diatas maka dapat diketahui bahwa variabel audit delay memiliki rata-rata 67.97 hari dengan nilai minimum 25 hari pada Lippo Karawaci Tbk pada tahun 2010, nilai maksimum 131 hari pada Telekomunikasi Indonesia Tbk pada tahun 2008, dan standar deviasi sebesar 21.095 < nilai rata-rata 67.97 menandakan perbedaan lamanya audit delay antar perusahaan adalah kecil.

Variabel ukuran perusahaan (SIZE) memiliki rata-rata 17.1768 dengan nilai minimum 15.36, nilai maksimum 20.13, dan standar deviasi 1.39361 < nilai rata-rata 17.1768 menandakan nilai total aset antara masing-masing perusahaan tidak berbeda jauh.

Variabel tingkat profitabilitas (ROA) memiliki nilai rata-rata 9.9568 dengan nilai minimum -62.38, nilai maksimum 40.67, dan standar deviasi 13.96580 > nilai rata-rata 9.9568 menandakan perbedaan profit antar perusahaan adalah besar.

B.  Uji Asumsi Klasik

1. Hasil Uji Linearitas

Dalam uji linearitas ini, hanya ada 2 variabel saja yang dapat diuji terhadap variabel AUDLY, yaitu variabel SIZE dan variabel ROA.

Tabel 2

Hasil Uji Linearitas AUDLY*SIZE ANOVA Table

Sum of

Mean

Squares

df Square

F

Sig.

AUDLY * Between (Combined)

37512.236

83

451.955

1.212

.417

SIZE Groups
Linearity

254.399

1

254.399

.682

.433

Deviation from

37257.837

82

454.364

1.219

.413

Linearity
Within Groups

2982.667

8

372.833

Total

40494.902

91

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai signifikan dari Deviation from Linearity adalah sebesar 0.413 yang berada diatas 0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara variabel AUDLY dan variabel SIZE adalah linear.

Tabel 3

Hasil Uji Linearitas AUDLY*ROA ANOVA Table

Sum of

Mean

Squares

df

Square

F

Sig.

AUDLY * Between (Combined)

40494.402

90

449.938

899.876

.027

ROA Groups
Linearity

473.056

1

473.056

946.112

.021

Deviation from

40021.346

89

449.678

899.356

.027

Linearity
Within Groups

.500

1

.500

Total

40494.902

91

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai signifikan dari Deviation from Linearity adalah sebesar 0.027 yang berada dibawah 0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara variabel AUDLY dan variabel ROA tidak linear.

2.  Hasil Uji Normalitas

Tabel 4 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Zscore:  AUDLY

N

92

Normal Parametersa,,b Mean

.0000000

Std. Deviation

1.00000000

Most Extreme Differences Absolute

.109

Positive

.094

Negative

-.109

Kolmogorov-Smirnov Z

1.044

Asymp. Sig. (2-tailed)

.226

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Tabel 4 menunjukan bahwa nilai signifikan adalah sebesar 0.226 yang berada di atas 0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi, data terdistribusi secara normal.

3.  Hasil Uji Multikolinearitas

Tabel 5

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

Collinearity Statistics

Model

Tolerance

VIF

1 SIZE

.550

1.818

PROFIT

.600

1.666

OPINI

.611

1.636

ROA

.376

2.660

REP

.362

2.761

a. Dependent Variable: AUDLY

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Tabel 5 menunjukan bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai tolerance di atas 0.10, dan seluruh variabel memiliki nilai Variance Inflation Factor (VIF) di bawah 10. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi, tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen.

4.  Hasil Uji Autokorelasi

Tabel 6 

Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb

Adjusted R

Std. Error of the

Model R

R Square

Square

Estimate

Durbin-Watson

1 .453a

.205

.163

22.887

1.827

a. Predictors: (Constant), REP, SIZE, PROFIT, OPINI, ROA

b. Dependent Variable: AUDLY

Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson (dW) sebesar 1.827 (mendekati 2) terletak diantara nilai batas atas (dU) dengan 4-dU. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi autokorelasi antara variable independen.

5.  Hasil Uji Heterokedastisitas

Menunjukkan bahwa pada grafik scatterplot terdapat titik-titik yang menyebar dan tidak membentuk pola tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi adanya heterokedastisitas.

C.  Uji Hipotesis

 1.  Analisis Regresi Variabel Dummy

Tabel 7

Hasil Analisis Regresi Varibel Dummy ANOVAb

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.
1 Regression

2754.202

3

918.067

4.141

.041a
Residual

37740.700

88

428.872

Total

40494.902

91

  1. Predictors: (Constant), REP, PROFIT, OPINI
  1. Dependent Variable: AUDLY

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Tabel 7 menunjukkan nilai signifikan yang diperoleh sebesar 0.041 yang berada dibawah 0.05. Artinya, ada hubungan linier antara variabel independen dengan variabel dependen.

2. Analisis Regresi Linier Berganda

Tabel 8

Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Coefficientsa

Standardized

Unstandardized Coefficients

Coefficients

Model

B

Std. Error

Beta

t

Sig.

1 (Constant)

32.579

33.800

.964

.338

SIZE

3.793

2.083

.251

1.925

.028

PROFIT

-21.320

11.195

-.251

-1.939

.036

OPINI

-7.355

8.443

-.114

-1.971

.049

ROA

.369

.251

.244

1.466

.146

REP

-8.986

8.627

-.177

-1.766

.081

a. Dependent Variable: AUDLY

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat dibuat model persamaan regresi berganda sebagai berikut:

AUDLY = 32.579 + Ln 3.793SIZE – 21.320PROFIT – 7.355OPINI + 0.369ROA – 8.986REP

Dari hasil persamaan regresi linier berganda, dapat dijelaskan bahwa:

1. Nilai α (kostanta) adalah positif sebesar 32.579, artinya apabila seluruh variabel independen (SIZE, PROFIT, OPINI, ROA, REP) dianggap konstan, maka audit delay yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang diteliti adalah sebesar 32.579 hari.

2. Koefisien ukuran perusahaan (SIZE) adalah sebesar 3.793, artinya apabila total aset mengalami kenaikan sebesar 1 satuan, sedangkan variabel independen lain (PROFIT, OPINI, ROA, REP) dianggap konstan, maka audit delay yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang diteliti akan bertambah sebesar 3.793 hari.

3. Koefisien laba/rugi operasi (PROFIT) adalah negatif sebesar -21.320 yang berarti bahwa untuk perusahaan yang mengalami laba mempunyai waktu audit yang lebih cepat 21.320 hari dibandingkan perusahaan yang mengalami kerugian. Variabel laba/rugi operasi adalah variabel dummy, dimana perusahaan yang mendapat laba diberi nilai 1 dan perusahaan yang mengalami rugi diberi nilai 0. Dengan kata lain bahwa perusahaan yang mengalami laba akan melakukan proses audit yang lebih cepat dibandingkan perusahaan yang mengalami rugi.

4. Koefisien opini auditor (OPINI) adalah negatif sebesar -7.355 yang berarti bahwa untuk perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion mempunyai waktu audit yang lebih cepat 7.355 hari dibandingkan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion. Variabel opini auditor adalah variabel dummy, dimana perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion diberi nilai 1 dan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion diberi nilai 0. Dengan kata lain bahwa perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion akan melakukan proses audit yang lebih cepat dibandingkan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion.

5. Koefisien tingkat profitabilitas (ROA) adalah positif sebesar 0.369, artinya apabila ROA mengalami kenaikan 1 satuan, sedangkan variabel independen lain (SIZE, PROFIT, OPINI, REP) dianggap konstan, maka audit delay yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang diteliti akan bertambah sebesar 0.369 hari.

6. Koefisien reputasi auditor (REP) adalah negatif sebesar -8.986 yang berarti bahwa untuk perusahaan yang menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four mempunyai waktu audit yang lebih cepat sebesar 8.986 hari dibandingkan perusahaan yang tidak menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four. Variabel reputasi auditor adalah variabel dummy, dimana perusahaan yang menggunakan jasa KAP kelompok Big Four diberi nilai 1 dan perusahaan yang tidak menggunakan jasa KAP kelompok Big Four diberi nilai 0. Dengan kata lain bahwa perusahaan yang menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four akan melakukan proses audit yang lebih cepat dibandingkan perusahaan yang tidak menggunakan jasa auditor yang berafiliasi dengan Big Four.

3. Hasil Uji t

Ø Hipotesis 1

Ho1: Tidak terdapat pengaruh ukuran perusahaan secara parsial terhadap audit delay.

Ha1: Terdapat pengaruh ukuran perusahaan secara parsial terhadap audit delay.

Nilai signifikan untuk variabel ukuran perusahaan (SIZE) adalah 0.028 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho1, dan menerima Ha1, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan (SIZE) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

Ø Hipotesis 2

Ho2: Tidak terdapat pengaruh laba/rugi operasi secara parsial terhadap audit delay.

Ha2: Terdapat pengaruh laba/rugi operasi secara parsial terhadap audit delay.

Nilai signifikan untuk variabel laba/rugi operasi (PROFIT) adalah 0.036 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho2, dan menerima Ha2, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel laba/rugi operasi (PROFIT) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

Ø Hipotesis 3

Ho3: Tidak terdapat pengaruh opini auditor secara parsial terhadap audit delay.

Ha3:   Terdapat  pengaruh  opini  auditor  secara  parsial  terhadap  audit delay.

Nilai signifikan untuk variabel opini auditor (OPINI) adalah 0.049 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho3, dan menerima Ha3, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel opini auditor (OPINI) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

Ø Hipotesis 4

Ho4: Tidak terdapat pengaruh tingkat profitabilitas secara parsial terhadap audit delay.

Ha4: Terdapat pengaruh tingkat profitabilitas secara parsial terhadap audit delay.

Nilai signifikan untuk variabel tingkat profitabilitas (ROA) adalah 0.146 berada lebih dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ha4, dan menerima Ho4, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel tingkat profitabilitas (ROA) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

Ø Hipotesis 5

Ho5: Tidak terdapat pengaruh reputasi auditor secara parsial terhadap audit delay.

Ha5: Terdapat pengaruh reputasi auditor secara parsial terhadap audit delay.

Nilai signifikan untuk variabel reputasi auditor (REP) adalah 0.081 berada lebih dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ha5, dan menerima Ho5, hal tersebut menunjukkan bahwa variabel reputasi auditor (REP) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

4.  Hasil Uji F

Tabel 9

Hasil Uji F (Uji Simultan) ANOVAb

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.
1 Regression

3898.461

4

974.615

2.317

.003a
Residual

36596.441

87

420.649

Total

40494.902

91

  1. Predictors: (Constant), REP, SIZE, PROFIT, OPINI, ROA
  1. Dependent Variable: Audit Delay

Sumber : Data diolah dengan SPSS 17

Berdasarkan tabel 9 dapat dilihat bahwa:

Ho6: Tidak terdapat pengaruh ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor secara simultan terhadap audit delay.

Ha6: Terdapat ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, opini auditor, tingkat profitabilitas, dan reputasi auditor secara simultan terhadap audit delay.

Nilai signifikan adalah 0.003 berada kurang dari 0.05, sehingga dalam penelitian ini menolak Ho6, dan menerima Ha6, yang berati bahwa terdapat pengaruh dari variabel bebas (SIZE, PROFIT, OPINI, ROA, REP) secara simultan terhadap audit delay.

5. Pembahasan

Berdasarkan penelitian ini tentang audit delay pada perusahaan LQ 45 tahun 2008-2011 dengan pengukuran terhadap faktor internal (ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, tingkat profitabilitas), dan faktor eksternal (opini auditor, reputasi auditor), dengan menggunakan analisis regresi berganda, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:

1. Audit delay yang terjadi pada perusahaan LQ 45 selama tahun 2008-2011, rata-rata 67.97 hari, nilai minimum sebesar 25 hari dimana laporan audit Lippo Karawaci Tbk tahun 2010 selesai pada tanggal 25 Januari 2011, dan nilai maksimum sebesar 131 hari dimana laporan audit Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2008 selesai pada tanggal 11 Mei 2009 . Pada perusahaan LQ 45 ukuran perusahaan tahun 2008-2011, rata-rata Ln total aset sebesar 17,1768 atau sebesar Rp 1,867,753,280 (dalam jutaan rupiah), nilai minimum sebesar 15.36 atau sebesar Rp 4,700,318 (dalam jutaan rupiah), dan nilai maksimum sebesar 20,13 atau sebesar Rp 551,891,704 (dalam jutaan rupiah). Laba/rugi operasi dalam perusahaan LQ 45 tahun 2008-1011, diketahui bahwa perusahaan yang mengalami laba adalah sebesar 93.5%, sedangkan perusahaan yang mengalami kerugian sebesar 6.5%. Opini auditor yang dihasilkan pada perusahaan LQ 45 tahun 2008-2011, diketahui bahwa perusahaan yang mendapatkan unqualified opinion sebesar 88%, sedangkan perusahaan yang mendapatkan qualified opinion sebesar 12%. Tingkat profitabilitas dalam perusahaan LQ 45 tahun 2008-2001 yang diukur dengan ROA menunjukkan rata-rata ROA sebesar 9.9568, nilai minimum sebesar -62.38, dan nilai maksimumsebesar 40.67. Reputasi auditor yang digunakan oleh perusahaan LQ 45 tahun 2008-2011, diketahui bahwa perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang berafiliasi dengan Big Four adalah sebesar 78.3%, sedangkan perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang tidak berafiliasi dengan Big Four adalah sebesar 21.7%.

2. Faktor Internal (Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, Tingkat Profitabilitas)

Ukuran Perusahaan

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 1. Ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif dan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.028 berada kurang dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009). Namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Subagyo (2009).

Diperkirakan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap audit delay, disebabkan perusahaan berskala besar cenderung menghadapi tekanan eksternal yang lebih tinggi untuk segera menyampaikan laporan keuangan, hal tersebut dikarenakan perusahaan besar tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas permodalan, dan pemerintah. Selain itu berdasarkan penelitian Ashton dan Elliot (1987) menunjukkan bahwa faktor aktiva memiliki pengaruh besar terhadap audit delay hal tersebut dikarenakan faktor ukuran perusahaan menggunakan total aktiva dalam kegiatan operasional perusahaan. Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan, maka semakin pendek audit delay.

Laba/Rugi Operasi

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 2, laba/rugi operasi (PROFIT) memiliki pengaruh negatif, namun secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tesebut diketahui dengan melihat nilai signifikan0.036 berada kurang dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009) karena jika perusahaan mendapatkan laba yang tinggi, maka tidak ada alasan bagi perusahaan untuk menunda penerbitan laporan keuangan auditannya. Alasan lain adalah karena informasi laba perusahaan dapat digunakan sebagai pengukur prestasi manajemen, dan juga sebagai indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang diwujudkan dengan tingkat pengembalian. Jadi, semakin laba suatu operasi perusahaan, maka audit delay-nya semakin pendek. Namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Imam Subekti (2006), yang berhasil membuktikan bahwa laba/rugi operasi secara signifikan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Hal ini berkaitan dengan ketidakstabilan kondisi ekonomi saat ini, dimana kebanyakan perusahaan yang mengalami kerugian diabaikan dalam pelaporan keuangannya karena kerugian dianggap sebagai hal yang biasa.

Tingkat Profitabilitas

Berdasarkan  hasil  analisis  regresi  linier  berganda  dan  uji  hipotesis  4.

Profitabilitas (ROA) memiliki pengaruh positif, namun secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.146 berada lebih dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009). Pada penelitian ini profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut dapat dikarenakan proses audit perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan kecil tidak berbeda dengan proses audit yang dilakukan oleh perusahaan dengan tingkat keuntungan yang besar, dimana baik perusahaan yang mengalami tingkat keuntungan besar ataupun kecil akan cenderung mempercepat proses audit.

