Lovelycimutz's Blog

Dampak dan Upaya Penanganan Banjir

Posted on: Oktober 12, 2011

Banjir yang terjadi belakangan ini sudah merupakan hal yang tiap waktu terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Seperti banjir di Ibu Kota Jakarta yang tiap tahun terjadi ketika musim penghujan tiba, khususnya di bulan Januari sampai bulan Februari. Masih hangat dalam ingatan kita kejadian banjir besar pada tahun 2002 yang menenggelamkan 40 % wilayah Jakarta dan tahun 2007 yang menenggelamkan 60 persen wilayahnya. Hujan yang turun di wilayah Jabodetabek serta di wilayah hulu (misalnya daerah Cibodas) dengan curah yang tinggi sejak 1 Februari 2007 selama tiga hari berturut–turut, bahkan berlanjut hingga satu minggu, telah menyebabkan bencana banjir yang melanda sebagian besar wilayah Jabodetabek.
Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian banjir terlihat adanya peningkatan yang cukup berarti. Selain kejadian ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan menghambat roda perekonomian juga terganggunya kelancaran transportasi maupun aktivitas masyarakat, antara lain kegiatan belajar-mengajar dan bekerja. Menjadi suatu pertanyaan bagi kita bagaimana bencana banjir tersebut terjadi apa penyebabnya, apakah karena manusia atau karena alam.
Sebenarnya banjir merupakan peristiwa yang alami pada daerah dataran banjir, mengapa bisa dikatakan alamiah? Karena dataran banjir terbentuk akibat dari perisiwa banjir. Dataran banjir merupakan daerah yang terbentuk akibat dari sedimentasi (pengendapan) banjir. Saat banjir terjadi, tidak hanya air yang di bawa tapi juga tanah-tanah yang berasal dari hilir aliran sungai. Dataran banjir biasanya terbentuk di daerah pertenuan-pertemuan sungai. Akibat dari peristiwa sedimentasi ini, dataran banjir merupakan daerah yang subur bagi pertanian, mempunyai air tanah yang dangkal sehingga cocok sekali bagi pemukiman dan perkotaan.
Ini faktor penyebab yang alami, sedangkan faktor penyebab yang tidak alami atau akibat dari perubahan ada dua faktor. Pertama itu perubahan lingkungan yang didalamnya ada perubahan iklim, perubahan geomorfologi, perubahan geologi dan perubahan tata ruang. Dan kedua adalah perubahan dari masyarakat itu sendiri.

Banjir adalah suatu kejadian dimana air menggenangi suatu daerah, baik volume air yang sedikit maupun sangat banyak. Bahkan suatu daerah dapat menghilang akibat terjadi banjir. Menurut SK SNI M-18-1989-F (1989) dalam http://www.mbojo.wordpress.com, banjir adalah aliran yang relatif tinggi, dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran. Menurut ahli hidrologi banjir-banjir di Indonesia dibagi menjadi 3 jenis:
1. Akibat dari peluapan sungai, biasanya terjadi akibat dari sungai tidak mampu lagi menampung aliran air yang ada disungai itu akibat debit airnya sudah melebihi kapasitas. Akibatnya air itu akan meluap keluar dari sungai dan biasanya merupakan daerah dataran banjir. Bila curah hujan tinggi dan sistem DAS dari sungai tersebut rusak, maka luapan airnya akan terjadi di hilir sungai.
2. Banjir lokal. Banjir ini merupakan banjir yang terjadi akibat air yang berlebihan di tempat tersebut. Pada saat curah hujan tinggi dilokasi setempat dimana kondisi tanah dilokasi tersebut sulit dalam melakukan penyerapan air, maka kemungkinan terjadinya banjir lokal akan sangat tinggi sekali.
3. Banjir akibat pasang surut air laut. Saat air pasang, ketinggian permukaan air laut akan meningkat, otomatis aliran air di bagian muara sungai akan lebih lambat dibandingkan pada saat laut surut. Selain melambat, bila aliran air sungai sudah melebihi kapasitasnya (ditempat yang datar atau cekungan) maka air tersebut akan menyebar ke segala arah dan terjadilah banjir.