3. Faktor Eksternal (Opini Auditor, Reputasi Auditor)

a. Opini Auditor

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 3. Opini auditor memiliki pengaruh negatif, namun secara parsial berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.049 berada kurang dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009), karena perusahaan yang menerima unqualified opinion cenderung tepat waktu di dalam penerbitan laporan keuangan audit karena hal tesebut dianggap good news sehingga perusahaan tidak akan menunda publikasi laporan keuangannya. Sebaliknya, perusahaan yang mendapatkan qualified opinion akan menunjukkan audit delay lebih lama karena proses pemberian opini auditor melibatkan negosiasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior dan perluasan ruang lingkup.

b.  Reputasi Auditor

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis 5. Reputasi auditor memiliki pengaruh negatif, namun secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.081 berada lebih dari 0.05. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Subekti (2005), bahwa audit delay dipengaruhi secara signifikan oleh ukuran KAP. Perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang berafiliasi dengan Big Four membutuhkan waktu audit yang lebih singkat, dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan jasa auditor independen yang tidak berafiliasi dengan Big Four. Namun penelitian ini menghasilkan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal ini bisa disebabkan baik KAP yang berafiliasi dengan Big Four ataupun KAP yang tidak berfiliasi dengan Big Four ingin memberikan pelayanan jasa audit yang semakin baik. Seperti yang terdapat dalam penelitian Subagyo (2009) bahwa KAP Non The Big Four sudah meningkatkan jumlah sumber daya manusianya dan sudah meningkatkan kinerjanya dalam melaksanakan perencanaan waktu penyelesaian audit.

Secara simultan seluruh variabel, baik faktor internal (ukuran perusahaan, laba/rugi operasi, tingkat profitabilitas), dan faktor eksternal (opini auditor, reputasi auditor), berpengaruh signifikan terhadap audit delay, hal tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikan 0.03 berada kurang dari 0.05.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil uji t (parsial) dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, dan Opini Auditor terhadap audit delay. Sedangkan berdasarkan hasil uji F (simultan), semua variabel independen yaitu Ukuran Perusahaan, Laba/Rugi Operasi, Opini Auditor, Tingkat Profitabilitas, dan Reputasi Auditor secara bersama-sama berpengaruh terhadap audit delay.

Saran

1. Bagi Perusahaan

Perusahaan diharapkan mampu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay sehingga tidak terjadi keterlambatan. Pemilihan Manajemen Perusahaan harus mampu mengefektifkan kinerja keuangan maupun non keuangannnya sehingga dapat mencapai tujuan perusahan dengan efektif dan efisien.

2. Bagi Penelitian Lanjutan

Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu peneliti memberikan saran untuk penelitian selanjutnya sebaiknya periode penelitian yang digunakan ditambah sehingga menghasilkan informasi yang lebih mendukung. Jumlah sampel yang digunakan dapat ditambah dan dapat diperluas ke beberapa sektor perusahaan. Variabel yang digunakan dapat ditambah dengan variabel-variabel lain diluar variabel yang telah digunakan dalam penelitian ini. Sehingga dapat lebih menambah pemahaman mengenai audit delay di Indonesia.

Implikasi

Implikasi dari hasil penelitian ini, yaitu:

1. Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi penulisan selanjutnya yang berhubungan dengan audit delay.

2. Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pemakai laporan keuangan dalam rangka membantu pengambilan keputusan.

3. Penelitian ini dapat menjadi informasi bagi auditor, tentang faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay. Auditor independen dapat memberikan informasi kepada perusahaan tentang faktor yang mempengaruhi audit delay, sehingga perusahaan dapat memberikan perhatian lebih terhadap faktor yang mempengaruhi audit delay. Sehingga audit delay diharapkan dapat berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Elder & Beasley. 2001. Auditing dan Pelayanan Verifikasi Pendekatan Terpadu. Edisi Kesembilan. Jakarta : PT Indeks Kelompok Gramedia.

Baridwan,Zaki. 2004. Intermediate Accounting. Edisi Kedelapan. Cetakan Pertama. Yogyakarta : BPFE.

Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Halim, Varianada. 2000. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay: Studi Empiris Perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Bisnis dan Akuntansi 2(1):63-75.

Haron, H, B. Hartadi, dan E. Subroto. 2006. Analysis of Factors Influencing Audit Delay (Empirical Study at Public Companies in Indonesia). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 6(1):95-121.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. Kartika, Andi. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Di Indonesia:

Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan LQ45 Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Bisnis dan Ekonomi. 16(1): 1-17.

Lestari. Dewi. 2010. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay: Studi Empiris Pada Perusahaan Consumer Goods Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Universitas Diponegoro Semarang.

Rachmawati,Sistya. 2008. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan Terhadap Audit Delay dan Timeliness. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 10(1): 1-10.

Sarwono, Jonathan. 2006. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS. Edisi 1. Yogyakarta : Penerbit ANDI.

Sekaran, Uma. 2003. Research Methods For Business. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Soetedjo, Soegeng. 2006. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Log (ARL). 9(2): 77-92.

Subekti, Imam. dan N.W. Widiyanti. 2004. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Audit Delay di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi VII:991-1002.

Sulistyo S, Joko. 2011. 6 Hari Jago SPSS. Cetakan Kedua. Yogyakarta : Cakrawala. Syafri Harahap, Sofyan. 2011. Teori Akuntansi. Edisi Revisi 11. Jakarta : PT Grafindo Persada.

Wirakusuma, Made Gde. 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rentang Waktu Penyajian Laporan Keuangan ke Publik. Simposium Nasional Akuntansi VII: 1202-1222.

PENGARUH KONDISI KEUANGAN, RASIO LIKUIDITAS, PROFITABILITAS, AKTIVITAS, DAN SOLVABILITAS TERHADAP PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA.

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah secara bersama-sama dan secara parsial Kondisi Keuangan Perusahaan dan Rasio Keuangan (Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas dan Solvabilitas) berpengaruh signifikan terhadap Opini Audit Going Concern.

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling, sehingga sampel yang didapat merupakan representasi dari populasi sampel yang ada serta sesuai dengan tujuan dari penelitian. Dengan menggunakan SPSS 17.0, diperoleh hasil bahwa Kondisi Keuangan Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Rasio Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Rasio Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern. Sedangkan Rasio Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Opini Audit Going Concern.

Berdasarkan penelitian ini, agar hasil penelitian dapat digeneralisasi, sebaiknya menambahkan variabel tambahan seperti rasio keuangan dan non keuangan yang lain sehingga hasil penelitian akan lebih baik dalam memprediksi penerbitan opini audit going concern secara tepat.

Kata kunci: Going Concern, Kondisi Keuangan Perusahaan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas.

ABSTRACT

The Purposes of the research are to know the composite influence and partial influence between Corporate Financial Condition and financial ratios (Liquidity, Profitability, Activity and Solvency) significantly influented to audit opinion going concern.

Sample in this research is mining companies which listed in Bursa Efek Indonesia in 2001 until 2010. Sample which used in this research is choosen by purposive sampling method, so sample which be obtained is representation from avaliable sample population and appropriate with the purpose of research. Used SPSS 17.0 the result is company’s financial condition significantly not influented to audit opinion going concern, liquidity ratio significantly not influented to audit opinion going concern, Activity ratio significantly not influented to audit opinion going concern, solvency ratio significantly not influented to audit opinion going concern. while profitability ratio significantly influented to audit opinion going concern. Based on this research the result of this research can be generalizied should be added additional variable as financial ratio and other non financial ratio , so the result will be better in predict audit opinion going concern publication appropriately.

Key words: Going Concern The Company’s Financial Condition, Liquidity Ratios, Profitability, Activity, and Solvency.

PENDAHULUAN

Keadaan ekonomi yang tidak stabil di Negara Indonesia seiring pertumbuhan ekonomi yang terjadi sejak krisis keuangan berskala global memberi dampak tersendiri terhadap perusahaan yang ada di Indonesia. Perekonomian di Indonesia mengalami keterpurukan, sehingga banyak perusahaan yang gulung tikar tidak bisa meneruskan usahanya. Tidak hanya perusahaan kecil yang mengalami pailit, namun perusahaan besar juga tidak sedikit yang akhirnya gulung tikar.

Dampak dari memburuknya kondisi ekonomi tersebut mengakibatkan makin meningkatnya opini Qualified Going Concern dan Disclaimer untuk penugasan tahun 1998. Auditor tidak bisa lagi hanya menerima pandangan manajemen bahwa segala sesuatunya baik. Penilaian going concern lebih didasarkan pada kemampuan perusahaan untuk melanjutkan operasinya dalam jangka waktu 12 bulan ke depan. (Dewi, 2009). “Untuk sampai pada kesimpulan apakah perusahaan akan memiliki going concern atau tidak, auditor harus melakukan evaluasi secara kritis terhadap rencana-rencana manajemen”.

Permasalahan going concern seharusnya diberikan oleh auditor dan dimasukkan dalam opini auditnya pada saat opini audit tersebut diterbitkan. Laporan audit penting sekali dalam suatu audit atau proses atestasi lainnya karena laporan audit menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya. Tujuan utama auditor menyusun laporan audit adalah untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti tentang laporan-laporan entitas dengan maksud agar dapat memberikan pendapat apakah laporan-laporan tersebut telah disajikan secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, yaitu prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP) (Boynton, et al, 2002).

Opini audit going concern (GCAO) merupakan asumsi dalam pelaporan keuangan suatu entitas sehingga jika suatu entitas mengalami kondisi yang berlawanan dengan asumsi kelangsungan usaha, maka entitas tersebut dimungkinkan mengalami masalah. Pengeluaran opini going concern yang tidak diharapkan oleh perusahaan berdampak pada kemunduran harga saham, kesulitan dalam meningkatkan modal pinjaman, ketidakpercayaan investor, kreditur, pelanggan, dan karyawan terhadap manajemen perusahaan. Hilangnya kepercayaan public terhadap citra perusahaan dan manajemen perusahaan tersebut akan memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlanjutan bisnis perusahaan di masa yang akan datang. Memburuknya citra perusahaan serta hilangnya kepercayaan dari kreditur akan menyulitkan perusahaan dalam hal tambahan dana guna membiayai operasional usahanya. Begitu juga dengan pelanggan, hilangnya pelanggan akan mengakibatkan terhentinya bisnis perusahaan. Apabila perusahaan tidak segera mengambil tindakan penanganan maka kebangkrutan usaha akan benar-benar terjadi.

Mengingat begitu besar pengaruh diberikannya opini audit going concern atas laporan keuangan auditee yaitu hilangnya kepercayaan publik terhadap manajemen perusahaan dalam mengelola usahanya, maka peneliti tertarik untuk untuk melakukan penelitian terkait opini audit going concern. Berdasarkan uraian di atas penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Kondisi Keuangan Perusahaan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.

KERANGKA PEMIKIRAN

Tanggung jawab auditor sangatlah mempengaruhi eksistensi komunitas emiten. Pendapat yang dikeluarkan tanpa adanya rekayasa pada laporan keuangn yang diaudit sangat menentukan bagi perusahaan untuk tetap melanjutkan hidup perusahaan atau tidak dimasa yang akan datang. Hal ini berarti auditor untuk lebih berhati-hati dalam memperhatikan kondisi perusahaan pada saat itu sampai pada opini audit yang akan dikeluarkan. Sedikit kesalahan atas opini audit, maka bukan hanya perusahan yang bisa terganggu atas kelangsungan hidupnya namun auditor dan kantor akuntannya akan mendapat nama buruk dimata masyarakat. Inilah alasan mengapa auditor memiliki tanggunng jawab terhadap going concern suatu perusahaan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan bagi auditor dalam memberikan opini atas kelangsungan hidup perusahaan diantaranya adalah Kondisi keuangan perusahaan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas.

METODE PENELITIAN

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling, sehingga sampel yang didapat merupakan representasi dari populasi sampel yang ada serta sesuai dengan tujuan dari penelitian. Proses seleksi sampel berdasarkan kriteria sebagai berikut:

  1. Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian (2001 – 2010) dan sudah terdaftar di BEI sebelum 1 Januari 2001.
  1. Perusahaan tidak keluar (delisting) di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian (tahun 2001 – 2010).
  1. Menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen selama tahun 2001 – 2010.

Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sampel sebanyak 12 perusahaan. Data diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) dan Indonesia Capital Market Directory (ICMD), situs resmi BEI dan BI di http://www.idx.co.id dan http://www.bi.go.id serta dari situs masing-masing perusahaan sampel.

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

1. Pengujian Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif berfungsi untuk mengetahui karakteristik sampel yang digunakan dalam penelitian. Tabel 4.4 menampilkan hasil pengujian statistik deskriptif untuk variabel independen dalam penelitian.

Table 4.3

Descriptive Statistics

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

GC

104

0

1

.35

.478

Zsc

104

-4.941

2.009

-2.05502

1.651719

LIK

104

.312

5.791

2.28384

1.302492

PRO

104

-.158

.280

.05704

.093362

AKT

104

.005

1.833

.68446

.400859

SOL

104

.011

1.019

.47691

.240831

Valid N (listwise)

104

Sumber: Hasil pengolahan data

Tabel diatas menunjukkan statistik deskriptif variabel penelitian opini audit going concern memiliki rata rata sebesar 0,35 dengan nilai minimum sebesar 0,00 dan maksimum sebesar 1,00 karena merupakan variabel dummy. Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,478, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,478.

Z score Zmijeski model memiliki rata rata sebesar -2,05502 dengan nilai minimum sebesar -4,941dan maksimum sebesar 2,009 Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 1,651719, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 1,651719.

Rasio Likuiditas memiliki rata rata sebesar 2,28384 dengan nilai minimum sebesar 0,312 dan maksimum sebesar 5,791. Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 1,302492, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 1,302492.

Rasio Profitabilitas memiliki rata rata sebesar 0,05704 dengan nilai minimum sebesar – 0,158 dan maksimum sebesar 0,280. Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,093362, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,093362.

Rasio Aktivitas memiliki rata rata sebesar 0,68446 dengan nilai minimum sebesar 0,005 dan maksimum sebesar 1,833 Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,400859, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,400859.

Rasio Solvabilitas memiliki rata rata sebesar 0,47691 dengan nilai minimum sebesar 0,011 dan maksimum sebesar 1,019 Standar deviasi untuk variabel ini sebesar 0,240831, hal ini dapat diartikan bahwa penyimpangan untuk variabel ini sebesar 0,240831.

2.      Analisis Hasil Penelitian

a.  Pengujian Kelayakan Model Regresi

Pengujian kelayakan model regresi logistik dapat dilakukan dengan menggunakan Goodness of fit test yang diukur dengan nilai Chi-Square pada bagian bawah uji Hosmer dan Lemeshow. Probalitas signifikansi yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α) 5%.

Tabel 4.6

Hosmer and Lemeshow Test

Step

Chi-square

df

Sig.

1

10.829

8

.212

Sumber: output SPSS

Tabel 4.6 menunjukkan hasil pengujian Hosmer dan Lemeshow. Probabilitas signifikansi menunjukkan angka 0,212. Angka tersebut menunjukkan bahwa H0 tidak dapat ditolak (diterima) karena nilai signifikansi yang diperoleh lebih besar daripada 0,05. Hal ini berarti model regresi layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya, karena tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang diamati. Atau dapat dikatakan bahwa model mampu memprediksi nilai observasinya.

b.  Pengujian Keseluruhan model (overall model fit)

Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai antara -2 Log Likelihood (-2LL) pada awal ( Block 0= Beginning Block) dengan nilai -2 Log Likelihood (-2LL) pada akhir (Block 1: Method = Enter). Adanya pengurangan nilai antara -2LL awal dengan nilai -2LL pada langkah berikutnya menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan fit dengan data. Hipotesis untuk menilai model fit adalah sebagai berikut: H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data.

HA : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data.