Berdasarkan pantauan UNESCO (2007) besarnya banjir dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
• Jumlah air (hujan), luas daerah, dan periode waktu terjadinya hujan.
Di daerah tangkapan hujan yang relatif kecil, hujan singkat tetapi deras telah dapat meningkatkan risiko banjir. Sedangkan di daerah tangkapan hujan yang relatif besar, risiko banjir lebih rendah. Risiko banjir dapat meningkat apabila hujan tersebut turun dalam periode waktu yang cukup lama. Namun hujan yang sangat deras atau sangat lama tidak selalu menyebabkan banjir karena sebagian air hujan mungkin menguap, terserap ke dalam tanah, atau mengalir di atas tanah.
• Kemampuan tanah untuk menahan air.
Hujan yang jatuh di atas tanah dapat diserap dan mengalir di dalam tanah melalui lapisan-lapisan tanah sampai ke kedalaman tertentu di mana tanah akan dipenuhi oleh air tanah (muka air tanah). Selain itu, air hujan juga dapat diserap oleh tumbuhan dan mengembalikannya ke udara dalam bentuk uap air. Proses ini disebut proses transpirasi.

Empat puluh persen dari wilayah Jakarta terutama di sisi utara berada lebih rendah dari permukaan air laut saat pasang tinggi dan terdapat 13 sungai mengalir melalui kota Jakarta. Jakarta menjadi daerah rawan banjir selama musim hujan, terutama saat hujan turun deras yang dapat menyebabkan air sungai melimpah. Resiko banjir menjadi sangat tinggi ketika hujan deras bertepatan dengan tingginya air pasang di laut. Namun selain daripada itu, terdapat alasan lain yang disebabkan oleh kegiatan manusia yang memperbesar kemungkinan atau memperparah terjadinya banjir di Jakarta:
• Pembangunan perumahan dan komersil di sekitar bantaran sungai menyebabkan aliran sungai dan kanal terhambat misalnya oleh bangunan-bangunan seperti jembatan atau pipa;
• Cara pengangkutan dan pengelolaan sampah yang kurang tepat, dan kebiasaan orang membuang sampah sembarangan menyebabkan penimbunan sampah di sungai-sungai;
• Tidak tertatanya saluran drainase yang berfungsi untuk menyalurkan air hujan dan mengalirkannya keluar daerah hunian;
• Kurangnya lahan hijau untuk menyerap air hujan dan penebangan hutan di Bogor dan Puncak yang merusak daerah tangkapan hujan.