Tabel 4.7

Perbandingan Nilai -2LL awal dengan -2LL akhir

-2 LL awal (Block number = 0)

154,112

-2 LL akhir (Block number = 1)

96,252

Sumber: Output SPSS

Tabel 4.7 menunjukkan perbandingan nilai antara -2Log Likelihood (-2LL) pada awal (Block number = 0) dengan nilai -2LL akhir (Block number = 1). Nilai -2LL awal adalah sebesar 154,112. Setelah dimasukkan keempat variabel independen, maka nilai – 2LL akhir mengalami penurunan menjadi sebesar 96,252. Penurunan likelihood (-2LL) ini menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.

c.  Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square)

Besarnya nilai koefesien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square. Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti nilai R Square pada regresi berganda (Ghozali, 2006). Nilai ini didapat dengan cara membagi nilai Cox & Snell R Square dengan nilai maksimumnya. Nilai Nagelkerke R Square dapat dilihat pada tabel 4.8

Tabel 4.8

Model Summary

Cox & Snell R

Nagelkerke R

Step -2 Log likelihood

Square

Square

1 89.307a

.417

.577

a. Estimation terminated at iteration number 8 because parameter estimates changed by less than .001.

Sumber: Output SPSS.

Dilihat dari hasil output pengolahan data, nilai Nagelkerke R Square adalah sebesar 0,577 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 57,7%, sedangkan sisanya sebesar 42,3% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian. Atau secara bersama-sama variasi variabel bebas (Kondisi keuangan, Rasio Likuiditas, Profitabilitas, Aktivitas, dan Solvabilitas) dapat menjelaskan variasi variabel going concern sebesar 57,7%.

d.  Matriks Klasifikasi

Matrik klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan penerimaan opini audit going concern pada perusahaan pertambangan.

Tabel 4.9

Classification Tablea

Predicted
GC

Percentage

Observed

0

1

Correct

Step 1 GC

0

72

7

91.1

1

11

30

73.2

Overall Percentage

85.0

a. The cut value is .500

Sumber: Output SPSS

Kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern adalah sebesar 73,2%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model regresi yang digunakan, terdapat sebanyak 30 laporan keuangan yang diberi opini audit going concern dari total 41 laporan keuangan yang seharusnya diberi opini audit going concern. Kekuatan prediksi model perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern adalah sebesar 91,1%, yang berarti bahwa dengan model regresi yang digunakan ada sebanyak 72 laporan keuangan yang diberi opini audit non going concern dari total 79 laporan keuangan yang seharusnya diberi opini audit non going concern.

e.  Pengujian Koefisien Regresi

Pengujian koefisien regresi dapat diilakukan dengan regresi logistik yang hasilnya terdapat pada tabel 4.10

Tabel 4.10

Variables in the Equation

95% C.I.for EXP(B)

B

S.E.

Wald

df

Sig.

Exp(B)

Lower

Upper

Step Zsc

-1.885

1.429

1.740

1

.187

.152

.009

2.499

1a

-.239

.308

.601

1

.438

.788

.431

1.440

LIK
PRO

-26.150

10.024

6.806

1

.009

.000

.000

.001

AKT

-.573

.823

.484

1

.487

.564

.112

2.832

SOL

13.129

8.089

2.635

1

.105

503464.413

.066

3.863E12

Constant

-8.788

6.401

1.885

1

.170

.000

a. Variable(s) entered on step 1: LIK, PRO, AKT, SOL, Zsc.

Tabel 4.10 menunjukkan hasil pengujian dengan regresi logistik pada tingkat signifikansi 5%. Dari pengujian dengan regresi logistik di atas maka diperoleh persamaan regresi logistik sebagai berikut:

GC = -8.788 – 26.150PRO – 0.573 AKT + 13.129 SOL – 1.885 Zsc+e

H1 : Kondisi keuangan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern

Kondisi keuangan pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 1.885 dengan tingkat signifikansi 0,187 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa kondisi keuangan tidak berpengaruh dengan opini going concern, yang berarti H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kondisi keuangan perusahaan maka semakin kecil kemungkinan bagi auditor untuk memberikan opini audit going concern. Seorang auditor akan sangat memperhatikan kondisi keuangan perusahaan dalam menerbitkan opini audit going concern. Perusahaan yang tidak mempunyai permasalahan yang serius kemungkinan besar tidak akan menerima opini audit going concern. Berbeda dengan perusahaan yang mengalami permasalahan keuangan secara terus-menerus yang mengakibatkan nilai rasio Z Score rendah sehingga akan berpeluang besar untuk menerima opini audit going concern. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Arga (2006) dengan sampel perusahaan manufaktur yaitu kondisi keuangan perusahaan tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.

H2 : Rasio Likuiditas berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern

Rasio Likuiditas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 0,239 dengan tingkat signifikansi 0,438 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Likuiditas tidak berpengaruh dengan opini going concern yang berarti H2 ditolak. Makin kecil likluiditas, perusahaan kurang likuid karena banyak kredit macet sehingga opini audit harus memberikan keterangan mengenai going concern, dan sebaliknya semakin besar likuiditas perusahaan, maka semakin mampu pula perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajiban jangka pendeknya dengan tepat waktu. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh wulandari (2009) dimana variable keuangan (rasio likuiditas) berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.

H3 : Rasio Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern

Rasio Profitabilitas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 26,150 dengan tingkat signifikansi 0,009 lebih kecil dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Profitabilitas berpengaruh signifikan dengan opini going concern yang berarti H3 diterima.

Jadi, hubungan return on asset dengan opini audit adalah semakin kecil return on asset maka kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba semakin menurun sehingga ada keraguan mengenai going concern perusahaan. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh wulandari (2009) dimana variabel keuangan (rasio profitabilitas) tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.

H4 : Rasio Aktivitas berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern

Rasio aktivitas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien negatif sebesar 0,573dengan tingkat signifikansi 0,487 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern, yang berarti H4 ditolak. Semakin besar rasio aktivitas menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik, sehingga auditor tidak memberikan opini going concern pada perusahaan yang memiliki modal tinggi. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ramadhany (2004) dimana variable keuangan (rasio likuiditas, rasio laverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio penilaian) berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.

H5 : Rasio Solvabilitas berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern

Rasio Solvabilitas pada tabel 4.10 menunjukkan koefisien positif sebesar 13,125 dengan tingkat signifikansi 0,105 lebih besar dari 0,05 (5%). Artinya, dapat disimpulkan bahwa Rasio Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern, yang berarti H5 ditolak. Semakin tinggi rasio solvabilitas, semakin menunjukkan kinerja keuangan perusahaan yang buruk dan dapat menimbulkan ketidakpastian mengenai kelangsungan hidup perusahaan. Hal ini menyebabkan perusahaan lebih berpeluang mendapatkan opini audit going concern. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2007) dimana variabel keuangan (rasio likuiditas, rasio profitabilitas, dan rasio solvabilitas) tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Rasio solvabilitas tidak dapat dijadikan tolak ukur yang pasti untuk menentukan going concern atau kelangsungan hidup suatu perusahaan. Namun rasio solvabilitas dapat menjadi alat bantu dalam pengukuran kondisi keuangan perusahaan.

KESIMPULAN

a.  Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Kondisi keuangan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Z Score Zmijeski tidak berpengaruh signifikan dengan opini audit going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 1.885 dengan tingkat signifikansi 0,187. Dari hasil pengamatan, sampel yang dipakai adalah perusahaan – perusahaan yang berskala besar yang menghasilkan laba yang tinggi dan memiliki kinerja perusahaan yang baik sehingga auditor tidak memperhitungkan kondisi keuangan dalam pemberian opini audit going concern.

2. Rasio Likuiditas tidak berpengaruh dengan opini going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 0,239 dengan tingkat signifikansi 0,438 yang berarti H2 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa auditor dalam memberikan opini audit going concern tidak berdasarkan kemampuan perusahaan membayar hutang-hutang jangka pendeknya.

3. Rasio Profitabilitas berpengaruh signifikan dengan opini going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 26,150 dengan tingkat signifikansi 0,009 yang berarti H3 diterima.

4. Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern dengan nilai koefisien negatif sebesar 0,573 dengan tingkat signifikansi 0,487, yang berarti H4 ditolak. Rasio Aktivitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern karena sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah perusahan-perusahaan berskala besar yang rata-rata nilai penjualan bersihnya besar dan mendapatkan keuntungan yang besar.

5. Rasio Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan dengan opini going concern dengan nilai koefisien positif sebesar 13,125 dengan tingkat signifikansi 0,105, yang berarti H5 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa auditor dalam memberikan opini audit going concern tidak berdasarkan seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva akan tetapi lebih cenderung melihat kondisi keuangan secara keseluruhan.

b.  Saran

Dengan berbagai telaah dan analisa yang dilakukan serta berdasarkan keterbatasan-keterbatasan penelitian, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

  1. Memasukkan variabel tambahan seperti rasio keuangan dan non keuangan yang lain sehingga hasil penelitian akan lebih baik dalam memprediksi penerbitan opini audit going concern secara tepat.
  1. Menambah jumlah populasi dan sampel seperti, semakin banyak jumlah perusahaan semakin baik dalam memprediksi penerimaan opini audit going concern.

DAFTAR PUSTAKA

Arga Fajar Santosa, Tahun 2006. Dengan judul “Analisi Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan penerimaan Opini Audit Going Concern”

Ikatan Akuntan Indonesia, 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta: Salemba Empat.

Rahayu, Puji. 2007. ”Assesing Going Concern Opinion: A Study Based On Financial And Non-Financial Informations (Empirical Evidence Of Indonesian Banking Firm Listed On JSX and SSX)”. Simposium Nasional Akuntansi X Makassar.

Ramadhany, Alexander. 2004. Analisi Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Opini Going Concern Pada Perusahaan Manufaktur Yang Mengalami Financial Distress Di Bursa Efek Jakarta. Tesis S2. Universitas Dipenogoro, Semarang. Tidak Dipublikasikan.

Wulandari Juandini, Tahun 2009. “Pengaruh profitabilitas, likuiditas, pertumbuhan perusahaan, dan opini audit tahun sebelumnya terhadap penerimaan opini audit going concern pada perusahaanmanufaktur yang terdaftar di BEI”

ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN

 

ABSTRACT

This study aims to determine the effect the company’s financial condition (Revised Altman, Springate), debt default, Audit Quality, Company’s Growth, and Going Concern Opinion Audit. Sampling was done by purposive sampling of Commerce sector Mining in Indonesia Stock Exchange during the 10 years from 2001 – 2010.

Statistical analysis was performed multivariate testing, using logistic regression analysis to determine the factors that significantly affect the revenue going-concern audit opinion.

The result of logistic regression analysis of the five independent variables that affect the revenue expected going-concern audit opinion indicates Going Concern Opinion Audit and Company’s Growth variables that significantly affect the revenue going-concern audit opinion, and that the variable Financial Condition of the Company, Debt Default, Audit Quality no significant effect on acceptance going audit opinion concern.

Keywords : Financial Condition of the Company, Debt Default, Audit Quality, Company’s Growth, and Going Concern Opinion Audit.

 

PENDAHULUAN

Salah satu penelitian yang telah banyak dilakukan dibidang auditing adalah penelitian mengenai pemberian opini audit going concern oleh auditor terhadap auditee. Ruiz Barbadillo et al (2004) dalam setyarno (2006) menyatakan bahwa hingga saat ini topik tentang bagaimana tanggung jawab auditor dalam mengungkapkan masalah going concern masih menarik untuk diteliti. Going concern merupakan asumsi dasar dalam penyusunan laporan keuangan, suatu perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara meterial skala usahanya (standar akuntansi keuangan, 2002). Basri (1998) dalam fanny (2005) dan saputra menemukan sekitar 80% dari lebih 280 perusahaan yang sudah go public praktis bisa dikategorikan sudah bangkrut sebab nilai aset perusahaan-perusahaan tersebut saat ini jauh dibawah angka nominal utang atau pinjaman luar negerinya. Berdasarkan fakta ini, beberapa penelitian terdahulu mencoba untuk melihat sejauh mana kebangkrutan tersebut dapat diprediksikan beberapa waktu sebelum kebangkrutan tersebut benar-benar terjadi.

Altman dan McGough (1974) dalam Fanny dan Saputra (2005) mencoba untuk menganalisis tingkat keakuratan prediksi kebangkrutan dengan menggunakan opini auditor dan model prediksi kebangkrutan. Tingkat akurasi dengan menggunakan model prediksi kebangkrutan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan menggunakan opini audit, yaitu sebesar 82%. Beberapa studi terdahulu telah membuktikan 90% kasus kepailitan dapat diprediksi secara tepat satu tahun sebelum kepailitan terjadi Altman, (1968) dalam fanny dan saputra. .Altman dan McGough (1974) dalam Fanny dan Saputra (2005) juga menyarankan penggunaan model prediksi kebangkrutan sebagai alat bantu auditor untuk memutuskan kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan memberikan signal kepada auditor terhadap suatu masalah tertentu yang akan sulit dideteksi dengan menggunakan prosedur audit tradisional.

Mutchler et al, (1997) dalam Praptitorini dan januarti (2007) menemukan bukti bahwa keputusan opini going concern sebelum terjadinya kebangkrutan secara signifikan berkorelasi dengan probabilitas kebangkrutan dan variable lag laporan audit serta informasi berlawanan yang ekstrim (contrary information), seperti default. Jika default ini telah terjadi atau proses negoisasi tengah berlangsung dalam rangka menghindari default selanjutnya, auditor mungkin cenderung untuk mengeluarkan opini going concern. Pemberian opini going concern oleh auditor juga tidak terlepas dari opini audit yang diberikan tahun sebelumnya, karena kegiatan usaha pada suatu perusahaan untuk tahun tertentu tidak terlepas dari keadaan yang terjadi pada tahun sebelumnya. Penelitian-penelitian tentang opini going concern yang dilakukan di Indonesia antara lain dilakukan oleh. Setyarno (2006) menguji bagaimana pengaruh rasio-rasio keuangan auditee (rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio aktifitas, rasio leverage dan rasio pertumbuhan penjualan, ukuran auditee, skala auditor dan opini audit tahun sebelumnya terhadap opini audit going concern. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa rasio likuiditas dan opini audit tahun sebelumnya secara signifikan berpengaruh terhadap opini going concern.. Praptitorini dan januarti (2007) menguji bagaimana pengaruh kualitas audit, debt default dan opinion shopping terhadap penerimaan opini going concern, hasil penelitiannya debt default dan opini audit sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern. Penelitian yang menguji bagaimana pengaruh kualitas audit terhadap keputusan going concern dilakukan antara lain oleh Fanny dan Saputra (2005), Ramadhany (2004) dan Setyarno (2006). Fanny dan Saputra (2005) menggunakan Big Five dan Non Big Five sebagai proksi dari reputasi auditor, Ramadhany (2004) dan Setyarno (2006) menggunakan skala auditor sebagai proksi reputasi auditor.

Dari penelitian-penelitian sebelumnya dapat dilihat bahwa masalah going concern merupakan hal yang kompleks dan terus ada, sehingga diperlukan faktor-faktor sebagai tolak ukur yang pasti untuk menentukan status going concern pada perusahaan, dan kekonsisitenan faktor-faktor tersebut harus diuji agar dalam keadaan ekonomi yang fluktuatif going concern masih tetap dapat diprediksi.

Berdasarkan uraian di atas, masalah dalam penelitian ini adalah ‘’Apakah kondisi keuangan perusahaan, debt default, kualitas audit, opini audit tahun sebelumnya, pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern?’’ Penelitian ini berusaha untuk menguji pengaruh kondisi keuangan perusahaan, debt default, kualitas audit, opini audit tahun sebelumnya, pertumbuhan perusahaan terhadap penerimaan opini audit going concern

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan teori di Indonesia, khususnya mengenai masalah going concern. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan dan pemahaman tentamg masalah yang berkaitan dengan opini audit going concern.

2. Manfaat praktis

1. Bagi Investor dan calon investor

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberi informasi dan sebagai bahan pertimbangan mengenai going concern (kelangsungan usaha suatu perusahaan) sehingga para investor dan calon investor dapat mengambil keputusan yang tepat dalam melakukan investasi.

2. Bagi Auditor Independen

Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai pedoman, bahan pertimbangan dan bahan referensi bagi auditor dalam melaksanakan proses auditnya terutama dalam hal pemberian opini audit terhadap klien yang menyangkut masalah pemberian opini audit going concern

 

TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Going Concern

Going concern merupakan asumsi dasar dalam penyusunan laporan keuangan, suatu perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya (Standar Akuntansi Keuangan, 2004)

Hany et. al. (2003) dalam santosa dan wendari (2007) menyatakan Going concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha. Dengan adanya going concern maka suatu badan usaha dianggap akan mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka panjang atau tidak akan dilikuidasi dalam jangka pendek.

Suatu entitas dianggap going concern apabila perusahaan dapat melanjutkan usahanya dan memenuhi kewajibannya. Apabila perusahaan dapat melanjutkan usahanya dan memenuhi kewajibanya dengan menjual asset dalam jumlah yang besar, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar, merestrukturisasi hutang, atau dengan kegiatan serupa yang lain, hal yang demikian akan menimbulkan keraguan besar terhadap going concern

Opini Audit Going Concern

Auditor bertanggung jawab mengevaluasi apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Auditor dapat mengidentifikasi informasi mengenai kondisi atau peristiwa tertentu yang menunjukkan adanya kesangsian besar tentang kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, yaitu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit (Ikatan Akuntan Indonesia, 2001:seksi 341).

Laporan audit dengan modifikasi mengenai going concern merupakan suatu indikasi bahwa dalam penilaian auditor terdapat risiko auditee tidak dapat bertahan dalam bisnis. SPAP (PSA No. 30) memberikan pedoman kepada auditor tentang dampak kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya terhadap opini auditor.

1. Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, ia harus:

– memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang ditujukan untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut,

– menetapkan kemungkinan bahwa rencana tersebut secara efektif dilaksanakan.

2. Jika manajemen tidak memiliki rencana yang mengurangi dampak kondisi dan peristiwa terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya, auditor mempertimbangkan untuk memberikan pernyataan tidak memberikan pendapat.

3. Jika manajemen memiliki rencana tersebut, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh auditor adalah menyimpulkan efektivitas rencana tersebut.

4. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut tidak efektif, auditor menyatakan tidak memberikan pendapat.

5. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut efektif dan klien mengungkapkan dalam catatan laporan keuangan, auditor menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian.

6. Jika auditor berkesimpulan rencana tersebut efektif akan tetapi klien tidak mengungkapkan dalam catatan laporan keuangan, auditor memberikan pendapat tidak wajar.

Kondisi Keuangan Perusahaan

Kondisi keuangan perusahaan adalah suatu tampilan atau keadaan secara utuh atas keuangan perusahaan selama periode / kurun waktu tertentu. Kondisi keuangan merupakan gambaran atas kinerja sebuah perusahaan. Media yang dapat dipakai untuk meneliti kondisi kesehatan perusahaan adalah laporan keuangan yang terdiri dari neraca, perhitungan laba rugi, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan. Laporan keuangan adalah hasil akhir proses akuntansi.

Kondisi keuangan perusahaan merupakan tingkat kesehatan perusahaan sesungguhnya. Pada perusahaan yang sakit banyak ditemukan masalah going concern (Ramadhany, 2004). Kondisi ini digambarkan oleh rasio keuangan yang dapat memberikan indikasi apakah perusahaan dalam kondisi baik (sehat) atau dalam kondisi buruk (sakit). Perusahaan yang baik (sehat) mempunyai profitabilitas yang besar dan cenderung memiliki laporan keuangan yang sewajarnya sehingga potensi untuk mendapatkan opini yang baik akan lebih besar dibandingkan dengan jika profitabilitasnya rendah (Petronela, 2004).

Analisis keuangan yang mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan di bidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya di masa datang (Santosa dan Wedari, 2007). Dengan analisis keuangan ini dapat diketahui kekuatan serta kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio tersebut dapat memberikan indikasi apakah perusahaan memiliki kas yang cukup memadai untuk memenuhi kewajiban finansialnya, besarnya piutang cukup rasional, efisiensi manajemen persediaan, perencanaan pengeluaran investasi yang baik, dan struktur modal yang sehat sehingga tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat dicapai.

Semakin buruk kondisi keuangan perusahaan maka semakin besar probabilitas perusahaan menerima opini going concern (Setyarno, Indira & Faisal, 2006). Dengan menggunakan model prediksi Zscore Altman, hasil penelitian Ramadhany (2004) selaras dengan penelitian Mc Kweon, Mucthler & Hopwood (1991), Carcello dan Neal (2000). Mengacu pada penelitian yang dilakukan Fanny dan Saputra (2005), dalam penelitian ini akan digunakan dua model prediksi kebangkrutan untuk mengukur kondisi keuangan perusahaan yaitu Revised Altman Model, dan springate model.

1. Revised Altman Model (1993)

Model yang telah dikembangkan oleh Altman ini mengalami suatu revisi. Model yang lama mengalami perubahan pada salah satu variabel yang digunakan, yaitu mengubah market value of equity pada X4 menjadi book value of equity karena perusahaan privat tidak memiliki harga pasar untuk ekuitasnya. Selain itu tujuan dari revisi model Altman adalah agar model prediksinya tidak hanya digunakan pada perusahaan manufaktur yang go public tetapi juga dapat digunakan untuk perusahaan disektor swasta baik yang go public maupun non go public.

2.  The Springate Model (1978)

Springate menggunakan analisis multidiskriminan untuk meprediksi 40 perusahaan sampelnya. Model ini dapat digunakan untuk meprediksi kebangrutan dengan tingkat keakuratan 92,5 %.

Debt Default

Dalam PSA 30, indikator going concern yang banyak digunakan auditor dalam memberikan keputusan opini audit adalah kegagalan dalam memenuhi kewajiban hutangnya (default). Debt default didefinisikan sebagai kegagalan debitor (perusahaan) untuk membayar hutang pokok dan/ atau bunganya pada waktu jatuh tempo (Chen dan Church, 1992). Manfaat status default hutang sebelumnya telah diteliti oleh Chen dan Church (1992) yang menemukan hubungan yang kuat status default terhadap opini going concern. Semenjak auditor lebih cenderung disalahkan karena tidak berhasil mengeluarkan opini going concern setelah peristiwa-peristiwa yang menyarankan bahwa opini seperti itu mungkin telah sesuai, biaya kegagalan untuk mengeluarkan opini going concern ketika perusahaan dalam keadaan default, tinggi sekali. Karenanya, diharapkan status default dapat meningkatkan kemungkinan auditor mengeluarkan laporan going concern.

Kualitas Audit

Auditor bertanggung jawab untuk menyediakan informasi yang mempunyai kualitas tinggi yang akan berguna untuk pengambilan keputusa para pemakai laporan keuangan. Audit yang baik lebih cenderng akan mengeluarkan opini audit going concern apabilah klien terdapat masalah mengenai going concren.

Mutchler et al. (1997) dalam Praptitorini dan januarti (2007) menemukan bukti univariat bahwa auditor big 6 lebih cenderung menerbitkan opini audit going concern pada perusahaan yang mengalami financial distress dibandingkan auditor non big 6. Auditor skala besar dapat menyediakan kualitas audit yang lebih baik dibanding auditor skala kecil, termasuk dalam mengungkapkan masalah going concern. Semakin besar skala auditor, akan semakin semakin besar kemungkinan auditor untuk menerbitkan opini audit going concern.

Penelitian De Angelo (1981) dalam setyarno et. Al (2006) menyatakan bahwa auditor skala besar memiliki insentif yang lebih untuk menghindari kritikan kerusakan reputasi dibandingkan pada auditor skala kecil. Auditor skala besar juga lebih cenderung untuk mengungkapkan masalah-masalah yang ada karena mereka lebih kuat menghadapi resiko proses pengadilan. Argumen tersebut bearti bahwa auditor skala besar memiliki kemungkinan untuk melaporkan masalah going concern kliennya apabila terbukti klien terdapat masalah untuk kelangsungan usahanya dibandingkan dengan auditor skala kecil.

Di Indonesia terdapat Kantor Akuntan Big Four dan non-Big Four. Auditor Empat besar adalah kelompok empat firma jasa professional dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani mayoritas pekerjaan audit untuk perusahaan publik maupun perusahaan tertutup.

Opini Audit Tahun Sebelumnya

Opini audit going concern tahun sebelumnya ini akan menjadi faktor pertimbangan penting auditor untuk menerbitkan opini audit going concern tahun berikutnya. Apabila auditor menerbitkan opini audit going concern tahun sebelumnya maka akan semakin besar kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern. Nogler (1995) dalam carcello dan Neal (2000) memberikan bukti bahwa setelah auditor mengeluarkan opini going concern, perusahaan harus menunjukkan peningkatan keuangan yang signifikan untuk memperoleh opini bersih pada tahun berikutnya. Jika tidak mengalami peningkatan keuangan maka pengeluaran opini audit going concern dapat diberikan. Ramadhany (2004) dalam penelitian analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan opini audit going concern pada perusahaan manufaktur yang mengalami financial distress di BEJ. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern.

Pertumbuhan Perusahaaan

Dalam penelitian ini pertumbuhan perusahaan diproksikan dengan rasio pertumbuhan laba. Laba yang tinggi pada umumnya menandakan arus kas yang tinggi (weston dan brigham, 1993) dalam Santosa dan Wedari (2007). Perusahaan yang mempunyai pertumbuhan laba yang tinggi cenderung memiliki potensi untuk mendapatkan opini yang baik (opini non-going concern) akan lebih besar.

Altman (1968) dalam petronela (2004) mengemukakan bahwa perusahaan dengan negative growth mengindikasikan kecederungan yang lebih besar kearah kebangrutan sehingga perusahaan yang laba tidak akan mengalami kebangrutan, karena kebangrutan merupakan salah satu dasar bagi auditor untuk memberikan opini audit going concern maka perusahaan yang negatif akan makin tinggi kecenderungan untuk menerima opini audit going concern.

Pengembangan Hipotesis Penelitian

Berdasarkan landasan teori di atas, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut:

H1: Kondisi keuangan perusahaan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern.

Debt default berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Kualitas Audit berpengaruh positif terhadap penerimaan audit going concern

Opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern

 

METODE PENELITIAN

Populasi dan sampel

Pada penelitian ini populasi perusahaan yang digunakan adalah perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI dari tahun 2001– 2010, perusahaan pertambangan dipilih sebagai populasi karena total perdagangan dari sektor ini merupakan yang terbesar dari sektor lainnya, semakin besar total perdagangan yang dimiliki perusahaan maka semakin besar ukuran perusahaan tersebut sehingga semakin kecil perusahaan tersebut untuk menerima opini audit going concern.

Sedangkan tahun penelitian dipilih dari tahun 2001 karena perekonomian Indonesia nampaknya masih belum mampu mempercepat proses pemulihan ekonomi Indonesia setelah krisis, hal ini disebabkan karena berbagai kendala menghadang laju perekonomian nasional diantaranya fundamental ekonomi yang masih lemah, sehingga menyebabkan daya beli masyarakat melemah, tidak ada investor asing yang mau menanamkan investasinya di Indonesia, kondisi ini menyebkan banyak perusahaan yang tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya..

Pengambilan Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan metode purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut :

1. Perusahaan pertambangan terdaftar di BEI 1 Januari 2001 – 2010.

2. Perusahaan tidak keluar (delisting) dari BEI selama periode penelitian (2001-2010).

3. Menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen per 31 Desember dari tahun 2001-2010.

Data/Variabel yang Digunakan

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media prantara, yaitu laporan keuangan auditan perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2001-2010 yang telah dipublikasikan.

Identifikasi dan Pengukuran Variabel

Variabel tidak bebas ( dependen variable )

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah opini audit going concern (GCAO), yaitu opini audit modifikasi yang dalam pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian signifikan atas kelangsungan hidup perusahaan dalam menjalankan operasinya. Pada perusahaan GCAO diberi kode 1, sedangkan  NGCAO diberi kode 0.

Variabel bebas ( independen variable )

1. Kondisi Keuangan Perusahaan

Dalam penelitian ini Kondisi Keuangan Perusahaan diproksikan dengan menggunakan model prediksi kebangkrutan Revised Altman dan springate .

1. Model Revised Altman

Model Revised Altman (1993), model yang dikembangkan sebelumnya mengalami revisi yang tujuannya adalah agar model prediksinya tidak hanya digunakan manufaktur saja, melainkan juga dapat digunakan untuk perusahaan selain manufaktur. Rumus yang digunakan adalah :

Z =  0,717 Z1 + 0,847 Z2 + 3,107 Z3 + 0,420 Z4 + 0,998 Z5

Dimana :

Z1 : Working capital to Total Asset Z2 : Retained earnings to Total Asset

Z3 : Earnings before interest and tax to Total asset Z4 :Book value of equity to Book value of debt

Z5 : Sales to Total Asset

2. Model Springate

Springate menggunakan analisis multi diskriminan untuk meprediksi 40 perusahaan sampelnya. Rumus yang digunakan adalah:

S= 1.03 A + 3.07 B + 0.66 C + 0.4 D Dimana:

A = Working Capital to Total  Assets

B = Net profit before interest and taxes/total asset

C = Net profit before taxes/curent liability

D = Sales/Total asset

3. Debt default (DEFAULT)

Debt default atau kegagalan membayar hutang didefinisikan sebagai kelalaian atau kegagalan perusahaan untuk membayar hutang pokok atau bunganya pada saat jatuh tempo. Variabel dummy yang digunakan (1 = status debt default, 0 = tidak debt default) untuk menunjukkan apakah perusahaan dalam keadaan default atau tidak sebelum pengeluaran opini audit.

 2. Kualitas Auditor

Variabel kualitas auditor dalam penelitian ini, dapat dilihat melalui laporan auditor independen melalui KAP yang digunakan oleh masing-masing perusahaan. Apabila KAP yang mengaudit laporan keuangan perusahaan termasuk KAP BIG FOUR maka diberi kode 1, sedangkan untuk selain KAP BIG FOUR diberi kode 0.

3. Opini audit tahun Sebelumnya

Variabel independen dalam penelitian ini adalah opini audit tahun sebelumnya, yaitu opini audit modifikasi yang dalam pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian signifikan atas kelangsungan hidup perusahaan dalam menjalankan operasinya pada tahun sebelumnya. Apabila pada tahun sebelumnya terdapat opini GC diberi kode 1, sedangkan opini NGC diberi kode 0.

4. Pertumbuhan Perusahaan

Dalam penelitian ini, variabel pertumbuhan perusahaan dilihat dengan pertumbuhan laba perusahaan setiap tahunnya. Variabel pertumbuhan laba perusahaan dalam penelitian dapat dicari melalui rumus:

Pertumbuhan labat = laba bersiht– lababersiht-1

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Deskriptif

Opini Audit Going Concern (GCAO)

Opini Audit Going concern adalah variabel dependen dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah variabel dummy. Dimana perusahaan yang mendapat opini audit going concern diberi kode 1, sedangkan perusahaan yang tidak mendapat opini audit going concern diberi kode 0. Tabel 4.2.1 menyajikan frekuensi data perusahaan yang mendapat opini going concern dan yang tidak mendapat opini going concern per tahun penelitian, mulai dari 2001-2010. Secara rata-rata dapat diketahui bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern sebanyak 31 perusahaan atau 33,3%. Sedangkan perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern sebanyak 62 perusahaan atau 66,7%. jadi dapat diketahui bahwa secara keseluruhan, mayoritas perusahaan sampel mendapat non opini audit going concern yang berarti perusahaan mampu mempertahankan kegiatan usahanya.