Menurut UNESCO (2007), kemungkinan terjadinya banjir di daerah perkotaan semakin besar karena :
• Dibangunnya permukiman di daerah dataran banjir dan bantaran sungai:
Bermukim terlalu dekat dengan sungai berisiko terkena banjir akibat limpahan air sungai. Oleh karena itu, sebaiknya masyarakat sebaiknya tidak membangun rumah mereka di daerah bantaran sungai untuk memberikan tempat untuk sungai untuk melimpah.
• Pembabatan tetumbuhan alami:
a) Pepohonan dan semak belukar dapat membantu memperkuat daerah bantaran sungai. Apabila tetumbuhan alami di sekitar sungai ditebang, maka tanah di sekitarnya akan lebih mudah terkikis dan terbawa air ke sungai. Tanah ini akan mengendap dan menyebabkan pendangkalan sungai. Hal ini akan mengurangi jumlah air yang dapat ditampung di dalam sungai. Air yang tadinya dapat ditampung di dalam sungai (ketika sungai masih dalam) kini berpotensi untuk membanjiri daerah di sekitar sungai.
b) Tanah yang ditumbuhi oleh tanaman dapat menyerap air dalam jumlah yang lebih banyak. Apabila semak-semak dan pohon ditebang, air hujan tidak dapat terserap ke dalam tanah sehingga dapat menggenangi lahan. Selain itu banjir dari air yang tidak terserap tadi dapat mengikis tanah yang tidak terlindungi oleh tumbuhan dan membawa sejumlah lumpur ke sungai. Jumlah air yang mengalir ke sungai semakin besar karena tidak dapat diserap oleh tumbuhan atau terserap ke dalam tanah. Air yang dapat ditampung oleh sungai berkurang karena pendangkalan, sehingga limpahan air yang keluar dari sungai semakin besar. Hal ini memperbesar kemungkinan terjadinya banjir.
• Permukaan yang dilapis (disemen, diaspal dan lain-lain)
Permukaan yang dilapis, seperti jalan atau lapangan parkir tidak dapat menyerap air hujan. Perkebunan atau hutan yang diubah menjadi jalan, lapangan parkir, atau tempat tinggal, akan kehilangan kemampuannya untuk menyerap air hujan. Ketika hujan, air yang tidak terserap akan mengalir di atas tanah akan menggenangi jalan dan dengan cepat mengalir ke daerah yang lebih rendah. Hal ini akan memperbesar kemungkinan terjadinya banjir bandang yang datang dengan tiba-tiba.
• Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya
Sampah yang dibuang ke sungai dan selokan, akan mengurangi kapasitas sungai untuk menampung air hujan. Sungai atau selokan yang tersumbat oleh sampah dapat menyebabkan air melimpah keluar. Selain itu, sampah akan mencemari air sungai dan akan menyebabkan timbulnya penyakit apabila air yang tercemar tersebut digunakan untuk makan dan minum.