Kondisi Keuangan

Kondisi keuangan bermasalah jika perusahaan memiliki modal kerja negatif, arus kas negatif, pendapatan operasi negatif, kerugian pada tahun berjalan, dan defisit saldo berjalan. Tabel 4.2.2 menampilkan secara ringkas mengenai distribusi kondisi keuangan perusahaan baik yang menerima opini audit going concern maupun yang tidak menerima opini audit going concern jika dilihat dari total modal kerja, laba rugi tahun berjalan, dan saldo laba tahun berjalan. Berdasarkan tabel 4.2.2 dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern 54,8% diantaranya memiliki modal kerja yang positif, 58,1% memiliki laba positif dan 61,3% memiliki saldo laba ditahan positif, rata-rata ini lebih besar dari perusahaan yang memiliki modal kerja negatif yaitu sebesar 45,2%, 41,9% memiliki laba yang negatif, dan 38,7% memiliki saldo laba ditahan yang negatif. Sedangkan dari 62 perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern 91,9% diantaranya memiliki modal kerja positif dan sisanya 8,1% memiliki modal kerja negatif, perusahaan yang memiliki laba positif sebesar 100% dan 95,2% perusahaan yang memiliki saldo laba positif, sisanya 4,8% memiliki saldo laba ditahan negatif. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan baik perusahaan yang menerima opini audit going concern (GCAO) maupun yang tidak menerima opini audit going concern (NGCAO) mayoritas memiliki modal kerja positif, laba positif, saldo laba ditahan positif.

Tabel 4.2.2.1 menampilkan classify data (pengelompokan data) mengenai kondisi keuangan perusahaan baik yang menerima opini audit going concern maupun yang tidak menerima opini audit going concern jika dilihat dari variabel – variabel pembentuk model kebangrutan Revised Altman. Dari tabel 4.2.2.1 dapat dilihat bahwa variabel-variabel pembentuk model kebangrutan prediksi revised altman mengelompok, kelompok 1 adalah perusahaan yang rata-rata menerima opini audit going concern sebesar 17,7% rata-rata ini lebih kecil dibanding perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern yaitu sebesar 82,3%. sedangkan kelompok 2 perusahaan yang menerima opini audit going concern sebesar 34,8% dan tidak menerima opini audit going concern sebesar 65,6%. Dari data tersebut dapat disimpulkan baik kelompok 1 maupun kelompok 2 mayoritas rata-rata perusahaan tidak menerima opini audit going concern (NGCAO).

Dari tabel 4.2.2.2 dapat dilihat bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern dan tidak menerima opini audit going concern tidak mengelompok sesuai dengan opini yang diterima, hal ini dibuktikan dengan mengelompoknya perusahaan yang menerima opini audit going concern dan tidak menerima opini audit going concern menjadi satu kelompok.

Kondisi keuangan perusahaan dikatakan buruk jika nilai proksi pengukuran kebangrutan semakin besar, begitu pula sebaliknya ketika nilai proksi semakin kecil maka kondisi keuangan perusahaan semakin sehat. Pada tabel 4.2.2.3 kondisi keuangan perusahaan model kebangrutan prediksi Revised Altman memperlihatkan bahwa dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern diantaranya 18 perusahaan atau 58,1% perusahaan yang bangrut, 9 perusahaan atau 29,0% perusahaan yang gray area dan 4 perusahaan atau 12,9% perusahaan tidak bangrut. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan yang menerima opini audit going concern merupakan perusahaan yang bangrut.

Pada tabel 4.2.2.4 kondisi keuangan perusahaan model kebangrutan prediksi Springate memperlihatkan bahwa dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern diantaranya 22 perusahaan atau 71,0% perusahaan yang bangrut, 9 perusahaan atau 29,0% perusahaan yang tidak bangrut. Sedangkan dari 62 perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern diantaranya 15 perusahaan atau 24,2% perusahaan bangrut, dan 47 perusahaan atau 75,8% perusahaan tidak bangrut. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan yang menerima opini audit going concern merupakan perusahaan yang bangrut, sedangkan perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern mayoritas adalah perusahaan tidak bangrut.

Tabel 4.2.1

Distribusi observasi berdasarkan opini audit going concern

2001 2002

2003

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total
GCAO 5 7 4 3 4 2 3 3 0 0 31 33.3%
(dummy=
1)
NGCAO 4 4 6 5 5 6 6 8 10 8 62 66.7%
(dummy=
0)
Total 9 11 10 8 9 8 9 11 10 8 93 100%

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.2

Kondisi Modal Kerja, Earning After Tax, Retained Earning Menerima Opini Audit Going concern

working Retained
Capital Earning After Tax Earning
+ 17 54.8% 18 58.1% 19 61.3%
14 45.2% 13 41.9% 12 38.7%
Jumlah 31 100% 31 100% 31 100%

Tidak Menerima Opini Audit Going concern

working Retained
capital Earning After Tax Earning
+ 57 91.9% 62

100%

59 95.2%
5 8.1% 0 3 4.8%
Jumlah 62 100% 62

100%

62 100%

 Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.2.1

Classify Revised Altman

Kelompok 1

Klompok 2

GCAO

3

17,7%

22

34,8%

NOGC

14

82,3%

42

65,6%

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.2.2

Classify springate

Kelompok 1

Kelompok 2

GCAO

33

34.3%

NOGC

62

64.6%

1 1,56

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.2.3

Frekuensi Kondisi Keuangan Model Revised Altman

Menerima opini audit going concern Tidak Menerima opini  audit
going concern
Perusahaan yang bangrut

18

58.1%

8

12.9%
Perusahaan yang gray area

9

29.0%

27

43.5%
Perusahaan tidak bangkrut

4

12.9%

27

43.5%
Total

31

100%

62

100%

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.2.4

Frekuensi Kondisi Keuangan Model Springate

Menerima opini audit going concern Tidak Menerima opini audit
going concern
Perusahaan

yang

22 71.0% 15 24.2%
bangkrut
Perusahaan

tidak

9 29.0% 47 75.8%
bangkrut
Total 31 100% 62 100%

 Sumber : Data sekunder yang telah diolah.

Debt Default

Variabel Debt default adalah variabel dummy. Untuk perusahaan default diberi kode 1, sedangkan untuk perusahaan yang tidak default diberi kode 0. Berdasarkan tabel 4.2.3 debt default pada perusahaan sampel sebesar 16,1% atau 15 perusahaan, jumlah ini lebih sedikit dibanding perusahaan yang tidak debt default yaitu sebesar 83,9% atau 78 perusahaan. berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan mayoritas perusahaan sampel tidak mengalami debt default.

Kualitas Audit

Variabel kualitas audit adalah variabel dummy. Untuk KAP BIG FOUR diberi kode 1, sedangkan untuk KAP NON BIG FOUR diberi kode 0. Berdasarkan Tabel 4.2.4 dapat disimpulkan bahwa perusahaan sampel tidak terlalu memilih untuk diaudit oleh KAP BIG FOUR, hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan sampel yang diaudit oleh KAP BIG FOUR tidak jauh berbeda dengan perusahaan sampel yang diaudit oleh KAP NON BIG FOUR.

Opini Audit Tahun Sebelumnya

Variabel opini audit tahun sebelumnya (opini) juga merupakan variabel dummy. Apabila pada tahun sebelumnya terdapat opini going concern diberi kode 1, sedangkan opini non going concern diberi kode 0. Dari tabel 4.2.5 dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan sampel 63,4% atau 59 perusahaan tidak menerima opini audit going concern pada tahun sebelumnya

Pertumbuhan Perusahaan

Variabel pertumbuhan perusahaan dilihat dengan pertumbuhan laba perusahaan setiap tahunnya, apakah perusahaan mengalami pertumbuhan laba positif atau pertumbuhan laba negatif. Berdasarkan tabel 4.2.6 pertumbuhan laba positif pada sampel sebesar 50,5% atau 47 perusahaan, jumlah ini lebih banyak dibanding pertumbuhan laba negatif yaitu sebesar 49,5% atau 46 perusahaan. untuk melihat frekuensi pertumbuhan laba yang dialami perusahaan yang menerima opini audit going concern atau tidak menerima opini audit going concern dapat dilihat pada tabel 4.2.6.1.

Tabel 4.2.3

Frekuensi Debt Default

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total
Debt Default 2 3 2 1 1 2 2 2 0 0 15 16.1%
(dummy=1)
Tidak debt 7 8 8 7 8 6 7 9 10 8 78 83.9%
default
(dummy=0)
Total 9 11 10 8 9 8 9 11 10 8 93 100%

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.4

Frekuensi Kualitas Audit

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 TOTAL
KAP

BIG

5 7 6 4 6 6 3 5 6 4 52 55.9%
FOUR
(dummy=1)
KAP

NON

4 4 4 4 3 2 6 6 4 4 41 44.1%
BIG FOUR
(dummy=0)
TOTAL 9 11 10 8 9 8 9 11 10 8 93 100%

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.5

Frekuensi Opini Audit Tahun Sebelumnya

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total
GCAO 5 7 6 3 2 2 5 3 1 0 34 36.6%
(dummy=1)
NOGC 4 4 4 5 7 6 4 8 9 8 59 63.4%
(dummy=0)
Total 9 11 10 8 9 8 9 11 10 8 93 100%

 Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.6

Frekuensi Pertumbuhan Laba

2001 200 200 200 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total
2 3 4
Pertumbu 2 6 7 5 5 5 5 3 4 5 47 50.5
han laba %
(positif)
Pertumbu 7 5 3 3 4 3 4 8 6 3 46 49.5
han laba %
(negatif)
Total 9 11 10 8 9 8 9 11 10 8 93 100
%

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Tabel 4.2.6.1

Frekuensi Pertumbuhan Laba Berdasarkan Opini

GCAO NOGC
Pertumbuhan laba (positif) 5 16.1%

42

67.7%
Pertumbuhan laba (negatif) 26 83.9%

20

32.3%
Total 31 100%

62

100%

Sumber : Data Sekunder yang telah diolah

Berdasarkan tabel 4.2.6.1 perusahaan yang menerima opini audit going concern (OGC) memiliki rata-rata pertumbuhan laba negatif yang lebih besar dari pada perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern (NOGC), selain itu Perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern juga memiliki pertumbuhan laba positif yang lebih besar dibanding pertumbuhan laba negatif.

Analisis Statistik Deskriptif

Berdasarkan analisa statistik deskriptif dapat diperoleh dan diketahui jumlah sampel yang diteliti, nilai maksimum, nilai minimum, mean, standar deviasi. Dari data yang ada diperoleh nilai statistik deskriptif sebagai berikut:

Tabel 4.3

Statistik Deskriptif

Tidak Menerima Opini Going

Menerima Opini Going Concern

Concern

St.

St.

Min

Max

Mean

Deviasion

Min

Max

Mean

Deviasion

Revised

-1.956

4.511

.98397

1.626419

-.662

5.124

2.58755

1.228964

Springate

-.651

3.326

.51597

.902411

.160

4.285

1.67298

1.018495

Default

0

1

.48

.508

0

0

.00

.000

Kualitas

0

1

.23

.425

0

1

.73

.450

Opini

0

1

.87

.341

0

1

.11

.319

Tumbuh

-1.655

2.171

-.52184

.756231

-1.512

2.576

.45750

1.039601

Jumlah

31

62

Sumber: Data sekunder diolah, 2011

Berdasarkan tabel 4.3 dari 31 perusahaan yang menerima opini audit going concern, nilai rata-rata model kebangrutan perusahaan prediksi revised altman adalah 0,98 dan springate 0,51 sedangkan pada perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern memiliki nilai rata-rata 2,58 untuk model revised altman dan 1,67 untuk model springate. Hasil diatas menunjukkan dimana nilai mean perusahaan yang menerima opini audit going concern lebih kecil dari perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern. Hal ini disebabkan karena pada perusahaan yang menerima opini audit going concern (GCAO) maupun yang tidak menerima opini audit going concern (NGCAO) mayoritas memiliki modal kerja positif, laba positif, saldo laba ditahan positif. Nilai Rata-rata pertumbuhan laba pada perusahaan yang menerima opini audit going concern adalah -0,52 sedangkan pada perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern memiliki nilai rata-rata 0,45. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerima opini audit going concern rata-rata mengalami pertumbuhan laba yang negatif, sedangkan perusahaan yang tidak menerima opini audit going concern rata-rata mengalami pertumbuhan laba yang positif.

Menguji Kelayakan Model Regresi

Analisis pertama yang dilakukan adalah menilai kelayakan model regresi logistik yang akan digunakan. Pengujian kelayakan model regresi logistik dilakukan dengan menggunakan Goodness of fit test yang diukur dengan nilai Chi-Square pada bagian bawah uji Homser and Lemeshow. Probabilitas signifikansi yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan tingkat signifikansi (α) 5 persen. Ghozali (2006) mengatakan jika nilai statistik Hosmer and Lameshow Goodness Of Fit sama dengan atau kurang dari 0,05, maka Ho ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya sehingga Goodness fit model tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika nilai Statistik Hosmer and Lameshow Goodness of fit lebih besar dari 0,05, maka Ho tidak dapat ditolak dan berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.

Tabel 4.3.1

Uji Kelayakan Model Regresi

Step Chi-square df Sig.
1 4.880 8 .770

Tabel 4.3.1 menunjukkan hasil pengujian Hosmer and Lemeshow. Dengan probabilitas signifikansi menunjukkan angka 0,770 nilai signifikansi yang diperoleh ini jauh lebih besar dari pada 0,05 (α) 5%, maka H0 tidak dapat ditolak (diterima). Hal ini berarti model regresi layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya, karena tidak ada perbedaan yang nyata antara model dengan nilai observasinya.

Menguji Model Fit (Overall Model Fit Test)

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah data baik sebelum maupun sesudah variabel bebas dimasukkan kedalam model telah fit. Hipotesis untuk menilai model fit adalah : H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data

Ha : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data

Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai antara –2 Log Likelihood pada awal (Block Number = 0) dengan nilai –2 Log Likelihood pada akhir (Block Number = 1). Adanya pengurangan nilai antara – 2LL awal (initial – 2LL function) dengan nilai – 2LL pada langkah berikutnya (-2LL akhir) menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan fit dengan data (Ghozali, 2005).

Tabel 4.3.2

Uji keseluruhan model

2 log
likelihood
-2LL Awal 118.392
-2LL Akhir 34.714

Berdasarkan tabel 4.3 terlihat angka -2LL pada -2LL Awal sebesar 118,392, sedangkan pada – 2LL Akhir angka -2LL mengalami peurunan sebesar 34,714. Penurunan likelihood ini menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.

Menguji Koefisien Determinasi

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan variabel dependennya. Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti nilai R Square pada regresi berganda (Ghozali, 2005).

Tabel 4.3.3

Koefisisen Determinasi

Ste -2 Log Cox & Snell Nagelkerke
p likelihood R Square R Square
1 34.714a .593 .824

Dari Tabel 4.3.3 dapat dilihat nilai Nagelkerke R Square adalah sebesar 0,824 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 82,4 persen, sisanya 17,6 persen dijelaskan oleh variabel–variabel lain di luar model penelitian.

Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis menggunakan model regresi logistik. Regresi logistik digunakan untuk menguji pengaruh variabel-variabel indepeden yaitu kondisi keuangan (Revised, Springate), debt default, kualitas audit, opini audit tahun sebelumnya dan pertumbuhan laba. Pengujian dilakukan (α) 5%.

Tabel 4.3.4

Uji Regresi logistik

B Sig.
Constant -2.850 .023
Revised .637 .213
Springate -.685 .385
Default 22.294 .998
Kualitas -1.773 .114
Opini 3.861 .000
Tumbuh -1.506 .018

Sumber: Data sekunder diolah, 2011

Tabel 4.3.4 menunjukkan hasil pengujian dengan regresi logistik pada tingkat signifikasi 5 persen. Dari pengujian persamaan regresi logistik diatas maka diperoleh model regresi logistik sebagai berikut :

Ln GC = -2.850 + 0.637 revised – 0.685 springate +22.294 default – 1.773 kualitas + 3.861 opini – 1.506 tumbuh GC-1

Setiap koefisien yang negatif atau positif pada variabel-variabel independennya pada tahun pengamatan 2001 hingga 2010 memiliki pengaruh terhadap tingkat penerimaan opini audit going concern. Diketahui koefisien konstanta sebesar -2,850 mempunyai arti bahwa dengan tidak melakukan perhitungan nilai pada variabel-variabel independen pada penelitian ini, maka penerimaan terhadap going concern sebesar -2,850. Sedangkan setiap perubahan satu unit revised, springate, default, kualitas, opini, dan tumbuh, maka akan mempengaruhi kenaikan going concern sebesar masing-masing 0,637; 0,685; 22,294; 1,773; 3,861; dan 1,506. Begitupula sebaliknya.

H1: Kondisi keuangan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini going concern

Variabel kondisi keuangan perusahaan yang diproksikan dengan dua model prediksi kebangkrutan menunjukkan nilai koefisien masing-masing sebesar revised (0,637;0,213), springate (-0,685;0,385). Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dari kedua model prediksi kebangkrutan yang dijadikan sebagai proksi kondisi keuangan perusahaan model kebangrutan prediksi Revised Altman yang dinotasikan dengan revised dan model kebangrutan prediksi Springate menunjukkan hasil yang tidak signifikan, dengan nilai signifikansi 0,213 dan 0,385 lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak yang artinya kondisi keuangan tidak berpengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Walaupun variabel ini tidak signifikan tetapi tanda dari nilai koefisiennya pada model prediksi springate telah sesuai dengan hipotesis yang diajukan (negatif). Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh setyarno et al. (2006), santosa dan wedari (2007) dimana variabel kondisi keuangan perusahaan model prediksi Revised Altman tidak berpengaruh. Negatif terhadap penerimaan opini audit going concern.

H2:  Debt default berpengaruh positif terhadap penerimaan opini  audit  going concern

Variabel debt default menunjukkan nilai koefisien positif 22,924 dengan signifikansi 0,998 lebih besar dari 0,05 sehingga H2 ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa debt default tidak berpengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Hal ini menunjukkan bahwa auditor dalam memberikan opini audit going concern tidak berdasarkan kegagalan perusahaan untuk membayar hutang pokok atau bunganya pada saat jatuh tempo, disebabkan karena objek penelitian ini adalah perusahaan pertambangan yang kondisi keuangannya lebih kuat, hal ini ditunjukkan dengan lebih sedikitnya perusahaan sampel yang mengalami debt default. Walaupun variabel ini tidak signifikan tetapi tanda dari nilai koefisiennya telah sesuai dengan hipotesis yang diajukan (positif). Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh praptorini dan januarti (2007) dimana variabel debt default secara signifikan berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern. Meskipun demikian hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanto (2009) dimana variabel debt default tidak berpengaruh signifikan terhadap pemberian opini audit going concern oleh auditor.

H3:      Kualitas Audit berpengaruh positif terhadap penerimaan  opini audit going concern

Variabel kualitas audit yang diproksikan dengan besaran Kantor Akuntan Publik (KAP) menunjukkan nilai koefisien negatif sebesar 1,773 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,114 lebih besar dari 0,05 Artinya bahwa H3 ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas audit tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern. perusahaan yang menggunakan KAP berskala besar tidak dapat menentukan apakah perusahannya akan mendapat opini audit going concern atau tidak. Kantor akuntan publik baik berskala besar maupun berskala kecil, akan selalu bersikap obyektif dalam memberikan opini. Jika suatu perusahaan mengalami keraguan dalam kelangsungan hidup maka akan diberikan opini audit going concern. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mutchler et al. (1997) yang menemukan bukti univariate bahwa auditor berskala besar (Big 6) lebih cenderung untuk mengeluarkan opini audit going concern pada perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dibandingkan auditor berskala kecil (non-Big 6). Meskipun demikian hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Ramadhany (2004) dimana variabel skala auditor (Big Four dan Non Big Four) tidak berpengaruh signifikan atas kemungkinan penerbitan opini audit going concern oleh auditor.

H4: Opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern

Variabel opini audit tahun sebelumnya menunjukkan nilai koefisien positif sebesar 3,861 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Artinya bahwa H4 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap opini audit going concern. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Carcello dan Neal (2000) dan Rahmadhany (2004) yang menemukan bukti bahwa opini audit going concern yang diterima pada tahun sebelumnya mempengaruhi keputusan auditor untuk menerbitkan kembali opini audit going concern tersebut. Hasil temuan ini memberikan bukti empiris bahwa auditor dalam menerbitkan opini audit going concern akan mempertimbangkan opini audit going concern yang telah diterima oleh auditee pada tahun sebelumnya.

H5: Pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap penerimaan opini audit going concern

Variabel rasio pertumbuhan perusahaan yang diproksi dengan pertumbuhan laba menunjukkan nilai koefisien negatif sebesar 1,506 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,018 lebih kecil dari 0,05, Artinya bahwa H5 diterima. Dengan demikian terbukti bahwa rasio pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap opini audit going concern. Penerimaan hipotesis ini sesuai dengan data yang terdapat pada tabel 4.1.6.2, dari 93 sampel yang diamati nilai rata-rata dari rasio pertumbuhan laba kelompok perusahaan dengan opini GCAO lebih sedikit yang bernilai positif, sedangkan kelompok perusahaan dengan NGCAO lebih banyak yang bernilai positif. Hal ini berarti perusahaan yang menjadi sampel dengan opini GCAO lebih sedikit mengalami peningkatan laba, sedangkan perusahaan NGCAO lebih banyak mengalami peningkatan dalam laba bersihnya, sehingga perusahaan yang mengalami peningkatan laba cenderung memiliki laporan sewajarnya, dan potensi untuk mendapatkan opini non going concern akan lebih besar. Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa rasio pertumbuhan laba yang positif bisa menjamin auditee untuk tidak menerima opini audit going concern. Temuan empiris pada penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian santosa dan wedari (2007) yang menemukan bukti empiris bahwa rasio pertumbuhan laba tidak mempengaruhi pemberian opini audit going concern.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

1. Kondisi Keuangan Perusahaan

Berdasarkan model Revised altman dan Springate variabel kondisi keuangan tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.

2. Debt Default

Variabel debt default tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern, tetapi arah koefisiennya menunjukkan arah positif sesuai dengan hipotesis.

3. Kualitas Audit

Variabel kualitas audit tidak berpengaruh positif terhadap penerimaan opini audit going concern.

4. Opini Audit Tahun Sebelumnya

Variabel opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.

5. Pertumbuhan Perusahaan

Variabel Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.

Saran untuk penelitian mendatang yaitu :

1. Memasukkan variabel independen lain yang mungkin berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern, seperti teknologi, sumber daya manusia, budaya perusahaan dan sebagainya yang juga harus diperhatikan dalam memprediksi perusahaan dalam menerima opini audit going concern.

2. Penelitian  selanjutnya  sebaiknya  memperluas  populasi  selain  perusahaan  pertambangan

 

DAFTAR PUSTAKA

A. Komalasari, Argianti. (2004). “Analisis Pengaruh Kualitas Auditor Dan Proxi Going Concern Terhadap Opini Auditor”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol.9 No. 2 Juli, Bandar Lampung.

Altman, Edward I., (2000), “Predicting Financial, Distress of Companies: Revisiting the Z-Score and Zeta ® Models”, New York University, Stern School of Business.

Arens, Alvin A, Randal J Elder dan Mark S Beasley. 2003. Auditing dan Pelayanan Verifikasi: Pendekatan Terpadu. Edisi Kesembilan. Jakarta: Indeks.

Chen, K. C. W., and B. K. Church. (1992). “Default on Debt Obligations and the Issuance of Going Concern Report”. Auditng: A Journal of Practice & Theory,

Carcello, J. V. and Neal, T.L. (2000). “Audit Committee Composition and Auditor Reporting.” The Accounting Review. 117-128

Fanny, Margaretta dan Saputra, S. 2005. Opini Audit Going Concern : Kajian Berdasarkan Model Prediksi Kebangkrutan, Pertumbuhan Perusahaan, Dan Reputasi Kantor Akuntan Publik (Studi Pada Emiten Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi VIII. 966-978.

Ghozali, Imam. (2006). ”Aplikasi Analisis Multivariant dengan Program SPSS”. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Ikatan Akuntan Indonesia. (2001). ”Standar profesional akuntan publik”, Jakarta : Salemba Empat.

_____________________. (2004). ”Standar Akuntansi Keuangan”, Jakarta : Salemba Empat. Lennox, C., (2002). “Opinion Shopping and Audit Committees”. Center for economic institutions working paper series. 21 januari 2002, diakses dari http://cei.ier.hit-u.ac.jp/working/2002/2002WorkingPapers/wp2002-12.pdf pada tanggal 26 april 2011.

Mckeown, J. C., J. F. Mucthler; and W. Hopwood. (1991). “Toward an Explanation of auditor Failure to Modify the Audit Reports of Bankrupt Companies”. Auditing: A Journal of Practice & Theory. Supplement pp. 1-13.

Mirna,P. dan Indira. 2007. “Analisis Pengaruh Kualitas Audit, Debt Default dan Opinion Shopping terhadap penerimaan Opini Going Concern”. SNA 10, Makasar. Juli.

Mulyadi. (2002). “Auditing”. Buku 2. Jakarta : Salemba Empat.

Petronela, Thio. 2004. Pertimbangan Going Concern Perusahaan Dalam Pemberian Opini Audit. Jurnal Balance. 47 – 55.

Praptitorini, Mirna Dyah dan Indira Januarti. (2007). “Analisis Pengaruh Kualitas Audit, Debt Default dan Opinion Shopping Terhadap Penerimaan Opini Going Concern. Simposium Nasional Akuntansi X. 26-28 juli, Universitas Diponegoro, Semarang

Ramadhany, Alexander. (2004). “Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Opini Going Concern Pada Perusahaan Manufaktur Yang Mengalami Financial Distress Di Bursa Efek Jakarta“. Tesis S2, Universitas Diponegoro, Semarang.

Santosa, Arga Fajar dan Linda Kusumaning Wedari. (2007). “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecenderungan Penerimaan Opini Audit Going Concern. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Universitas UNIKA Soegijapranata, Semarang.

Santoso, Singgih. 2010. “Statistik Multivariat”. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Setyarno, Eko Budi, Indira dan Faisal. (2006). “Pengaruh Kualitas Audit, Kondisi Keuangan Perusahaan, Opini Audit Tahun Sebelumnya, Pertumbuhan Perusahaan terhadap Opini Audit Going Concern.” Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 1-25.

Senin, 13 Mei 2013 kemarin diadakan seminar pembekalan mahasiswa tingkat akhir dan temu alumni Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma. Bertempat di Kampus J1 Kalimalang Lt 6 Ruang Cinema, acara dimulai tepat pukul 14.00.

Selain banyak mahasiswa yang hadir, para bapak ibu dosen pun hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara seperti Bapak Toto Sugiharto, Bapak Imam Subaweh, Ibu Ari, Ibu Winda Widya, Ibu Renny (dosen cantik🙂 ).

Berikut informasi-informasi penting mengenai prosedur pendaftaran sidang Sarjana yang saya rangkum kemarin🙂 “mudah-mudahan gak ada yang ketinggalan”

SKRIPSI

1. Syarat sidang : (Bagian SEKJUR Kampus E)

– SKS 152 dan IPK min 3,25

– Mata kuliah pilihan hanya boleh 2 yang mendapat nilai D

– Lulus PI

– Cek keuangan (di BAAK kampus J1 Lt 2)

– Bebas Perpustakaan

– Lulus Kursus

– Mengikuti Attitude Test

– Sudah ada surat ACC Skripsi dari dosen pembimbing yang bersangkutan.

2. Syarat Nilai OKE sidang :

– SKS min 152

– DNU min 3,00 untuk S1

– MK Pilihan nilai D maksimal hanya 2

– Tidak ada nilai E

*Untuk mengecek nilai IPK bisa cek di http://studentsite.gunadarma.ac.id

Jika persyaratan belum LENGKAP, maka segera LENGKAPI persyaratan yang sudah ditentukan🙂

Jika persyaratan sudah OKE🙂 maka bisa segera mendaftar sidang dan akan mendapatkan SK SIDANG.

3. Yang harus dibawa saat daftar sidang :

– Bukti Bebas Perpus

– Validasi Ujian Negara

– Berkas Ujian Negara

– Fotokopi sertifikat kursus, workshop dan PI

– Fotokopi surat ACC dosen pembimbing

Saat tiba waktunya daftar ulang untuk cetak blanko, tetap lakukan daftar ulang untuk menjaga-jaga apabila tidak lulus tepat waktu. “amit-amit deh >_<“

Saat daftar ulang pilih pilihan ke-6 dimana blanko bisa dipilih dibayar atau tidak. Jika sudah terlanjur dibayarkan namun ternyata lulus tepat waktu maka uang akan digunakan untuk biaya Wisuda🙂

4. Cara Mendaftar Sidang Sarjana :

– Lokasi Kampus D Gedung 4 Lt 1 Loket Pelayanan 15

– Sudah menginput data diri dan upload foto terbaru (h/p) di Studentsite masing-masing dengan memakai baju putih. Foto Hitam Putih.

– Bebas Perpustakaan

– Test Aptitude

– Bebas keuangan pada semester bersangkutan

– ACC dari jurusan

Saat ke loket 15 membawa :

– Fotokopi surat bebas keuangan

– Pas Poto 2×3 (2lembar) untuk surat sidang

– Isi biodata dan tempel pas poto dibelakang fotokopi surat bebas keuangan.

Setelah mendaftar akan mendapatkan : SURAT JADWAL SIDANG SARJANA

perhatian :

– surat TIDAK BOLEH HILANG

– surat digunakan sebagai bukti sidang, kelulusan dan tanda pengambilan Ijazah serta transkip nilai.

5. Pelaksanaan Sidang🙂

– lokasi Kampus A Kenari no.13 Jakarta Pusat

– sudah tiba dilokasi jam 07.00

– membawa surat jadwal sidang

– membawa lembar pas poto (h/p) untuk transkrip dan ijazah (lengkapi)

*bisa diunduh di http://baak.gunadarma.ac.id/sidang/

– membawa foto copy ijazah STTB SMU

– membawa foto copy KTP

– membawa laptop, presentasi elektronik yang ada di template studentsite (bisa diunduh)

– modul skripsi 3 eksemplar softcopy untuk penguji (bisa disesuaikan dengan permintaan jurusan)

– alat peraga, poster, dll)

Pakaian FORMAL Sidang (khusus wanita)

Wanita : baju putih lengan panjang, rok hitam panjang, sepatu tertutup hitam.

Apabila ada yang belum mengupload foto ke Studentsite, maka jam 07.00 saat pelaksanaan sidang bisa foto dulu untuk ijazah.

Jam 08.00 berkumpul diaula lantai 5 untuk pengarahan sidang, pembagian kartu sidang, pembagian SK sidang, alokasi sidang dan penguji🙂

6. Hasil Sidang

LULUS🙂 / TIDAK LULUS

Jika LULUS🙂 (aminnnnn)

– akan dibagikan blanko pembayaran wisuda

– cek keuangan

– format hardcover skripsi bisa dilihat di loket 15 untuk ttd Dr. Edi Sukirman

– memenuhi syarat ttd

7. Pelaksanaan Wisuda🙂

9 Desember 2013🙂

9 April 2014

19 Agustus 2014

Kuota 2000 orang

8. Pengurusan Berkas

Loket buka :

Senen-Jumat jam 09.30-15.00

Sabtu

Melayani untuk bagian ijazah & Transkrip sektifikat, akreditasi, STLS, Surat Rekomendasi untuk studi lanjut.