Bencana banjir di DKI Jakarta pada awal tahun 2002 yang lalu memang luar biasa. Pada tanggal 1 Februari misalnya, tinggi air yang menggenangi kelima wilayah DKI Jakarta mencapai 175 – 250 cm. Dua minggu kemudian ternyata ketinggian air belum juga surut secara berarti. Di Jakarta Pusat berkisar antara 10 – 30 cm, di Jakarta Utara antara 20 – 160 cm, di Jakarta Barat antara 10 – 210 cm, di Jakarta Selatan antara 20 – 150 cm, dan di Jakarta Timur antara 10 – 150 cm. Survei cepat yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar responden (64%) daerahnya terendam air setinggi di atas 100 cm. Sebagian besar (79%) menyatakan bahwa genangan air terjadi selama lebih dari tujuh hari.
Banjir telah menyebabkan terjadinya pengungsian masyarakat secara besar-besaran. Berdasarkan catatan Badan Litbangkes jumlah pengungsi sebanyak 381.296 orang. Memang, jumlah pengungsi ini berangsurangsur menyusut seiring dengan menyusutnya genangan air. Banjir telah pula mengakibatkan banyak kerugian, baik material maupun jiwa. Sebanyak 300.000 jiwa kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, 75 orang meninggal dunia akibat berbagai sebab. Mulai dari hanyut di sungai, tenggelam, tersengat listrik, terkena penyakit muntaber, diare, dan demam berdarah. Sedangkan kejadian banjir pada tahun 2007 sekitar 146 ribu rumah penduduk di wilayah Jabodetabek yang terganggu, dengan kondisi rusak ringan, rusak berat atau hilang karena hanyut tersapu banjir. Orang–orang yang kehilangan sanak saudara dan teman-teman, ratusan orang yang harus meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi dan ratusan orang menderita sakit karena penyakit bawaan air setelah banjir (korban jiwa 80 orang dan pengungsi 381 orang (BAPEDA DKI Jakarta, 2007).
Kerusakan fisik selain rumah masyarakat yang terjadi akibat banjir tahun 2002 antara lain sekolah, tempat peribadatan, maupun sarana umum. Jumlah bangunan sekolah yang rusak mencapai lebih dari 300 buah. Sarana ibadah yang rusak mencapai sekitar 175 buah. Perkantoran yang rusak lebih kurang 50 buah (sebagian besar Kantor Kelurahan). Sedangkan sarana kesehatan yang rusak atau terendam air mencapai sekitar 50 buah (sebagian besar Puskesmas). Kerugian material lain berupa rusaknya taman-taman, termasuk kebun-kebun bibit berikut peralatannya, yang ditaksir mencapai lebih dari Rp. 4 milyar. PDAM juga menderita kerugian secara langsung maupun tidak langsung hingga sebesar lebih dari Rp. 1 milyar. Ironisnya lagi, musibah banjir ini justru dilengkapi dengan musibah kebakaran. Kebakaran terjadi terutama di tiga tempat, yaitu di Bendungan Jago (Jakarta Pusat), di Kramat Pulo (Jakarta Pusat), dan di Kebon Pisang (Jakarta Utara). Kebakaran ini diduga akibat hubungan pendek (korsluiting) listrik.
Sesungguhnya masih banyak kerugian yang diderita masyarakat Jakarta dengan terjadinya banjir besar awal tahun 2002 dan tahun 2007. Kerugian yang tidak kasat mata tetapi terasakan adalah tekanan jiwa akibat berhari-hari berada dalam keadaan tidak menentu. Sedangkan kerugian yang selanjutnya menjadi urusan para petugas kesehatan adalah meningkatnya masalah kesehatan masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan pada saat dan pasca banjir, Yayasan IDEP (2007) menjabarkan dampak kesehatan yang terjadi di masyarakat, antara lain :
1. Ancaman wabah penyakit setelah banjir – Pada saat dan sesudah banjir, ada beberapa tempat yang bisa menyebabkan tersebarnya penyakit menular, seperti: tempat pembuangan limbah dan tempat sampah yang terbuka, sistem pengairan yang tercemar dan sistem kebersihan yang tidak baik. Bakteri bisa tersebar melalui air yang digunakan masyarakat, baik air PAM maupun airsumur yang telah tercemar oleh air banjir. Air banjir membawa banyak bakteri, virus, parasit dan bibit penyakit lainnya, termasuk juga unsur-unsur kimia yang berbahaya.
2. Penyakit Diare – diare mempunyai masa pertumbuhan antara 1 – 7 hari. Ikuti petunjuk-petunjuk kebersihan di bawah ini untuk menghindari risiko terjangkit Diare. Orang yang terjangkit penyakit ini harus mendapatkan perawatan khusus karena apabila dibiarkan terlalu lama bisa terancam, khususnya pada orang tua dan anak-anak.
3. Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk – banjir bisa meningkatkan perkembangbiakan nyamuk secara luas. Bibit-bibit penyakit yang dibawa oleh serangga ini termasuk Demam Berdarah, Malaria, dan lain-lain. Untuk mencegah sebuah tempat menjadi sarang nyamuk, kosongkan air yang tergenang dan tutup tempat-tempat air yang terbuka.
4. Unsur-unsur Kimia seperti pestisida, pupuk kimia dan unsur-unsur dengan bahan dasar minyak bisa mencemari sumber air dan membawa risiko.

Banjir tidak dapat sepenuhnya dihindari, namun masyarakat dapat mengurangi kemungkinan terjadinya banjir dan mengurangi dampaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti :
• Membersihkan selokan, got dan sungai dari sampah dan pasir, sehingga dapat mengalirkan air keluar dari daerah perumahan dengan maksimal.
• Membuat sistem dan tempat pembuangan sampah yang efektif untuk mencegah dibuangnya sampah ke sungai atau selokan.
• Menambahkan katup pengaturan, drain, atau saluran by-pass untuk mengalirkan air keluar dari perumahan. Memperkokoh bantaran sungai dengan menanam pohon dan semak belukar, dan membuat bidang resapan di halaman rumah yang terhubung dengan saluran drainase.
• Memindahkan rumah, bangunan dan konstruksi lainnya dari dataran banjir sehingga daerah tersebut dapat dimanfaatkan oleh sungai untuk mengalirkan air yang tidak dapat ditampung dalam badan sungai saat hujan.
• Penghutanan kembali daerah tangkapan hujan sehingga air hujan dapat diserap oleh pepohonan dan semak belukar.
• Membuat daerah hijau untuk menyerap air ke dalam tanah.
• Melakukan koordinasi dengan wilayah-wilayah lain dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan-tindakan untuk menghindari banjir yang dapat juga berguna bagi masyarakat di daerah lain.