Syarat mengambil STLS :

– surat jadwal sidang

– bukti sumbangan buku perpus

– bebas keuangan

– sudah membayar wisuda

– sudah registrasi di Carrer Center UG

– pengambilan STLS tidak bisa diwakilkan karena cap 3 jari.

*Pengambilan ijazah dan transkrip boleh diambilkan pihak lain dengan surat kuasa.

CARRER CENTER UG

http://career.gunadarma.ac.id/

– Mahasiswa bisa login dengan :

Data = NPM masing-masing

Password = password studentsite masing-masing

– Seminggu sebelum wisuda biasanya ada job fair, dimana mahasiswa bisa mengikuti job fair dengan membawa aplikasi CV dan berpakaian sopan.

ALUMNI UG 

Kak Henry Priyantoro (Kak HAPE)

S1 Universitas Gunadarma

S2 Universitas Mercu Buana

Analisis Laporan Keuangan Internasional

Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang. Analisa laporan keuangan sebenarnya banyak sekali namun pada penelitian kali ini penulis menggunakan analisa rasio keuangan karena analisa ini lebih sering digunakan dan lebih sederhana. Analisa rasio keuangan adalah perbandingan antara dua/kelompok data laporan keuangan dalam satu periode tertentu, data tersebut bisa antar data dari neraca dan data laporan laba rugi. Tujuannya adalah memberi gambaran kelemahan dan kemampuan finansial perusahaan dari tahun ketahun.

Analisis keuangan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan pada masa kini dan masa lalu, dan untuk menilai apakah kinerjanya dapat dipertahankan. Investor, analis riset ekuitas, manajer keuangan, banker, dan penguna laporan keuangan lainnya memiliki kebutuhan yang semakin besar untuk membaca dan menganalisis laporan keuanganasing. Kebutuhan untuk menggunakan dan dengan memahami, laporan keuangan asing juga meningkat karena kegiatan merger dan akusisi yang terjadi secara internasional.

Analisis Strategi Bisnis Internasional

Analisis dan penilaian keuangan internasional ditandai dengan banyaknya kontradiksi. Disatu sisi, begitu cepatnya proses harmonisasi standar akuntansi elah mengarah pada semakin meningkatnya daya banding informasi keuangan di seluruh dunia. Analisis strategi bisnis merupakan langkah penting pertama dalam analisis laporan keuangan. Analisis ini memberikan pemahaman kualitatif atas perusahaan dan para pesaingnya terkait dengan lingkungan ekonominya. Dengan mengidentifikasi factor pendorong laba dan resiko usaha yang utama, analisis strategi bisnis atau usaha akan membantu para analis untuk membuat peramalan yang realistis.

Kesulitan-kesulitan analisis strategi bisnis internasional:

a.          Ketersediaan informasi

Analisis strategi usaha sulit dilakukan khususnya di beberapa Negara karena kurang andalnya informasi mengenai perkembangan makro ekonomi. Memperoleh informasi mengenai industry juga sukar dilakukan di banyak Negara dan jumlah serta kualitas informasi perusahaan sangat berbeda-beda. Ketersediaan informasi khusus mengenai perusahaan sangat rendah di Negara berkembang. Akhir-akhir ini banyak perusahaan besar yang melakukan pencatatan dan memperoleh modal di pasar luar negeri telah memperluas pengungkapan mereka dan secara suka rela beralih ke prinsip akuntansi yang diakui secara global seperti standar pelaporan keuangan internasional.

b.         Rekomendasi untuk melakukan analisis

Keterbatasan data membuat upaya untuk melakukan analisis strategi usaha dengan menggunakan metode riset tradisional menjadi sukar dilakukan. Seringkali sering dilakukan perjalanan untuk mempelajari iklim bisnis setempat dan bagaimanan industry dan perusahaan sesungguhnya beroperasi, khususnya di Negara-negara pasar berkembang.

 Langkah Langkah Analisa Akuntansi

Para analis perlu untuk mengevaluasi kebujakan dan estimasi akuntansi, serta menganalisis sifat dan ruang lungkup fleksibilitas akuntansi suatu perusahaan. Para manajer perusahaan diperbolehkan untuk membuat banyak pertimbangan yang terkait dengan akuntansi, karena merekalah yang tahu lebih banyak mengenai kondisi operasi dan keuangan perusahaan mereka. Laba yang dilaporkan seringkali digunakan sebagai dasar evaluasi kinerja manajemen mereka.

Langkah-langah dalam melakukan evalusai kualitas akuntansi suatu perusahaan:

1.      Identifikasikan kebijakan akuntansi utama

2.      Analisis fleksibilitas akuntansi

3.      Evaluasi strategi akuntansi

4.      Evaluasi kualitas pengungkapan

5.      Indentifikasikan potensi terjadinya masalah

6.      Buatlah penyesuaian atas distorsi akuntansi.

Pengaruh Analisis Akuntansi Terhadap Akuntansi Antar Negara

Analisis keuangan mencakup berbagai wilayah yuridiksi. Sebagai contoh, seorang analis mengkin beberapa kali melakukan studi terhadap sebuah perusahaan yang berada di luar Negara asalnya atau membandingkan perusahaan yang berasal dari dua Negara atau lebih. Sejumlah Negara yang memilki perbedaan yang sangat besar dalam praktik akuntansi, kualitas pengungkapan, system hokum dan undang undang, sifat dan ruang lingkup resiko usaha, dan cara untuk menjalankan usaha.

Perbedaan ini berarti alat analisis yang sangat efektif di satu wilayah menjadi kurang efektif di wilayah lain. Para analis juga sering menghadapi tantangan besar untuk memperoleh informasi yang kredibel. Di kebanyakan Negara pasar yang berkembang, para analis keuangan sering memiliki tingkat keyakinan atau keandalan yang terbatas.

Kesulitan Memperoleh Informasi Akuntansi Internasional

Dalam memperoleh data Akuntansi Internasional terdapat beberapa kesulitan, antara lain:

  1. Penyesuaian depresiasi Beban depresiasi akan mempengaruhi keuntungan, maka perlu diperhatikan umur dari fungsi aktiva yang harus diputuskan manajemen.
  2. Penyesuaian persediaan LIFO ke FIFO Persediaan harus dikonversikan dalam metode FIFO
  3. Cadangan adalah kemampuan perusahaan untuk membayar atau menutup pengeluaran untuk menghapus beban.
  4. Reformulasi Laporan Keuangan Penyesuaian dari beberapa perubahan setelah adanya beberapa perhitungan pada point-point tsb di atas. 

Mekanisme Mengatasi Perbedaan Prinsip Akuntansi Antar Negara

Dalam mengatasi perbedaan prinsip Akuntansi Antar Negara dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan seperti:

  1. Beberapa analis menyajikan ulang ukuran akuntansi asing menurut sekelompok prinsip yang diakui secara internasional, atau sesuai dengan dasar lain yang lebih umum.
  2. Beberapa yang Lain mengembangkan pemahaman yang lengkap atas praktik akuntansi di sekelompok negara tertentu dan membatasi analisis mereka terhadap perusahaan perusahaan yang berlokasi di Negara Negara tersebut.

Mengatur Kesulitan Analisis Keuangan Internasional

Palepu, Bernard dan healy membuat suatu kerangkan dasar yang bermanfaat untuk menganalisis dan penilaian usaha dengan menggunakan data laporan keuangan. Kerangka dasar tersebut terdiri dari empat tahap analisis, yaitu:

a.          Analisis Strategi Usaha

b.         Analisis Akuntansi

c.          Analisis Keuangan (analisis rasio dan analisis arus kas)

d.         Analisis prospektif (peramalan dan penilaian)

Derajat pentingnya masing masing tergantung ada tujuan analisis. Kerangka analisis usaha ini dapat diterapkan dalam banyak situasi keputusan.

Pengunaan Website Untuk memperoleh informasi Penelitian Perusahaan

Untuk Memperoleh Informasi Penelitian Perusahaan Banyak perusahaan belum memanfaatkan secara optimal pengungkapan informasi perusahaan melalui website, baik untuk informasi keuangan dan keberlanjutan perusahaan. Temuan lain dalam penelitian ini adalah banyak perusahaan yang tidak dapat memberikan informasi bagi investor, kebanyakan informasi yang disajikan dalam website perusahaan adalah tentang produk atau jasa yang dihasilkan serta banyak sekali perusahaan yang tidak mengupdate informasi-informasi yang disajikan.

a.          Internet Financial and Sustainability Reporting

Semenjak tahun 1995, terdapat perkembangan penelitian empiris terkait dengan Internet Financial Reporting (IFR) yang merefleksikan perkembangan bentuk pengungkapan informasi perusahaan. Beberapa penelitian menguji faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan pengungkapan dalam website perusahaan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Pirchegger dan Wagenhofer (1999) dan Sasongko dan Luciana (2008a). Beberapa penelitian menguji sifat dan perluasan pelaporan keuangan pada website perusahaan sebagai instrument yang menghubungan dengan stakeholder.

b.         Corporate Social Responsibility

Pemahaman dan kesadaran dari entitas bisnis untuk menjaga hubungan baik dengan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya minimasi dampak negatif dan maksimasi dampak positif aktivitas operasional perusahaan menuju pembangunan berkelanutan inilah yang kini dipahami sebagai CSR (Corporate Social Responbility. Menguatnya paradigma pembangunan berkelanjutan dan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR membuat pelaporan kinerja sosial dan lingkungan perusahaan dianggap sama pentingnya dengan pelaporan kinerja ekonomi. Masalah terbesarnya adalah bahwa mutu laporan-laporan nonfinansial memang belumlah sebaik mutu laporan finansial. Selain usianya yang terpaut jauh (>500 vs. 10-20 tahun), kesenjangan di antara keduanya ditandai oleh derajat keformalan, pihak yang dituju, serta interval laporan.

Gazdar (2007) menyatakan ada empat hal yang membuat mengapa pelaporan nonfinansial ini menjadi sangat penting:

Pertama, meningkatkan reputasi perusahaan. Semakin transparen perusahaan dalam aspek-aspek yang dituntut oleh seluruh pemangku kepentingannya, semakin tinggi pulalah reputasi perusahaan. Tentu saja, kalau kinerja yang dilaporkan itu baik dan valid. Karenanya, perusahaan harus terlebih dahulu meningkatkan kinerjanya dengan sungguh-sungguh. Validitas juga sangat penting, karena pemangku kepentingan tidak akan pernah memaafkan perusahaan yang melakukan pembohongan publik.

Kedua, melayani tuntutan pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang terpengaruh oleh dan bisa memengaruhi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Tentu saja, mereka yang terpengaruh hidupnya oleh perusahaan berhak untuk mengetahui aspek-aspek yang bersentuhan dengan kehidupan mereka. Mereka yang bisa memengaruhi perusahaan sangat perlu untuk mendapat informasi yang benar, sehingga pengaruh mereka bisa diarahkan ke tujuan yang tepat.

Ketiga, membantu perusahaan dalam membuat berbagai keputusan. Laporan kinerja yang baik tentu saja akan memuat indikator-indikator yang akan membantu perusahaan melihat kekuatan dan kelemahan dirinya. Perusahaan bisa sedikit lebih tenang dalam aspek yang indikator-indikatornya menunjukkan kekuatan. Di sisi lain, perusahaan perlu mencurahkan sumberdaya yang lebih besar untuk aspek-aspek yang tampak masih lemah. Perusahaan memilikiLaporan periodik dengan indikator yang konsisten sangat diperlukan di sini, sehingga naik turunnya kinerja bisa terpantau dan disikapi dengan keputusanyang tepat.

Keempat, membuat investor dengan mudah memahami kinerja perusahaan. Sebagaimana yang sudah diungkapkan di atas, ada kebutuhan yang semakin tinggi dari investor untuk bisa mengetahui kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Para investor jangka panjang benar-benar ingin mengetahui apakah modal yang ditanamkannya aman atau tidak. Perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang tinggi memiliki kemungkinan yang lebih baik untuk terus berlanjut usahanya, dan para investor tentu lebih berminat untuk menanamkan modalnya pada perusahaan-perusahaan tersebut.

Sumber :

1. http://0wi3.wordpress.com/2012/05/18/analisis-laporan-keuangan-internasional/

2. Choi, Frederick D.S., and Gerhard D. Mueller, 2005., Akuntansi Internasional – Buku 1, Edisi 5., Salemba Empat, Jakarta.

3. Choi, Frederick D.S., and Gerhard D. Mueller, 2005., Akuntansi Internasional – Buku 2, Edisi 5., Salemba Empat, Jakarta.

4. Lymer, A., (Ed), (1999), Special Section: The Internet and Corporate Reporting in Europe. European Accounting Review Vol. 9, pp. 287-396.

5.http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=analisis%20laporan%20keuangan%20internasional&source=web&cd=4&ved=0CEUQFjAD&url=http%3A%2F%2Fkk.mercubuana.ac.id%2Ffiles%2F32026-10-656093246686.doc&ei=z5CdUeuSAcm-rgfnyoH4Bg&usg=AFQjCNF0cvrOhB37QuIjWYcjj2QBUciyfw&bvm=bv.46865395,d.bmk&cad=rja

 Harmonisasi Akuntansi Internasional

Harmonisasi merupakan proses untuk meningkatkan kompatibilitas (kesesuaian) praktik akuntansi dengan menentukan batasan-batasan seberapa besar praktik-praktik tersebut dapat beragam.

Harmonisasi akuntansi mencakup harmonisasi :

  1. Standar akuntansi (yang berkaitan dengan pengukuran dan pengungkapan)
  2. Pengungkapan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan public terkait dengan penawaran surat berharga dan pencatatan pada bursa efek
  3. Standar audit Survei Harmonisasi Internasional

Keuntungan Harmonisasi Internasional :

  1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan. Standar pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi modal.
  2. Investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih baik; portofolio akan lebih beragam dan risiko keuangan berkurang.
  3. Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan strategi dalam bidang merger dan akuisisi.
  4. Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard pat disebarkan dalam mengembangkan standar global yang berkualitas tertinggi.

Perbedaan Hamonisasi dan Standar Akuntansi Internasional

Pada dasarnya standar akuntansi merupakan pengumuman atau ketentuan resmi yang dikeluarkan badan berwenang di lingkungan tertentu tentang pedoman umum yang dapat digunakan manajemen untuk menghasilkan laporan keuangan. Dengan adanya standar akuntansi, laporan keuangan diharapkan dapat menyajikan informasi yang relevan dan dapat dipercaya kebenarannya. Standar akuntansi juga digunakan oleh pemakai laporan keuangan seperti investor, kreditor, pemerintah, dan masyarakat umum sebagai acuan untuk memahami dan menganalisis laporan keuangan sehingga memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan yang benar. Dengan demikian, standar akuntansi memiliki peranan penting bagi pihak penyusun dan pemakai laporan keuangan sehingga timbul keseragaman atau kesamaan interpretasi atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi. Yang pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang kedua adalah pengukuran dan penilaian.

Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada tanggal neraca). Hal ketiga yang dimuat dalam standar adalah pengakuan, yaitu kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan. Yang terakhir adalah penyajian dan pengungkapan laporan keuangan. Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan.

Keempat hal itulah yang diusahakan oleh negara barat untuk diharmonisasikan secara internasional. Mereka percaya bahwa harmonisasi standar akuntansi internasional akan meningkatkan daya banding laporan keuangan secara internasional, dapat menghemat biaya terutama bagi penyaji dan pemakai laporan keuangan, dan memperbaiki standar akuntansi nasional masing-masing negara (Turner 1983). Sebagai respon atas kebutuhan harmonisasi standar akuntansi, berbagai upaya telah dilakukan oleh negara kapitalis. Salah satunya adalah dengan dengan mendirikan International Accounting Standard Committee (IASC) pada tahun 1973, yang sekarang berubah nama menjadi International Accounting Standard Board (IASB). Jumlah keanggotaan IASC sampai sekarang meliputi lebih dari 150 organisasi profesi akuntansi yang berasal dari negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Tujuan utama badan ini adalah memformulasikan standar akuntansi yang dapat diterapkan secara internasional. Sampai sekarang IASB telah mengeluarkan lebih dari 50 standar akuntansi. Meskipun IASB berhak untuk menetapkan dan mengeluarkan standar akuntansi, badan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum untuk memaksakan penerapan standar akuntansi yang dihasilkan.

Harmonisasi versus Standardisasi

Globalisasi juga membawa implikasi bahwa hal-hal yang dulunya dianggap merupakan kewenangan dan tanggung jawab tiap negara tidak mungkin lagi tidak dipengaruhi oleh dunia internasional. Demikian juga halnya dengan pelaporan keuangan dan standar akuntansi. Salah satu karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi adalah dapat diperbandingkan (comparability), termasuk di dalamnya juga informasi akuntansi internasional yang juga harus dapat diperbandingkan mengingat pentingnya hal ini di dunia perdagangan dan investasi internasional. Dalam hal ingin diperoleh fullcomparability yang berlaku luas secara internasional, diperlukan standardisasi standar akuntansi internasional. Di sisi lain, adanya faktor-faktor tertentu yang khusus di suatu negara,membuat masih diperlukannya standar akuntansi nasional yang berlaku di Negara tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam tampilan pembandingan standar akuntansi keuangan di Indonesia dan Amerika Serikat di muka.

Dalam Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia terdapat Akuntansi untuk Perkoperasian yang belum tentu dibutuhkan di Amerika Serikat. Berdasarkan hal ini, kecil kemungkinan dan kurang feasible untuk membuat suatu standar akuntansi internasional yang lengkap dan komprehensif. Konsep yang ternyata lebih populer dibandingkan standardisasi untuk menjembatani berbagai macam standar akuntansi di berbagai negara adalah konsep harmonisasi. Harmonisasi standar akuntansi diartikan sebagai meminimumkan adanya perbedaan standar akuntansi di berbagai negara (Iqbal 1997:35). Harmonisasi juga bisa diartikan sebagai sekelompok negara yang menyepakati suatu standar akuntansi yang mirip, namun mengharuskan adanya pelaksanaan yang tidak mengikuti standar harus diungkapkan dan direkonsiliasi dengan standar yang disepakati bersama. Lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International Accounting Standard Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of Securities Commissions).

Pro dan Kontra Harmonisasi Standar Akuntansi Internasional

Para pendukung harmonisasi internasional mengatakan bahwa harmonisasi (bahkan standarisasi) memiliki banyak keuntungan. Sir Bryan Carsberg, mantan Sekretaris Jenderal IASC, menulis sekitar bulan September 2000 : Pendekatan yang hati-hati untuk menganalisis keinginan akan harmonisasi internasional memperlihatkan bahwa biaya dan manfaat yang diperoleh berbeda-beda dari satu kasus ke kasus yang lain. Mereka yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa Ibu mungkin merasa beruntung bahwa Inggris menjadi bahasa kedua yang sangat banyak digunakan diseluruh dunia. Namun demikian, meskipun dapat dilakukan, kita tidak dapat memperoleh kesepakatan bahwa Inggris atau bahasa umum lainnya harus digunakan untuk menggantikan 6.800 bahasa atau lebih yang sekarang ini digunakan di dunia. Kita mengakui bahwa bahasa merupakan wahana budaya yang tak tergantikan dan bahwa penghapusan budaya yang berbeda akan menyebabkan kerugian yang sangat besar dalam bidang sastra dan ekspresi budaya lainnya.

Kalangan usaha akan mengalami manfaat yang cukup besar dalam perencanaan, biaya sistem dan pelatihan, dan sebagainya dari harmonisasi. Namun kasus ini menunjukkan kepada kita kerugian harmonisasi yang lain. Perpajakan dan sistem jaminan sosial memiliki pengaruh yang kuat terhadap efisiensi ekonomi. Sistem yang berbeda memiliki pengaruh yang berbeda. Kemampuan untuk membandingkan cara kerja pendekatan yang berbeda di negara yang berbeda menyebabkan negara-negara mampu melakukan peningkatan sistem mereka masing-masing. Negara-negara saling berkompetisi dan kompetisi memaksa mereka untuk mengadopsi sistem yang efisien melalui beroperasinya semacam kekuatan pasar. Persetujuan atas sistem perpajakan yang satu akan menjadi seperti pendirian kartel dan akan menghilangkan manfaat yang akan diperoleh dari kompetisi antar negara.

Rekonsiliasi dan Pengakuan Bersama (Timbal Balik) Perbedaan Standar Akuntansi

Dua pendekatan yang diajukan sebagai solusi guna mengatasi permasalahan yang terkait dengan isi laporan keuangan lintas batas :

1.      Rekonsiliasi

2.      Pengakuan bersama ( yang disebut sebagai “imbal balik”/resiprositas)

Rekonsiliasi berbiaya lebih rendah bila dibandingkan dengan penyusunan laporan keuangan lengkap berdasarkan prinsip akuntansi yang berbeda. Namun hanya menyajikan ringkasan, bukan gambaran perusahaan yang utuh.

Pengakuan bersama terjadi apabila pihak regulator diluar negara asal menerima laporan keuangan perusahaan asing yang didasarkan pada prinsip-prinsip negara asal. Imbal balik tidak meningkatkan perbandingan laporan keuangan lintas negara dan dapat menimbulkan “lahan bermain yang tidak seimbang” yang mana memungkinkan perusahaan-perusahaan asing menerapkan standar yang tidak terlalu ketat bila dibandingkan dengan yang diterapkan terhadap perusahaan domestik. Perdebatan mengenai harmonisasi mungkin tidak akan pernah terselesaikan dengan penuh. Sebagian besar perusahaan secara sukarela mengadopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting Standards-IFRS). Dan banyak pula negara yang telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan.

Standar akuntansi internasional digunakan sebagai hasil dari :

1.      Perjanjian internasional atau politis;

2.      Kepatuhan secara sukarela (atau didorong secara profesional);

3.      Keputusan oleh badan pembuat standar akuntansi nasional.

Usaha-usaha standar internasional lain dalam bidang akuntansi pada dasarnya dilakukan secara sukarela. Standar-standar itu akan diterima atau tidak tergantung pada orang-orang yang menggunakan standar-standar akuntansi. Saat standar internasional dan standar nasional tidak sama, tidak akan jadi masalah, tetapi ketika kedua standar tersebut berbeda, standar nasional harus menjadi rujukan pertama (mempunyai keunggulan).

Organisasi Promoter Harmonisasi Standar Akuntansi Internasional

Organisasi Internasional yang Mendorong Harmonisasi dan menjadi pemain utama dalam penentuan standard akuntansi internasional dan dalam mempromosikan harmonisasi akuntansi internasional :

1.         Badan Standar Akuntasi Internatonal (IASB)

Merupakan badan pembuat standar sector swasata yang independen yang didirikan pada tahun 1973 oleh oganisasi akuntansi professional di sembilan negara dan direstrukturisasi pada tahun 2001.

2.          Komisi Uni Eropa (EU)

Tujuan EU adalah untuk mencapai integrasi pasar keuangan Eropa. Untuk mencapai tujuan ini, EC telah memperkenalkan direktif dan mengambil langkah inisiatif yang sangat besar untuk mencapai pasar tunggal.

3.         Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (IOSCO)

Organisasi ini beranggotakan sejumlah badan regulator pasar modal yang ada di lebih dari 100 negara.

4.         Federasi Internasional Akuntan (IFAC)

Merupakan organisasi tingkat dunia yang memiliki 159 organisasi anggota di 118 negara, yang mewakili lebih dari 2,5 juta orang akuntan.

5.    Kelompok Kerja Ahli Antarpemerintah Perserikatan Bangsa-bangsa atas Standar Internasional Akuntansi dan Pelaporan (ISAR)

Merupakan satu-satunya kelompok kerja antar pemerintah yang membahas akuntansi dan audit pada tingkat perusahaan.

6.      Kelompok Kerja dalam Stnadar Akuntansi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (EOCD)

Merupakan organisasi internasional negara-negara industry maju yang berorientasi ekonomi pasar.

Pendekatan Baru Uni Eropa Dalam Intergrasi Pasar Uang Eropa

Salah satu tujuan EU adalah untuk mencapai integrasi pasar keuangan Eropa. Untuk mencapai tujuan ini, EC telah memperkenalkan direktif dan mengambil langkah inisiatif yang sangat besar untuk mencapai pasar tunggal. Direktif Keempat dan Ketujuh memiliki pengaruh yang dramatis terhadap pelaporan keuangan di seluruh EU, yaitu membawa akuntansi di seluruh negara anggota EU ke tahap penyeragaman yang baik dan relatif memadai. Direktif ini mengharmonisasikan penyajian akan rugi dan laba (laporan laba rugi) serta neraca dan menambah informasi tambahan minimum dalam catatan, secara khusus pengungkapan pengaruh aturan pajak atas hasil yang dilaporkan.

Komisi mengumumkan bahwa EU perlu untuk bergerak secara tepat dengan maksud untuk memberikan sinyal yang jelas bahwa perusahaan yang sedang berupaya untuk melakukan pencatatan di Amerika Serikat dan pasar-pasar dunia lainnya akan tetap dapat bertahan dalam kerangka dasar akuntansi EU. EC juga menekankan agar EU memperkuat komitmennya terhadap proses penentuan standar internasional, yang menawarkan solusi paling efisien dan cepat untuk masalah-masalah yang dihadapi perusahaan yang beroperasi dalam skala internasional. Pada tahun 2000, EC mengadopsi strategi pelaporan keuangan yang baru. Hal yang menarik dari strategi ini adalah usulan aturan bahwa seluruh perusahaan EU yang tercatat dalam pasar teregulasi, termasuk bank, perusahaan asuransi dan SME (perusahaan berukuran kecil dan menengah), menyusun akun-akun konsolidais sesuai dengan IFRS.

Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (IOSCO)

Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal (International Organization of Securities Commissions – IOSCO) beranggotakan sejumlah badan regulator pasar modal yang ada di lebih dari 100 negara. Menurut bagian pembukaan anggaran IOSCO:

Otoritas pasar modal memutuskan untuk bekerja bersama-sama dalam memastikan pengaturan pasar yang lebih baik, baik pada tingkat domestik maupun internasional, untuk mempertahankan pasar yang adil, efisien dan sehat

a.       Saling menukarkan informasi berdasarkan pengalaman masing-masing untuk mendorong perkembangan pasar domestic

b.      Menyatukan upaya-upaya untuk membuat standar dan pengawasan efektif terhadap transaksi surat berharga internasional.

c.       Memberikan bantuan secara bersama-sama untuk memastikan integritas pasar melalui penerapan standar yang ketat dan penegakan yang efektif terhadap pelanggaran.

Sebuah komite teknis IOSCO memusatkan perhatian pada pengungkapan dan akuntansi multinasional. Tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi proses yang dapat digunakan para penerbit saham kelas dunia untuk memperoleh modal dengan cara yang paling efektif dan efisien pada seluruh pasar modal yang terdapat permintaan investor.

Ringkasan Standar Pengungkapan Internasional untuk Penawaran Lintas Batas dan Penawaran Perdana oleh Perusahaan Penerbit Luar Negeri (Diterbitkan oleh Organisasi Internasional Komisi Pasar Modal, 1998)

1.      Identitas Direktur, Manajemen Senior, dan Penasihat serta Pernyataan Tanggung jawab

Standar ini mengidentifikasikan perwakilan perusahaan dan orang-orang yang terlibat dalam pencatatan saham perusahaan atau pendaftarannya dan menunjukkan orang yang bertanggung jawab. Definisi orang yang dibahas dalam standar ini mungkin berbeda di masing-masing negara dan ditentukan berdasarkan hukum negara asal.

2.      Menawarkan Statistik dan Perkiraan Jadwal

Standar ini memberikan informasi utama mengenai cara melakukan penawaran dan identifikasi tanggal-tanggal penting yang terkait dengan penawaran. Perlu dipahami bahwa pencatatan tidak selalu melibatkan penawaran.

3.         Informasi Utama

Standar ini meringkas informasi utama mengenai kondisi keuangan, kapitalisasi, dan faktor-faktor risiko perusahaan.

4.         Informasi Mengenai Perusahaan

        Standar ini memberikan informasi mengenai operasi usaha perusahaan, produk yang dihasilkan atau jasa yang diberikan dan faktor-faktor yang mempengaruhi usahanya tersebut.

5.        Evaluasi serta Prospek Operasi dan Keuangan

Standar ini menyediakan penjelasan manajemen mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan, dan analisis manajemen mengenai faktor dan tren yang diperkirakan memiliki dampak yang material terhadap kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan di masa mendatang. Di beberapa negara, ramalan dan laporan mengenai prospek perusahaan untuk tahun berjalan dan atau periode lain di masa depan mungkin diwajibkan.

6.         Direktur dan Manajemen

Standar ini memberikan informasi yang menyangkut direktur dan manajer perusahaan yang memungkinkan investor untuk memeriksa pengalaman, kualifikasi dan tingkat kompensasi orang-orang serta hubungan mereka dengan perusahaan. Definisi orang yang dibahas dalam standar pengungkapan ini dapat berbeda di masing-masing negara dan akan ditentukan oleh hukum negara asal. Informasi yang menyangkut karyawan perusahaan juga diwajibkan.

7.         Pemegang Saham Utama dan Transaksi Pihak Istimewa

Standar ini memberikan informasi mengenai pemegang saham utama dan pihak lain yang mengendalikan atau mungkin mengendalikan perusahaan. Standar ini juga memberikan informasi mengenai transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perusahaan dengan pihak-pihak yang berafiliasi dengan perusahaan dan apakah persyaratan transaksi tersebut telah wajar bagi perusahaan.

8.         Informasi Keuangan

Standar ini menjelaskan laporan keuangan manakah yang harus dimasukkan ke dalam dokumen, beserta periode yang tercakup, lamanya laporan keuangan dan informasi lain yang bersifat keuangan. Negara di mana suatu perusahaan melakukan pencatatan (atau sedang mendafar diri untuk melakukan pencatatan) akan menentukan struktur komprehensif prinsip-prinsip akuntansi dan audit yang akan diterima untuk digunakan dalam penyusunan dan audit laporan keuangan.

9.         Penawaran

Standar ini memberikan informasi mengenai penawaran surat berharga, rencana distribusi surat berharganya dan masalah-masalah terkait.

10.     Informasi Tambahan

Standar ini memberikan informasi yang kebanyakan bersifat wajib, yang tidak tercakup dalam dokumen yang ada.

Sumber :

1. Karim, R.A.A., 1990, Standar Setting for the Financial Reporting of Religious Business Organisations: The Cases of Islamic Bank”, Accounting and Business Research, Vol. 20, No. 80, pp. 299-305

2. Karim, R.A.A., 1995, “The Nature and Rationale of a Conceptual Framework for Financial Reporting by IslamicBanks”, Accounting and Business Research, Vol. 25, No. 100, pp 299-305

3. Turner, J.N., 1983, “International Harmonisation: a Professional Goal”,Journal of Accountancy, January, pp. 58-59

4. Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 1, No.2, Nopember 1999: 144 – 161

5.http://www.google.com/urlsa=t&rct=j&q=harmonisasi%20akuntansi%20internasional&source=web&cd=5&sqi=2&ved=0CEoQFjAE&url=http%3A%2F%2Fk.mercubuana.ac.id%2Ffiles%2F320269474219208394.doc&ei=2oqdUcruNcfYrQeylYHoBA&usg=AFQjCNFkebWhfnzv4WqWbe1Tr2n0lGZSVw&bvm=bv.46865395,d.bmk&cad=rja

6.http://nunung-nur.blogspot.com/2011/05/harmonisasi-akuntansi-internasional.html

RSS Berita Gunadarma

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.