Penanganan ketika banjir adalah semua tindakan yang harus segera dilakukan untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi harta benda ketika banjir terjadi. Dalam tindakan darurat, waktu adalah faktor yang sangat penting karena waktu dapat menentukan berapa nyawa manusia atau harta benda yang dapat diselamatkan. Perencanaan yang hati-hati sebelum banjir terjadi adalah tindakan awal yang sangat penting untuk penanganan banjir pada waktu yang tepat dan efektif.

Penanganan terhadap banjir dan tindakan pengungsian terdiri dari:
1. Badan koordinasi yang baik
• Mengatur komunikasi, koordinasi dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait (anggota masyarakat, institusi pemerintahan seperti kelurahan, organisasi-organisasi lain dari luar masyarakat yang mau memberikan bantuan) untuk menyatukan kemampuan, peralatan, pengetahuan, dan lain-lain.
• Mengumpulkan dan menyediakan data tentang dampak banjir dan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan bantuan dari luar masyarakat.
• Mengumpulkan informasi dan data bagi masyarakat seperti daftar orang terluka dan hilang.
2. Pencarian dan penyelamatan
Anggota tim pencarian dan penyelamatan meninggalkan rumah dan keluarga mereka etika banjir dan mampu mengambil risiko bahwa mereka akan meninggalkan keluarga mereka ang terkena dampak banjir. Oleh karena itu, anggota keluarga dari tim tersebut harus terlatih. Selain itu, sebaiknya ada seseorang yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka ketika banjir, misalnya tetangga mereka. Agar tidak membahayakan hidupnya sendiri, anggota tim harus terlatih dengan baik (renang, berperahu, kesehatan, dan lain-lain) dan melakukan simulasi secara terus menerus sebelum atau pada awal musim hujan agar mereka dapat melakukan tindakan yang tepat di saat yang tepat ketika banjir.
3. Pendataan dan tersedianya makanan darurat, tempat pengungsian, tenaga medis, dan lain – lain
Pada banjir besar yang memakan waktu yang cukup lama, kebutuhan dari setiap keluarga harus didata dan dipenuhi secara realistis. Bahan-bahan yang disediakan oleh pemerintah dan sumbangan LSM atau institusi yang menawarkan bantuan lainnya sebaiknya dibagi secara adil berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pembagian sebaiknya didasarkan pada kepentingan dan tingkat ekonomi dari anggota masyarakat. Pembagian ini sebaiknya diawasi secara terus menerus oleh lembaga pemerintahan lokal. Masyarakat yang bersikeras untuk tinggal di rumahnya harus mencari alternatif sendiri untuk memperoleh makanan. Hal ini harus terlebih dahulu disepakati bersama. Selama banjir dan bencana lainnya, di mana orang-orang meninggalkan rumah dan harta benda mereka, ada risiko terjadinya penghancuran dan perampokan. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun sebuah kelompok sukarelawan yang berasal dari anggota masyarakat untuk menjaga daerah permukiman setelah masyarakat mengungsi.
4. Melindungi daerah pemukiman
Selama banjir dan bencana lainnya, di mana orang-orang meninggalkan rumah dan harta benda mereka, ada risiko terjadinya penghancuran dan perampokan. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun sebuah kelompok sukarelawan yang berasal dari anggota masyarakat untuk menjaga daerah permukiman setelah masyarakat mengungsi.
5. Mengungsi
Prioritas utama harus diberi kepada kelompok rentan (ibu hamil, anak-anak dan manula). Peta kerentanan dan kemampuan sangat membantu untuk menandai lokasi kelompok ini ini. Peta tersebut juga membantu untuk mengetahui rute pengungsian paling dekat dan paling aman.

sumber : http://baimsangadji.blogspot.com/2010/03/dampak-dan-upaya-penanggulangan-banjir.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS Berita Gunadarma

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: